Susila Budhi Dharma: Olah Batin yang Mendunia

1036
0
Share:

Rifqi Hasibuan

Master Jurusan Komunikasi di Jiangxi Normal University dan S1 Jurusan Sosiologi di UGM

Husein Rofe, muslim Inggris peranakan Yahudi – Belgia itu sangat senang saat menapak bumi Nusantara. Pemuda yang menguasai 30 bahasa dunia ini membayangkan pencarian baru yang akan dilakoni. Dia sudah pelajari peta Indonesia. Sebuah tempat membayang di benaknya, yaitu pulau Lombok, tepatnya di kota Mataram.

Sebelum ke Lombok, dia singgah dulu di Jakarta. Di situlah, dia menyadari kekeliruannya. Ternyata, bumi Mataram yang dia tuju bukan di Pulau Lombok, tapi di Tanah Jawa. Literatur Mataram yang dia pelajari adalah epos lama. Pada 1951 saat dia ke Indonesia itu, tak ada lagi kerajaan Mataram. Wilayah Mataram justru tercatat di Nusa Tenggara Barat.

Rute pun dirubah ke Yogyakarta. Di sana dia menjalankan misinya, mencari guru spiritual Mataram. Saat itu, tak sedikit perkumpulan kebatinan besar di Yogyakarta. Namun, Rofe justru menemui kelompok kecil yang biasa menjalani latihan spiritual.

Kelompok itu Bernama Susila Budhi Dharma (SUBUD). Pendiri sekaligus ketua kelompoknya bernama R.M Muhammad Subuh. Tahun 1925 saat berusia 24 tahun, dia mendapat pengalaman langka. Saat bekerja di Balaikota Semarang, dia mendapati keadaan menjadi sepi. Sekejap kemudian, tubuhnya berguncang hebat, hingga dia bersujud.

“Semua itu adalah keajaiban dari Tuhan Allah,” tutur Haryono Sumohadiwidjojo, putra almarhum RM Muhamad Subuh.

Entah bagaimana keterkaitannya, setelah kejadian misterius itu dia memiliki kemampuan unik, salah satunya penyembuhan alternatif. Tiga tahun setelah kejadian, dia mulai mengajar latihan spiritual dengan ketentuan bahwa dia tak akan mempromosikannya. Dia hanya mengajar orang yang meminta dengan sungguh-sungguh.

Praktik Lokal yang Mendunia

Saat mendatangi Muhammad Subuh, Husein Rofe mengatakan bahwa dia sedang mencari guru. Guru itu harus memberi ilmu nyata, bukan teori semata. Rofe sudah banyak mengunyah teori dan falsafah, namun tidak menemukan kepuasan.

Muhammad Subuh, yang di lingkaran SUBUD biasa dipanggil “Bapak” menjawab keinginan Rofe, “aku tak memiliki ilmu, karena ilmu adalah milik Tuhan.” Rofe terus mendesak, dia sampaikan cerita-cerita yang dia dengar tentang “Bapak.”

Akhirnya, Muhammad Subuh menjawab: “aku hanya bisa mengajarmu latihan spiritual kalau kau benar-benar menginginkan.” Itulah kontak pertama Rofe dengan Muhammad Subuh, sekaligus awal dari keterlibatannya lebih jauh dengan SUBUD.

Latihan spiritual SUBUD dimulai dengan tahap pembukaan. Peserta diminta mengosongkan pikiran, yang artinya berserah diri pada yang kuasa. Sesudah itu, didampingi guru atau pelatih, dia akan mengikuti gerakan-gerakan yang muncul dari dalam dirinya.

Gerakan itu sangat beragam, ada yang menyerupai tumbuhan, binatang, atau kegiatan tertentu. Konon, itu semua adalah ekspresi jiwa peserta latihan. Paska latihan, banyak peserta merasa lebih ringan, lepas dan tenang. Para anggota SUBUD percaya, latihan itu akan membantu pembersihan jiwa.

Merasa puas dengan latihan spiritual SUBUD, Tahun 1956 Rofe mengundang Muhammad Subuh ke Inggris. Komunitas Gurdjieff, sebuah organisasi kajian spiritual psikologis menyatakan ketertarikan untuk bertemu “Bapak.”

Satu tahun di Inggris, “Bapak” memberi ceramah-ceramah dan latihan spiritual. Hasilnya mengejutkan, Gurdjieff dan 500 anggotanya sepakat mengikuti SUBUD. Mereka juga minta ijin kepada “Bapak” untuk mendirikan organisasi SUBUD di Inggris.

Tak berhenti di situ, SUBUD terus berkembang ke berbagai negara. Bukan hanya di negara-negara Eropa tapi juga di benua Afrika, Australia dan Amerika.

Saat ini, organisasi SUBUD terdapat di 84 negara dengan anggota lebih dari 20 ribu orang. Pusat organisasi SUBUD bernama International SUBUD Commite (ISC) secara rutin mengalami rolling. Mulai tahun 2010 ISC berlokasi di Australia, dan tahun 2014 pindah ke Mexico.

