Yusril, Si Anak Kolong Jadi Seniman Teater (2)

1171
1
Share:

Pada tanggal 31 Oktober 1997, bertepatan dengan Ulang Tahun INS Kayutanam ke 71. Yusril bersama beberapa siswa dan alumni membentuk sebuah komunitas teater independen dengan nama komunitas seni Hitam-Putih. Kata Hitam-Putih pada dasarnya diambil dari warna seragam sekolah SMU Plus INS Kayutanam dengan filosofi kelompok yaitu “keinginan untuk berjelas-jelas dan transparan”. Sebagai kelompok teater yang bergerak secara independen, komunitas seni Hitam-Putih pada awal berdirinya pernah di undang untuk mementaskan pertunjukan Hamba-Hamba karya Prel T, sutradara Yusril di Taman Budaya Bengkulu (1998), dan Menunggu sutradara Yusril di Taman Budaya Jambi (1998).

Akhir tahun 1998, Yusril hijrah ke Padangpanjang karena berhenti menjadi Pembina Teater Plus dan Direktur Kerohanian SMU Plus INS Kayutanam.  Dengan beberapa alumni SMU Plus INS Kayutanam yang kebetulan juga menjadi mahasiwa PMDK di Jurusan Teater ASKI Padangpanjang (sekarang ISI Padangpanjang), akhirnya Yusril bersama mereka menjadikan komunitas seni Hitam-Putih sebagai kendaraan kreatif mereka. Keputusan untuk hijrah ke Padangpajang, akhirnya Yusril memiliki kesempatan untuk bersinggungan dengan berbagai disiplin seni yang lain di luar teater seperti musik dan tari. Di Padangpanjang, komunitas seni Hitam-Putih menjadi sebuah kelompok yang cukup diperhitungkan dalam percaturan teater Sumatera Barat setelah Bumi Teater.

Eksplorasi terhadap tubuh aktor, material artistik (sett-properti) menjadi prioritas utama dalam setiap garapan Yusril di komunitas seni Hitam-Putih. Proses kreatif Yusril ini di dalam menjadikan eksplorasi tubuh aktor dan material artistik (sett-properti) di dalam mencipta metafora peristiwa di atas panggung pada dasarnya merupakan pilihan estetik dan artsitik teater Yusril yang tidak bertolak pada teks naskah drama. Hal ini dapat dilihat dari beberapa karya Yusril yang dominan bertolak pada eksplorasi tubuh aktor dan material artistik (sett-properti), seperti Menunggu (1997-2000), Kado (1998), Plasenta (1999), Embrio (1999), Kronis (2000), Pintu (2002) dan Tangga (2007-2013), Pagar (2013), Under The Volcano (2014-2016), Rumah Dalam Diri (2016), Kamar Mandi Kita (2017).

Seni: dalam Perspektif Yusril

Dalam berkesenian, pada dasarnya Yusril melihat ada kebebasan berekspresi tanpa batas dan itu berbeda dari pola militeristis yang pernah ditanamkan oleh bapaknya yang berprofesi sebagai tentara. Namun, yang bisa diambilnya adalah persoalan disiplin berkesenian yang justru seharusnya melebihi disiplin seorang tentara.

Memori-memori masa kecil dan persinggungan Yusril dengan dunia kesenian ketika remaja dan di bangku perkuliahan menjadi modal utama bagi Yusril dalam menjalani kesenian secara serius.

Seni atau kesenian dalam perspektif Yusril merupakan sebuah usaha untuk memahami persoalan kemanusiaan itu sendiri. Seni pada dasarnya merupakan sebuah relasi kongkrit antara manusia dengan lingkungan sekitarnya, sehingga kesenian merupakan cermin dari kehidupan manusia itu sendiri.

Teater: dalam Perspektif Yusril

Sama halnya dengan pandangan Yusril tentang kesenian, teater juga memiliki cara pandang yang sama yaitu usaha untuk memahami persoalan kemanusiaan (wawancara dengan Yusril). Persoalan Kemanusiaan ini banyak sekali pemahamannya, artinya bukan hubungan tentang manusia saja, tetapi bagaimana manusia dengan lingkungan sosialnya, lingkungan kebudayaannya, lingkungan agama, serta hukum dan politik, ekonomi, yang berada di lingkungan masyarakat itu sendiri.

Membicarakan tentang teater, pada dasarnya membicarakan sesuatu yang kompleks, membicarakan sesuatu yang sebenarnya selalu bergerak setiap hari. Sesuatu yang bergerak setiap hari itu tentu mengalami perubahan-perubahan. Perubahan itu bisa bersifat kemunduran, juga perubahan itu bisa bersifat kemajuan. Yusril menegaskan bahwa apabila kita membicarakan teater, berarti kita membahas tentang perputaran roda waktu kehidupan manusia yang cenderung selalu berubah, dan bagaimana kita melihat proses perubahan ini secara estetis dan artistik.

Membicarakan teater juga bisa berangkat dari persoalan tematik maupun hal-hal yang bersifat estetik. Persoalan tematik di dalam teater pada prinsipnya cenderung tidak berubah karena tema-tema teater pasti berangkat dari persoalan sosial, psikologis, budaya, politik dan lain-lain. Namun, pembahasan secara estetis cenderung mengalami perubahan-perubahan, karena setiap karya yang dihasilkan oleh seniman cenderung tidak sama dan mengalami perubahan. Melihat teater tidak bisa dalam cara pandang yang statis, karena hal ini akan menyebabkan teater akan ditinggalkan banyak orang. Melihat teater pada dasarnya adalah keinginan untuk melihat masa depan. Bagi Yusril Karya seni itu tidak hanya bicara mengenai hari ini atau sebelumnya tetapi juga mencoba memprediksi kehidupan masa depan. Konsep pencapaian estetika didasari oleh pengalaman-pengalaman dan pengetahuan tentang teater secara baik. (Wawancara dengan Yusril).

