Yusril, Si Anak Kolong Jadi Seniman Teater (1)

1240
1
Share:

Namanya singkat, Yusril, tapi ia akrab disapa Katil. Yusril, salah seorang tokoh seni teater kontemporer Indonesia yang berasal dari Padangpanjang, Sumatera Barat. Disamping sebagai seniman teater, Yusril juga mengajar di Program Studi Seni Teater ISI Padangpanjang. Ia menyelesaikan Studi Doktoral (S3) Penciptaan Seni Teater di  Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 2016 dengan judul karya Rumah Dalam Diri.

Sebagai seniman teater, Yusril telah melahirkan beberapa karya teater yang pernah ditampilkan dalam skala nasional, maupun internasional. Diantara sekian banyak karyanya, beberapa judul karya Yusril antara lain adalah Menunggu, pernah dipentaskan dalam Temu Teater Indonesia di Pekanbaru pada tahun 1997, Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di INS kayutanam pada tahun 1997, Teater Utan Kayu, dan Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2000.

Kemudian Karya Tangga, karya teater ini pertama kali mendapatkan Hibah Seni (Inovatif) Yayasan Kelola tahun 2007, dipentaskan di Taman Budaya Sumatera Barat. Ditahun yang sama, juga ditampilkan dalam Festival Kesenian Indonesia (FKI) V di ISI Denpasar. Tahun 2012, mendapat Hibah Seni (Keliling) Yayasan Kelola di tiga tempat penampilan yaitu Taman Budaya Sumatera Barat, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, dan Gedung Sunan Ambu STSI Bandung (sekarang ISBI Bandung).

Karya Pagar merupakan karya teater Yusril yang mewakili Muhibah Seni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ditampilkan di Utrecht, Belanda tahun 2013; dan Under The Volcano merupakan karya Yusril kerjasama komunitas seni Hitam-Putih Sumatera Barat dengan Bumi Purnati Indonesia. Karya ini ditampilkan dalam iven Theatre Olympic 6Th di Beijing, Cina pada tahun 2014. Pada tahun 2016, kembali ditampilkan di Theatreworks Singapura.

Galanggang Si Anak Kolong

Yusril lahir di Payakumbuh pada tanggal 5 September 1967 dari pasangan Ilyas Yusuf (lahir pada tahun 1930) dan Ramani (lahir pada tahun 1942). Bapak Yusril (Ilyas Yusuf) memiliki profesi sebagai tentara, sehingga profesi yang dijalani oleh bapaknya ini menyebabkan Yusril dan beberapa saudaranya yang lain mengalami kehidupan masa kecil yang cenderung berpindah-pindah. Mereka hidup dari satu asrama ke asrama lain, di antaranya Kota Payakumbuh, Solok, dan Sawahlunto.

Yusril dibesarkan dalam tradisi keluarga militer, ia dihadapkan pada situasi disiplin dan aturan-aturan yang sedikit mengikat dan sulit untuk dilanggar. Tanpa disadari, hal itu telah melahirkan bibit-bibit kritis dalam dirinya, terutama yang berkaitan dengan militer. Setelah Ilyas Yusuf pensiun dari militer dan bekerja sebagai pengawal alat-alat berat, waktu itu disebut Polisi RCA, sebuah proyek pembangunan jalan dari Solok sampai Sungai Dareh, Sumatera Barat. Di asrama RCA, Yusril berkenalan dengan orang-orang Korea, yang juga ikut mengerjakan proyek jalan tersebut.

Di Asrama RCA, Yusril berkesempatan menonton TV, berkenalan dengan kesenian populer, dan mulai bercita-cita menjadi orang kesenian. Ia berkenalan dengan bentuk kesenian Kuda Kepang, Reog yang dipertunjukkan oleh komunitas orang Jawa di Sawahlunto. Di samping Kuda Kepang dan Reog, Yusril juga sering menyaksikan pemutaran film Layar Tancap yang diadakan oleh pemerintah daerah setempat.