Suryadi Haryono, ketua SUBUD Indonesia menuturkan bahwa organisasinya dibentuk sebagai ekspresi kepekaan batin anggotanya. Awalnya, “Bapak” hanya melatih orang-orang sekitar yang membutuhkan.

Dalam perkembangannya, para peserta latihan merasa perlu mendirikan organisasi. Akhirnya, tahun 1933 didirikanlah paguyuban SUBUD, dan tahun 1947 resmi menjadi organisasi kemasyarakatan. Arti dari Susila Budhi Dharma kurang lebih adalah “Pekerti, Kekuatan dan Penyerahan Diri.”

Tujuan utama organisasi tetap memfasilitasi pelatihan spiritual anggotanya. Di luar itu, SUBUD juga bertujuan memfasilitasi kepekaan sosial anggotanya. Untuk itu, dibentuklah berbagai wing body, mencakup bidang entrepreneurship, kepemudaan, kesenian, kesehatan, dan kemanusiaan. Tak mengherankan, aktivitas keseharian SUBUD saat ini bukan melulu pelatihan spiritual. Di kantornya yang terletak di Jalan RS Fatmawati misalnya, terlihat berbagai aktivitas yang dinamis.

Dalam berbagai bencana alam, badan kemanusiaan SUBUD turun tangan. Selain itu, para anggota juga dilatih dan didukung menjadi wirausaha mandiri. Tak kalah dinamisnya, even-even pemuda maupun even kebudayaan mereka.

Menjadi Guru Bagi Diri Sendiri

“Dulu hingga sekarang, kita sering melihat orang mencari Tuhan ke mana-mana. Mereka pergi ke hutan, pantai, gunung, bahkan keliling dunia. Semua itu tidak salah. Namun, perlu dipahami bahwa Tuhan juga ada di mana-mana, termasuk dalam diri kita,” tutur Haryono Sumohadiwidjojo.

Lebih jauh, dijelaskan bahwa SUBUD bukan agama. Anggotanya sangat plural, ada yang Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, termasuk penganut kejawen dan aliran lainnya.

Almarhum Muhammad Subuh tak pernah meminta anggotanya pindah agama. Dia selalu menekankan, bahwa SUBUD adalah latihan kejiwaan untuk mengaktifkan berbagai daya manusia. Dengan latihan itu peserta bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri.

SUBUD meyakini dalam diri manusia terdapat tujuh daya, yaitu daya rewani (kebendaan), nabati (tumbuhan), hewani (binatang), jasmani (kemanusiaan), rohani (kejiwaan), rahmani (alamiah) dan daya robbani (ketuhanan). Latihan spiritual akan mengaktifkan berbagai daya tersebut guna membentuk pribadi sempurna.

Tidak perlu banyak hal untuk menjalankan latihan kejiwaan SUBUD. Tempatnya juga bisa di manapun. Yang penting, ada pendamping untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Singkat kata, semua tempat bisa menjadi media pendalaman jiwa.

Begitu juga pendalaman pribadi, bisa dilakukan di manapun. Tuhan ada di mana-mana, ada di dalam diri kita, ada di lingkungan sosial kita, di setiap bencana alam yang terjadi, dan di manapun kita berada. Maka, mengenali Tuhan bisa dimulai dari diri dan lingkungan kita. Itulah inti ajaran yang disampaikan SUBUD.

Sentuhan Batin di Tengah Modernitas

Robert J. Kyle dari jurusan arkeologi dan Anthropologi Universitas Nasional Australia mengelaborasi SUBUD dalam artikelnya Rethinking Javanese Mysticism, a Case Study of Subud Mysticism. Menurut dia, berkembangnya praktik dan organisasi SUBUD merupakan ekspresi kejiwaan masyarakat modern sendiri.

Masyarakat modern menghadapi kehidupan serba cepat, keras, dan kadang kering spiritualitas. Di sisi lain, agama sebagai pusat spiritual sering mandeg pada ritual dan rutinitas semata.

Kondisi itu mendorong masyarakat mencari alternatif pemuas batinnya. Latihan spiritual SUBUD adalah satu di antara alternatif itu. Dalam latihan, seseorang bisa mengekspresikan kondisi jiwa yang terdalam. Bahkan, mereka bisa merasa dekat dengan Tuhan.

Unsur mistis dalam pelatihan SUBUD sendiri dapat dilihat dari berbagai cara pandang. Ada yang menganggap gerakan yang muncul bersifat mistis. Ada juga yang memandang gerakan itu sebagai ekspresi kejiwaan yang bisa dijelaskan secara ilmiah.

Yang jelas, banyak anggota SUBUD merasa tercukupi kebutuhan jiwanya melalui latihan itu. Dan ternyata, sangat banyak kalangan pejabat maupun pengusaha menjadi anggota SUBUD. Ada Direktur BUMN, mantan menteri, kalangan Jenderal, dan banyak lagi yang masing-masing enggan disebut identitasnya.

Menjalani modernitas tanpa arah memang cenderung kerontang. Tak mengherankan, praktik-praktik yang kadang dibilang lampau digali kembali sebagai spiritualitas alternatif.

 

 

Share:

Tinggalkan Balasan