Menurut Yusril, pertanyaan mengenai bagaimana perspektif kita tentang teater sebetulnya adalah pertanyaan yang sama juga dengan bagaimana pandangan kita tentang kehidupan ke depan. Bagi Yusril, ketika melihat kesenian dan teater artinya kita telah melihat banyak tentang berbagai aspek kehidupan tentang kemanusiaan, termasuk tentang perkembangan estetika itu sendiri.

Teater Tradisional, Modern dan Kontemporer dalam perspektif Yusril

Dalam proses penciptaan karya teater, Yusril tidak pernah memberikan pelabelan terhadap karya yang ia buat. Yusril tidak pernah menyebutkan apakah karyanya tergolong tradisional, modern maupun kontemporer. Bagi Yusril, apa yang dia lakukan adalah sebuah proses yang mengalir dan berjalan begitu saja, tanpa ada tendensi untuk memberikan penamaan terhadap karyanya. Yusril cenderung menyerahkan persoalan penamaan ini kepada kritikus atau pengamat seni.

Teater tradisional dalam perspektif Yusril merupakan sebuah kearifan lokal yang harus dijaga dan dihormati. Seni harus ditempatkan pada posisinya masing-masing, begitu juga teater tradisional, walaupun pada dasarnya kesenian juga mengalami proses perubahan sesuai dengan perubahan zaman dan kebudayaaan. Teater tradisional juga mengalami proses perubahan dan perkembangan. Perubahan dan perkembangan ini lebih difokuskan pada tataran bentuk dan cara penyajian, walaupun secara esensial teater tradisional tetap memiliki pondasi yang tidak bisa dilanggar karena ia sudah memiliki pakem yang dibangun secara konvensional.

Teater tradisional yang lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat kebudayaan tidak bisa hanya dilihat secara fisik semata. Ia memiliki spirit yang menginspirasi seniman untuk terus bergerak secara dinamis, mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan, teater tradisional tidak bisa dipahami secara statis. Teater tradisional, juga meliputi berbagai bentuk aktivitas kebudayaan seperti permainan-permainan tradisional yang bisa  diangkat menjadi sebuah estetika yang baru.

Sesuatu hal yang bersifat modern, pada dasarnya sebuah istilah yang lahir dari barat. karena penamaan terhadap bentuk teater cenderung muncul dari barat, sementara di Timur apalagi di Indonesia tidak begitu peduli dengan persoalan istilah yang diberikan kepada kesenian. Seni dalam perspektif timur merupakan sebuah aktivitas budaya yang hadir sebagai media ritual dan hiburan untuk masyarakatnya. Label modern dalam kesenian barat ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, Revolusi Perancis, Inggris dan penolakan terhadap estetika era Romantik. Sehingga pada fase ini lahir sebuah genre baru dalam teater yaitu realisme. Realisme dianggap sebagai genre teater yang mewakili zaman modern tersebut.

Pada perkembangannya, realisme di dalam teater juga mengalami antitesa, karenan dianggap mewakili para kaum feodal-kapital di Eropa. Sehingga pada fase selanjutnya juga muncul kecenderungan teater modern yang lain yang juga memiliki konvensi yaitu surealisme, ekspresionisme, dan absurd.

Teater kontemporer, pada dasarnya sebuah perpaduan antara tradisional dan modern sehingga ia menjadi bentuk teater yang memiliki konteks kekinian, berangkat dari isu dan bentuk yang lebih kekinian. Kontemporer pada dasarnya sebuah proses eklektisisme terhadap berbagai proses yang sudah pernah ada. Tradisional dan modern merupakan sebuah kekayaan, atau bank inspirasi dan suatu saat bisa kita ambil atau kita panggil sesuai dengan apa yang kita butuhkan, dalam proses kreatif ia menjadi database yang itu bisa kita panggil kapan saja. Artinya, ketika kita membentuk sebuah teater yang sekarang misalnya, secara tidak langsung kita bisa memanggil memori-memori tradisional, modern yang sudah kita lewati sebelumnya. Sehingga dapat dipahami bahwa teater kontemporer hadir berdasarkan inspirasi-inspirasi sebelumnya. (Selesai)

Baca Yusril, Si Anak Kolong Jadi Seniman Teater (1)

Catatan Akhir

Tulisan ini direkonstruksi/dimutakhirkan berdasarkan Laporan Penelitian berupa Tesis (S2) dengan judul “Bahasa Tubuh Aktor sebagai Tafsir Dualisme Kekuasaan di Minangkabau dalam Pertunjukan Teater Tangga, Sutradara Yusril, Produksi komunitas seni HITAM-PUTIH Sumatera Barat” oleh Afrizal Harun.

Oleh: Afrizal Harun

Director, Actor and Stage Manager at komunitas seni HITAM-PUTIH Sumatera Barat-Indonesia, Department of Theatre ISI Padangpanjang, Alumni INS Kayutanam

Share:

1 comment

  1. Yusril, Si Anak Kolong Jadi Seniman Teater (1) > BIOGRAFLY 28 November, 2017 at 13:12 Reply

    […] Kehadiran Teater Plus SMU Plus INS Kayutanam meruapakan sebuah kelompok teater siswa yang mampu memberi warna dalam percaturan teater Indonesia ketika itu, khususnya di Sumatera Barat. Disamping Teater Plus, Yusril juga pernah berkolaborasi dengan Komunitas Seni Intro Payakumbuh dalam garapan Ranting-Ranting Kering (1997) yang juga memiliki basis pada bahasa tubuh aktor. (Bersambung) […]

Tinggalkan Balasan