Setelah Bapak dan Ibunya bercerai, Yusril bersama ibunya tinggal di sebuah Rumah Gadang di Kabupaten Limapuluh Kota, Payakumbuh. Yusril menamatkan pendidikan dasarnya di SDN 01 Payakumbuh, pada tahun 1982. Ia lalu diterima di SMPN 1 Payakumbuh. Di sinilah, ia mulai berkenalan dengan sandiwara, yang pada waktu itu selalu dipertunjukkan di hampir setiap kampung, di antaranya di Mungka, Taeh, Simalanggang, dan Payobasuang. Yusril, menamatkan pendidikan SMP pada tahun 1985.

Di bangku SMAN 1 Payakumbuh, Yusril mulai tertarik dengan puisi. Yusril memiliki kelompok diskusi tentang puisi. Kelompok ini menjadi cikal-bakal berdirinya Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Fase ini, Yusril mulai berkenalan dengan Sastra Iwan Simatupang, Budi Darma dan Danarto melalui bacaan-bacaan. Ketertarikan dengan sastra ini, membuat Yusril sering mendiskusikan karya-karya sastra, terutama Iwan Simatupang. Hingga akhirnya memutuskan untuk kuliah Sastra.

Tahun 1988, Yusril lulus dari SMA, dan mendaftar di Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) Padang. Di tempat inilah Yusril berkenalan dengan teater. Meski diskusi tentang sastra semakin intens diikutinya, namun Yusril lebih tertarik mengekspresikan diri secara visual, dan termasuk mahasiswa sastra yang tidak terlalu tertarik menulis puisi dan cerpen.

Yusril lebih tertarik ikut lomba baca puisi, dramatisasi puisi, bahkan juga break dance yang sedang digemari waktu itu. Meski begitu, ia tetap menjadi pendiri Dangau Seni Rel dan anggota Kelompok Diskusi Teraju. Ketika bersentuhan dengan dunia puisi, Yusril sering menulis puisi-puisi aneh, yang disebutnya ‘puisi pamflet’. Ia mulai membacakan puisi-puisi itu di atas bus kota, atau ruang-ruang terbuka kota Padang lainnya.

Karya-karya puisi Yusril sering terbit di koran lokal maupun nasional dan dibukukan dalam antologi puisi bersama penyair Sumatera Barat seperti Antologi Berlima di Sudut Kampus, Rumpun, Sahayun, Puisi dalam Analisis, Taraju, Sajak Kepedulian Sosial, Suara Mereka, Kuda Kuda Puisi dan Antologi Puisi Penyair Sumatera Barat. Nama-nama penyair Sumatera Barat dan Nasional yang pernah ikut dalam Antologi Yusril adalah Gus Tf, Irmansyah, Iyut Fitra, Yusrizal KW, Taufik Ismail, Sutarji Colzum Bahri, Upita Agustin, Hamid Jabbar (alm) dan Adri Sandra.

Judul-judul puisi karya Yusril yang menjadi catatan penting dalam dunia kepenyairan di Sumatera Barat seperti Membungkus Mimpi dengan Bungkus Mie Instans dan Kertas Bungkus Susu, Suatu Siang di Atas Bus Kota yang Tertutup Pintunya. Di Dapur Santi, Ketika Kita Tak Lagi Mendongeng, Rumah Berpintu Lima, Dalam Film dan Kenyataan dan lain-lain.

Ketertarikan Yusril terhadap dunia pertunjukan semakin besar setelah Ia berkenalan dengan Wisran Hadi dan ikut bergabung dalam kelompok Bumi Teater Sumatera Barat, sejak tahun 1989. Di samping aktif di kelompok Bumi Teater Sumatera Barat, Yusril juga mendirikan sebuah kelompok latihan teater dengan teman-teman sekampusnya, yang kebetulan tinggal satu kost dengan nama Teater Kamar. Yusril mulai menemukan gaya penyutradaraannya sendiri.  Pada saat yang sama, ia juga adalah Ketua Teater Sema dan Wakil Ketua Teater Langkah yang keduanya berbasis di Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) Padang.

