Sepak Terjang AM Fatwa

1020
0
Share:

Ia ditangkap karena dianggap sebagai konseptor ”lembaran putih” Peristiwa Tanjung Priok 1984. Saat itu, ia tercatat sebagai Sekretaris Kelompok Kerja Petisi 50 – sebuah komunitas para oposan yang berseberangan dengan Presiden Soeharto.

Pukul 03.00 dini hari, ia dijebloskan ke dalam sel yang amat sempit dan berbau kotoran manusia. Ia hanya bisa berdiri, dan terpaksa menunaikan shalat seadanya dengan bertayamum menempelkan tangan ke dinding. Seluruhnya ia alami jauh sebelum proses pengadilan berjalan.

Saat mendekam belasan tahun dalam penjara ia mengisi waktu senggang dengan menulis. Ya menulis surat. Surat menjadi alat berkomunikasi yang ia pilih untuk terus berhubungan dengan dunia luar. Lewat surat-surat itu, ia mencoba berkorespondensi dengan berbagai kalangan, entah tokoh politik maupun birokrat.

Surat-surat tersebut mencapai  5000-an, disamping khotbah-khotbahnya di masa orde baru, ternyata cukup bermanfaat sebagai  bahan dasar penulisan buku-bukunya yang akhirnya diterbitkan. Beberapa di antaranya Dari Cipinang ke Senayan: Catatan Gerakan Reformasi dan Aktifitas Legislatif hingga ST MPR 2002;  Demi Sebuah Rejim, Demokrasi dan Keyakinan Beragama Diadili; Kampanye Partai Politik Di Kampus; dan lain-lain.

Menurutnya, penjara politik itu sebenarnya tempat mendapatkan ilmu dan pelatihan. Ia bahkan amat meyakini  kebenaran ”ajaran” Jawaharlal Nehru – mantan Perdana Menteri India yang juga sempat meringkuk d penjara – bahwa penjara politik merupakan pendidikan tertinggi di dunia.

Di dalam penjara pun ia bergaul dengan berbagai macam orang, termasuk mereka yang pernah melakukan tindak kriminal. Bergaul lintas politik, lintas ideologi dan lintas kelakuan. Hal itu pula, menurutnya, yang menjadikan sikap moderatnya makin mengental.

Singkatnya, ia berhasil meyakinkan Amien Rais untuk bergabung dalam Partai Amanat Nasional (PAN). Bersama PAN yang kemudian mengantarkannya masuk ke Gedung DPR RI, bahkan menjabat wakil ketua periode 1999-2004. Lepas itu, ia ditunjuk pula sebagai Wakil Ketua MPR RI untuk masa jabatan 2004-2009.

Seperti itulah jalan hidup yang dilakoni Andi Mappetahang Fatwa atau AM Fatwa. AM Fatwa lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 12 Februari 1939. AM Fatwa telah menjadi ikon perlawanan dan sikap kritis terhadap rezim otoriter Orde Lama dan Orde Baru. Meski berstatus narapidana bebas bersyarat (1993-1999) dan menjadi staf khusus Menteri Agama Tarmizi Taher dan Quraish Shihab, mantan Sekretaris Kelompok Kerja Petisi 50 itu bersama Amien Rais menggulirkan gerakan reformasi, hingga Presiden Soeharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998.

AM Fatwa pernah menjabat beberapa jabatan struktural dan jabatan semi official pada Pemda DKI Jakarta dan Staff Khusus Gubernur Ali Sadikin di bidang politik dan agama. Deklarator sekaligus ketua DPP PAN periode 1998-2005 ini pernah menjabat Wakil ketua DPR RI (1999-2004), Wakil Ketua MPR RI (2004-2009), Anggota DPD RI/MPR RI (2009-2014), wakil ketua MPP PAN, dan Ketua Badan Kehormatan DPD RI (2012-2014).

Pada tanggal 14 Agustus 2008 ia dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana di Istana Negara. Dan pada tanggal 29 Januari 2009 ia memperoleh Award Pejuang Anti Kezaliman dari Pemerintah Republik Islam Iran yang disampaikan oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad di Teheran bersama beberapa tokoh pejuang demokrasi dan kemerdekaan dari sembilan negara.

Kepiawaian dalam berdiplomasi membuat AM Fatwa beberapa kali dipercaya memimpin delegasi ke sejumlah negara asing, seperti memulihkan hubungan diplomatik dengan China, merintis dibukanya kedutaan RI di Tripoli Libya, serta menjadi kordinator group kerjasama bilateral parlemen RI dan Portugal.

Dari buah pikirannya telah lahir tidak kurang dari 24 buku. Atas kreatifitas dan produktifitasnya menulis buku, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberinya penghargaan sebagai anggota parlemen paling produktif menulis buku, selain penghargaan atas pledoi terpanjang yang ditulisnya di penjara masa Orde Baru.

Atas pemikiran dan pengabdiannya pada masyarakat, khususnya di bidang pendidikan luar sekolah, AM Fatwa dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 16 Juni 2009.

AM Fatwa meninggal dunia pada usia 78 tahun di Jakarta, 14 Desember 2017. Salah satu deklarator Partai Amanat Nasional itu tutup usia di Rumah Sakit MMC Jakarta. Selamat Jalan Pak Fatwa. (berbagai sumber/davika)

Share:

Tinggalkan Balasan