Sunan Kalijaga, Dakwah yang menyentuh hati

Share:

Namanya begitu harum di seantero tanah Jawa. Dipuja dan dihormati layaknya wali yang mumpuni dalam segala bidang kehidupan. Beliau yang memperkenalkan seni pertunjukkan wayang kulit kepada masyarakat Jawa tempo dulu. Sebelumnya wayang memang sudah ada namun dalam bentuk lembaran-lembaran lukisan yang ditampilkan tiap adegan, atau disebut wayang beber. Melalui kreasinya yang brilian wayang ditransfer ke dalam pertunjukkan pakeliran yang menarik dan sarat dengan pesan moral. Dialah Sunan Kalijaga, sang mahaguru tanah Jawa.

Terlahir dari orang tua seorang Bupati Tuban Wilatikta yang masih merupakan pejabat zaman Majapahit hidup Sunan Kalijaga tidak bisa dibilang enak dan bermewah-mewahan. Sunan Kalijaga yang masa kecilnya bernama Raden Syahid adalah seorang yang peduli kepada penderitaan rakyat. Hatinya pilu menyaksikan perikehidupan rakyat Majapahit yang waktu itu diambang keruntuhan pasca perang Paregreg yang berkepanjangan. Imperium besar itu tinggal menyisakan wilayah yang lemah dan pejabat yang bermental korup, jauh dari sikap peduli terhadap rakyat.

Namun apa daya, Raden Syahid tidak memegang kuasa. Sebagai putra bupati wewenangnya jelas terbatas, namun pedihnya hati tak tertahankan lagi melihat derita di depan mata. Dia mengambil langkah yang beresiko, mencuri dari orang kaya dam membagikan hasil curian kepada rakyat miskin. Ketika sang ayah memergoki kelakukannya yang tak patut itu beliau sangat marah. Beliau mengusir Raden Syahid dari kabupaten.

Berbekal hati yang luka kebiasaan Raden Syahid makin menjadi-jadi. Dia mulai merampok dan mencegat orang-orang yang lewat di jalan. Tentu saja korbannya adalah orang-orang kaya yang dia anggap sebagai tidak peduli dengan kesengsaraan orang banyak. Bagaimanapun jalan yang ditempuh Raden Sayahid adalah sesat, meski muncul dari niat mulia menolong rakyat. Dia kemudian dikenal sebagai berandal sakti yang menakutkan, berjuluk Ki Lokajaya.

Namun dalam kehidupan ini sungguh tidak ada yang disia-siakan oleh Allah Sang Pengatur kehidupan. Secercah sinar kemuliaan di hati Raden Syahid mendapat perhatian dari Sang Pemberi Hidup. Dia kirimkan seorang pembimbing agar jalan yang ditempuhnya lurus.

Suatu ketika Sunan Bonang melewati jalan yang biasa disatroni Raden Syahid. Kala itu usia Sunan Bonang sudah separuh baya, tentu bukan tandingan bagi Raden Syahid yang perkasa. Segera saja Ki Lokajaya berhasil melumpuhkan Sunan Bonang dan hendak merampas sebuah tongkat emas miliknya.  Namun yang terjadi kemudian justru Sunan Boang berhasil membuat sadar Lokajaya bahwa perbuatannya salah karena mencampurkan tujuan mulia dengah cara-cara yang kotor. Dia kemudian taubat dan berguru kepada Sunan Bonang.

Ada beberapa versi tentang bagaimana Lokajaya bertaubat, namun kali ini kita tidak akan terlalu jauh menguraikan hal itu. Hal pokok yang lebih penting untuk dicermati adalah sepak terjang Lokajaya setelah bertaubat dan bersungguh-sungguh mengamalkan ajaran agama. Kelak Lokajaya terkenal sebagai salah seorang wali yang  berhasil mengajarkan agama Islam pada masyarakat luas dan menjadi guru para bangsawan di tanah Jawa, Sunan Kalijaga.

