Tentang Musisi Pemberontak: Iwan Fals dan Galang Rambu Anarki

1378
0
Share:

Sepupu Galang, Kelly Bayu Saputra pada pukul 04.30 dini hari menemukan Galang tak bernyawa di kamarnya. Galang Rambu Anarki meninggal pada Jumat 25 April 1997. Meninggal mendadak di rumah ayahnya, Bintaro Jaya, Jakarta Selatan. Galang Rambu Anarki lahir di Jakarta, 1 Januari 1982.

Kematian Galang tentunya menjadi duka tersendiri bagi Iwan Fals. Hingga dirinya menuliskan sebuah lagu yang diberikan judul “Galang Rambu Anarki”. Semasa hidup, Galang sosok pemberontak. Ingin keluar dari jalur musik sang ayah dan tak ingin beridiri diatas nama besar ayahnya.

Bersama teman-temannya, ia bikin grup band bernama Bunga. Galang dikenal memiliki tekad yang besar. Pernah suatu ketika Galang belum bisa menyetir dan tidak memiliki SIM, tapi ingin bisa mengendarai mobil. Alhasil dia mengendarai mobil dari Jakarta ke Pulau Bali. Sikap berontak Galang suatu saat membuat Iwan sendiri kewalahan. Anak kesayangannya itu memilih keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro.

Ia memilih musik sebagai jalan hidup. Ingin menikah dan yakin bahwa dengan bermusik dapat menghidupi keluarga. Saat ia kabur dari rumah, namun akhirnya balik lagi ke rumah, Galang merasa seolah diawasi oleh Iwan Fals. Disepanjang jalan foto dan poster ayahnya ada dimana-mana, galang terasa diawasi.

Sebelum wafat, ia sempat rilis album perdana, lagu yang sangat populer pada masanya, Kasih Jangan Kau Pergi. Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik, meski demikian, musik yang di bawakan putra pertama Iwan Fals ini berbeda dengan yang telah menjadi ciri khas Iwan.

Iwan Fals, lahir bernama lahir Virgiawan Listanto, keluar ke bumi dari rahim ibunya di Jakarta, 3 September 1961. Ia legenda Indonesia. Suara musiknya tak lepas dari jeritan kaum marjinal dan suara moral untuk Indonesia. Lagu Iwan Fals hampir selalu menceritakan tentang kepedulian sosial seperti kemiskinan, pengangguran, dan berbagai protes sosial lainnya.

Mulai dari lagu Oemar Bakri (1981) yang menggambarkan pahit getirnya nasib guru, Galang Rambu Anarki (1982) yang mengkritik kenaikan harga BBM, Serdadu (1984) tentang kesejahteraan TNI, Wakil Rakyat (1987) tentang anggota dewan yang sering tidur waktu rapat, hingga Bento (1989) yang merupakan sindiran bagi pejabat negeri, selalu bernuansa sosial dan politik, dan banyak lainnya.

Zaman orde baru, ia sering diawasi oleh pemerintah. Konser-konsernya sering dicekal oleh kepolisian dengan alasan stabilitas politik. Pada bulan April 1984 Iwan Fals pernah berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lagu Demokrasi Nasi, Pola Sederhana dan Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Ya, ia musisi pemberontak pada penguasa yang semena-mena dengan rakyatnya.

Iwan juga sempat main di film Damai Kami Sepanjang Hari yang diputar pada tahun 1985. Kurang lebih sudah 20 album solo dan 12 album grup yang telah dihasilkannya. Beberapa album terakhirnya ia mengeluarkan lagu bertemakan cinta. Katanya, dengan cinta, dunia ini akan semakin sejuk dan damai.

Ia pernah dinobatkan sebagai the Living Asian Hero oleh Majalah Time Asia, 29 April 2002, bersama dengan Aung San Suu Kyi, Jackie Chan, dll.  Tapi bagaimana pun juga, ia tetap “musisi pemberontak”, begitu pula Galang. Sekian.

Share:

Tinggalkan Balasan