Tahun 1993, Yusril menjadi Guru Teater di SMU Plus INS Kayutanam atas permintaan A.A. Navis, ketika itu adalah Ketua Harian Yayasan Badan Wakaf INS Kayutanam. Di tempat ini, Yusril membina sebuah kelompok yang diberi nama Teater Plus yang didirikan pada tahun 1993. Kehadiran Teater Plus ini menjadi ruang bagi proses awal penyutradaran Yusril yang intens dan serius. Teater Plus pula yang menjadi cikal bakal berdirinya komunitas seni Hitam Putih pada tanggal 31 Oktober 1997. Tahun 1997, Yusril mengakhiri karirnya di INS Kayutanam sebagai Direktur Kerohanian (1995-1997) dan Pembina Teater Plus INS Kayutanam. Ia menerima tawaran Prof. Dr. Mursal Esten untuk menjadi Dosen di Jurusan Seni Teater ASKI Padangpanjang (sekarang ISI Padangpanjang).

Perkenalan Yusril dengan Wisran Hadi

Perkenalan Yusril dengan Wisran Hadi dan Bumi Teater diawali di Fakultas Sastra Universitas Andalas (UNAND) Sumatera Barat pada tahun 1989. Di Bumi Teater, Yusril mulai belajar tentang banyak hal, terutama yang berkaitan dengan kerangka filosofis, konsep dasar dan budaya Minangkabau. Dalam pembelajarannya dengan Bumi Teater pula, Yusril berkesempatan belajar randai dan silat di sebuah kelompok Randai di Blanti, Padang selama satu setengah tahun. Bersama Bumi Teater, Yusril mendapatkan kesempatan untuk melakukan riset dan mempelajari mitos, folklore dan kesenian tradisional Minangkabau lainnya.

Sebagai sutradara yang pernah belajar teater di Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi, Yusril juga pernah terlibat sebagai aktor dalam beberapa garapan Wisran Hadi seperti Jalan Lurus (1992), Anggun Nan Tongga (1993) dan Imam Bonjol (1995). Setelah itu dalam setiap garapan Bumi Teater Yusril tidak lagi ikut terlibat sebagai aktor, tetapi sebagai stage manager.

Pada fase ini, Yusril mulai memiliki cara pandang yang berbeda terhadap gaya penyutradaraan Wisran Hadi di dalam kelompok Bumi Teater. Kecenderungan gaya penyutradaraan Wisran Hadi yang berpijak naskah drama yang ditulisnya sendiri sarat dengan kekuatan kata-kata puitik dan simbolis. Porsi dominan terhadap kata-kata ini, mengakibatkan para aktor cenderung mengucapakan dialog-dialog dengan cara yang deklamatis layaknya baca puisi. Situasi ini mengakibatkan peranan aktor menjadi aspek yang kedua dibandingkan kata-kata.

Begitu kuatnya peranan kata-kata dalam naskah Wisran Hadi mengakibatkan para aktor hanyalah menjadi kendaraan kata-kata dan benda di atas panggung.  Hampir setiap dialog yang diucapkan selalu dihantarkan kepada penonton, sehingga relasi yang dibangun aktor dalam konteks penokohan tidak begitu menjadi perhatian yang serius. Wajar apabila beberapa kritikus teater Sumatera Barat mengatakan bahwa Bumi Teater Sumatera Barat tidak pernah melahirkan para aktor.

Ketika masih di Bumi Teater, Yusril pernah mendirikan sebuah kelompok latihan teater yang diberi nama Teater Kamar bersama teman-teman kost-nya. Di Teater Kamar ini, Yusril mulai melakukan berbagai eksperimen terhadap tubuh. Eksperimen terhadap tubuh ini merupakan bentuk penolakan Yusril terhadap teks verbal naskah drama, bahkan secara ekstrim ia-pun pernah membakar naskah drama sebagai wujud dari penolakannya tersebut.

Bakat penyutradaraan Yusril diawali dengan proses Eksplorasi Amuk Kapak, adaptasi dari puisi O, Amuk Kapak karya Sutradji Colzum Bahri yang berangkat pada eksplorasi bahasa tubuh aktor. Setiap kata dalam puisi itu, coba ia transformasikan menjadi ‘kosa-gerak’ dan ‘sensasi ketubuhan’. Karya tersebut menjadi penanda awal bagi Yusril dalam menemukan ‘identitas’ berteater yang berangkat dari bahasa tubuh aktor sebagai kendaraan proses kreatif.

Yusril dan Teater Plus INS Kayutanam-Sumatera Barat

Setelah tamat di Fakultas Sastra Universitas Andalas (UNAND) pada tahun 1993, Yusril diminta oleh A.A Navis dan Wisran Hadi untuk mengajar teater di SMU Plus INS Kayutanam. Bersama Irmansyah dan Adri Sandra yang memiliki konsentrasi pada wilayah sastra (puisi dan cerpen), Yusril bersama mereka akhirnya menjadi tenaga pendidik di SMU Plus INS Kayutanam. Pada fase ini juga, Yusril dengan beberapa siswa mendirikan kelompok teater siswa dengan nama Teater Plus INS Kayutanam dan sekaligus ia menjadi pembinanya.

Kecenderungan eksplorasi dan eksperimentasi terhadap bahasa tubuh aktor yang pernah dilakukannya di Teater Kamar, kemudian ia transformasikan di INS Kayutanam. Walaupun ia masih menggunakan beberapa naskah Wisran Hadi, namun naskah tersebut kemudian mulai ia bongkar untuk kebutuhan eksplorasi tubuh yang dilakukan oleh siswa. Pada situasi ini, siswa tidak pernah bersentuhan dengan teori-teori teater secara barat. Hanya pembicaraan mengenai aktivitas teater yang dilakukan oleh sutradara teater Indonesia seperti W.S Rendra, Suyatna Anirun, Arifin C Noer, Putu Wijaya, Nano Riantiarno dan Wisran Hadi yang pernah menjadi bahan diskusi siswa ketika itu.

Bersama Siswa INS Kayutanam Yusril mulai intens mendalami proses ‘bahasa tubuh’ dalam karya-karya teaternya, seperti dalam karya Kamar  dan Orang-Orang Bawah Tanah karya Wisran Hadi (1994) yang mencoba melakukan relasi antara bahasa tubuh aktor dengan benda-benda di sekitar kamar tersebut seperti jendela, pintu, tempat tidur, dinding, tangga dan lain-lain yang dilakukan secara improvisasi. Pertunjukan Eksplorasi Sembilu Darah (1995), adaptasi dari puisi Sembilu Darah karya Marzuki Saria juga berangkat dari bahasa tubuh sebagai penanda identitas dalam karya Yusril.

Ketika menggarap karya teater dengan judul Interne dan Menunggu, wacana ‘tubuh’ sebagai penanda identitas semakin matang dan maksimal. Proses eksplorasi dan elaborasi yang dilakukan dalam waktu yang relatif panjang, mengakibatkan capaian artistik, maupun pemahaman aktor terhadap konsep dan gagasan sutradara dapat dicerna dengan baik. Bersama Teater Plus INS Kayutanam, Yusril mampu menciptakan proses berteater yang kondusif bersama siswa dan ikut dalam berbagai kegiatan teater bertaraf nasional maupun internasional seperti Jambore Teater Indonesia di Cibubur (1994) Temu Teater Indonesia di Pekanbaru (1997), Pertemuan Sastrawan Nusantara di INS Kayutanam (1997).

Kehadiran Teater Plus SMU Plus INS Kayutanam meruapakan sebuah kelompok teater siswa yang mampu memberi warna dalam percaturan teater Indonesia ketika itu, khususnya di Sumatera Barat. Disamping Teater Plus, Yusril juga pernah berkolaborasi dengan Komunitas Seni Intro Payakumbuh dalam garapan Ranting-Ranting Kering (1997) yang juga memiliki basis pada bahasa tubuh aktor. (Bersambung)

 

Oleh: Afrizal Harun

Director, Actor and Stage Manager at komunitas seni HITAM-PUTIH Sumatera Barat-Indonesia, Department of Theatre ISI Padangpanjang, Alumni INS Kayutanam

Share:

1 comment

Tinggalkan Balasan