Beliau juga terkenal dengan mobilitas dakwahnya yang sangat tinggi. Berdakwah dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Cirebon sampai ke Malaka yang sekarang menjadi negara Malaysia. Oleh karena itu pula Sunan Kalijaga juga dikenal dengan nama Syeh Melaya. Sesungguhnya apa yang menjadi rahasia sukses Sunan Kalijaga dalam berdakwah? Sebelum kita kupas lebih lanjut ada baiknya kita simak salah satu syair dalam format Dandang Gula yang sering dinisbahkan kepada beliau, Kidung Rumeksa Ing Wengi berikut ini.

Ana kidung rumekso ing wengi, teguh hayu luputa ing lara,luputa bilahi kabeh. Jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani, niwah panggawe ala, gunaning wong luput. Geni atemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing mami, guna duduk pan sirno.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Ada nyanyian yang menjaga di malam hari, kukuh selamat terbebas dari penyakit, terbebas dari semua malapetaka. Jin setan jahat pun tidak ada yang berani, segala jenis sihir tidak berani, apalagi perbuatan jahat. Guna-guna pun tersingkir, api akan menjadi air, pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku, guna-guna sakti pun lenyap.

 

Jika kita perhatikan rangkaian kalimat dalam syair di atas ada sebuah penegasan bahwa segala macam perbuatan jahat, baik dari sesama manusia maupun dari makhluk tak kasat mata takkan mempan karena ada penjagaan dari kidung atau nyanyian yang dilagukan. Jika dilihat dari konteks dituliskannya syair ini pernyataan tersebut sangat revolusioner dan mendasar. Anda bayangkan di zaman 500 tahun yang lalu ketika orang-orang masih percaya takhayul dan pengaruh buruk dari makhluk gaib, tenung dan santet, tetapi ada orang yang mengatakan bahwa semua itu takkan mempan pada manusia. Bukankah itu sebuah revolusi akidah yang fundamental.

Melalui berbagai kidung dan nyanyian yang digubah oleh Sunan Kalijaga akidah umat diluruskan secara perlahan-lahan. Memang tidak bisa langsung seketika karena jika dipakai cara itu yang muncul justru penolakan. Sunan Kalijaga sangat paham bahwa budaya masyarakat tinggi pada zaman itu adalah bersyair. Kalau kita lihat syair-syair lama dari ajaran sebelum Islam masuk pun digubah dalam format syair-syair yang indah, dinyanyikan dengan irama tertentu yang merdu dan didendangkan dalam acara-acara sebagai hiburan. Sunan Kalijaga menjawab kebutuhan umat dengan cara yang serupa, format-format lagu yang diciptakan Sunan Kalijaga digubah dalam format baru yang lebih indah dalam bentuk Macapat.

Apakah dengan demikian Sunan Kalijaga memakai cara-cara sinkretisme dalam berdakwah? Tidak benar jika dikatakan demikian. Lihatlah makna tembang Dandang Gula di atas, sangat penuh dengan nuansa tauhid yang mendudukkan supremasi manusia sholih di atas kedudukan makhluk lain dari kalangan manusia dan makhluk halus.

Dalam bait selanjutnya akan dijelaskan mengapa nyanyian tadi begitu ampuh mengusir segala marabahaya. Kami kutipkan sedikit bagian akhir dari tembang itu sebagai berikut:

Sampun pepak sakathahe para nabi, dadya sarira tunggal, (sudah lengkah seluruh ajaran para Nabi, merasuk dalam jiwa yang satu.

Melalui kidung yang dibaca berulang-ulang pada setiap kesempatan, pada berbagai acara di zaman itu akidah umat dibawa ke jalan yang benar, sesuai tuntunan para Nabi. Inilah metode dakwah Sunan Kalijaga yang simpatik dan menarik hati banyak orang Jawa waktu itu sehingga mereka bersemangat menjalankan perintah agama. Tanpa kepiawian Sunan Kalijaga dalam berdakwah entah apakah sekarang kita menikmati masyarakat yang titi tentren karta raharja seperti sekarang ini.

Wallahu a’lam.

 

Sumber rujukan:

  1. Cerita Rakyat
  2. Lelampahan Sunan Kalijaga versi Wayang Sadat.
  3. Kidung Rumeksa Ing Wengi karya Sunan Kalijaga.
  4. Gambar Gunungan Wayang Sadat koleksi pribadi.
Share:

Tinggalkan Balasan