WS Rendra, Ia Telah Pergi Tapi Selalu Kembali

1158
0
Share:

Ia telah pergi

lewat jalannya kali.

Ia telah pergi

searah dengan mentari.

Semua lelaki ninggalkan ibu

dan ia masuk serdadu.

Kemudian ia kembang di perang;

dan tertelentang. Bagi lain orang.

Itulah puisi WS Rendra, Ia Telah Pergi terdapat dalam buku puisinya Stanza dan Blues. Tapi Rendra bukan serdadu. Dan Rendra tak pernah pergi, meski ia telah meninggal pada 2009. Gagasan, kritik, dan perlawanan WS Rendra terus hidup di benak sahabat, anak didik, dan masyarakat Indonesia.

Daya hidup Si Burung Merak ini masih terasa hingga kini. Bengkel Teater Rendra masih menjadi tempat berkarya para seniman. Tak jarang, Bengkel Teater Rendra menjadi tempat berkumpul, bahkan menginap para seniman. Tentang karya teater, sebagai seorang dramawan, Bengkel Teater ia dirikan, ia lebih banyak menampilkan gerak bahasa tubuh dan improvisasi. Tapi uniknya sangat hemat dengan kata-kata, ada yang menyebut sebagai Teater Mini Kata.

Mengenai puisi, sajak Rendra banyak bicara tentang potret sosial, tentang orang-orang yang terampas haknya, dan tentang mereka yang sering terabaikan. Rendra bukan cuma seorang aktor dan penyair pemimpi belaka. Dia lebih tampak sebagai seorang yang piawai memotret realita yang ada di sekelilingnya menjadi karya sastra yang membumi. Namun kini, sesal apa yang harus kita sesali. Rendra sudah pegi menghadap Ilahi, tapi ia selalu kembali, kembali pada puisi.

Begitulah Rendra, nama aslinya Willy Brodus Surendra Broto yang kemudian berganti nama setelah masuk agama Islam menjadi Wahyu Sulaiman Rendra lahir di Solo, 7 November 1935. Sejak muda sudah menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada, dari perguruan tinggi itu pula Rendra menerima gelar Doktor Honoris Causa.

Penyair yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak” ini tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra melahirkan banyak seniman antara lain Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, ia memindahkan Bengkel Teater di Depok, Jawa Barat.

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun ’60-an dan tahun ’70-an.

Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia SMP, dan Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya.

Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya, Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan ’60-an, atau Angkatan ’70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”.

Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Mencermati karya-karya Rendra, bagaikan belajar tentang dinamika kehidupan dan laku-laku spiritualitas yang universal namun sangat dalam maknanya. Ia wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009. Mari kita serap makna pada puisi terakhirnya berikut ini:

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.

Agama adalah kemah para pengembara.

Menggema beragam doa dan puja.

Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.

(Bait terakhir Puisi WS Rendra: Gumanku, ya Allah).

 

 

(berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan