Titi Anggraini dan Demokrasi, Mau Apa Sih?

Share:

Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), didirikan pada 2004 oleh mantan anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan Panwas Daerah (Panwasda). Perludem terus aktif mengkritisi berbagai kelemahan penyelenggaraan pemilu dan kegagalan demokrasi. Sampai kini, Direktur Eksekutif Perludem adalah Titi Anggraini yang menjabat sejak 2010, dan Perludem pun terus melaju.

Siapa sih Titi Anggraini ini, dan seperti apa pengalaman dan kesannya dalam bergelut dalam soal Pemilu?

Titi Anggraini yang lahir di Palembang pada 12 Oktober 1979, sosoknya sempat viral di media karena terpilih sebagai The Democracy Ambassadors International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA) yang berbasis di Stockholm, Swedia.

Bersama Titi, beberapa tokoh-tokoh dunia yang bergerak pada isu demokrasi juga mendapatkan penghargaan yang sama. Di antarnya ada nama Kofi Annan (Former Secretary-General of the United Nations), Sergio Bitar (Former Chilean Politician, International IDEA Board of Advisers), Gareth Evans (Chancellor of the Australian National University and former Australian Foreign Minister.

Dalam wawancara di sebuah media nasional, Titi merasa yakin dan optimistis bahwa demokrasi kita sudah berada pada jalur yang benar. Menurutnya demokrasi memang tidak sempurna, pemilu sebagai instrumen demokrasi memang belum sepenuhnya melahirkan kepemimpinan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Ada ratusan kepala daerah yang terjerat masalah hukum dan mayoritas soal kasus korupsi.

Padahal, pemilu dan demokrasi baru bermakna jika menciptakan kesejahteraan rakyat. Justru di sinilah optimisme dan kesabaran harus terus dipelihara. Agar tidak pernah jenuh dan lelah berjuang mewujudkan demokrasi berkeadilan, yang menciptakan kesejahteraan. Sebab, lanjut Titi, jika kita lelah dan menjadi tak sabar, para pendukung status quo akan merampas kembali apa yang telah kita perjuangkan susah payah selama ini. Perjuangan untuk kebebasan, kesetaraan, keadilan, dan humanisme.

Mengenai mimpi besar yang ingin diwujudkannnya terkait dengan sistem pemilu dan demokrasi Indonesia, menurut Titi, tak ada sistem pemilu yang ideal bagi suatu negara. Namun, menjadikan pemilu Indonesia benar-benar bisa menjamin keadilan bagi semua pemangku kepentingan menjadi harapannya. Pemilu Indonesia bukan hanya prosedur, melainkan secara substansial menjadi perayaan bagi lahirnya pemimpin yang berpihak pada kesejahteraan dan kepentingan orang banyak.

Dalam pemikiran Titi, sistem pemilu yang kita pilih mestinya makin memperkukuh representasi dan akuntabilitas wakil rakyat pada konstituennya. Bukan sebaliknya malah memperkuat oligarki atau dominasi elite dalam rekrutmen politik. Kompetisi yang adil dan setara jadi tantangan sendiri di tengah makin dominannya peran uang pada pemilu kita. Karenanya sistem pemilu harus bisa mengeliminasi praktik curang dan transaksional, antara lain dengan pengaturan dana kampanye yang tegas dan tidak multitafsir. Pembatasan belanja kampanye peserta pemilu harus terus digulirkan. Pengawasan dan penegakan hukumnya pun harus tegas.

Pengalaman Titi, pernah bekerja untuk program pemilu pada International Foundation for Electoral System (IFES Indonesia), International Republican Institute (IRI), Democratic Reform Support Program (DRSP) RTI-USAID, Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan, Elections Program UNDP, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh Nias.

Dan penghargaan yang pernah diterima Titi: Silver Award untuk Perludem dari Open Government Partnership, Paris, 2016, Perempuan Penggerak Perubahan Change.org 2015, Anugerah Nisita Andhesti (Tokoh Perempuan Penggiat Peningkatan Keterwakilan Perempuan dalam Politik dan Legislatif), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2014,  Wisudawan Terbaik Fakultas Hukum Universitas Indonesia 2001.

Sampai kini, Titi masih terus berjuang untuk mewujudkan demokrasi yang terbaik untuk negeri ini. Terus semangat Ayuk Titi!

Share:

Tinggalkan Balasan