S.K Trimurti, Perempuan Pahlawan Buruh dan Jurnalis Tangguh

1269
0
Share:

Dia adalah salah seorang jurnalis perempuan pertama bangsa ini. Salah satu tokoh kemerdekaan yang gigih memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan hak kaum tertindas terutama perempuan. Baik melalui karya-karya jurnalistik maupun lewat pengabdian sebagai aktivis perempuan dan politik.

Dia memang tak sepopuler figur Soekarno maupun Mohammad Hatta, tapi ia sosok pemikir, pekerja dan juga ‘pendobrak’. Ia perempuan yang kuat, meski tak melulu harus berotot kawat tulang besi. Pemikiran dan pergerakannya merambah perjuangan kemerdekaan bangsa, perjuangan kaum perempuan, dan perjuangan kebebasan pers.

Dia adalah Soerastri Karma Trimurti (S.K. Trimurti) perempuan pertama, barangkali sampai sekarang, pernah menduduki kursi Menteri Perburuhan Republik Indonesia, ia Menteri Perburuhan (sekarang menteri tenaga kerja) RI pertama. Ia sosok perempuan Indonesia yang pernah bekerja sebagai Menteri Perburuhan RI pada zaman Kabinet Pemerintahan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin I (3 Juli 1947 sampai 11 November 1947) dan Kabinet Pemerintahan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin II (11 November 1947 hingga 29 Januari 1948).

Riwayat

S.K Trimurti lahir pada tanggal 11 Mei 1912 di Solo, Jawa Tengah. Ia pernah menempuh pendidikan di Noormal School dan AMS di Surakarta. Kemudian melanjutkan studinya di Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia (UI).
Trimurti aktif dalam gerakan kemerdekaan Indonesia selama tahun 1930, secara resmi bergabung dengan nasionalis Partindo (Partai Indonesia) pada tahun 1933, tak lama setelah menyelesaikan sekolahnya di Tweede Indlandsche School.

Trimurti memulai kariernya sebagai SD guru setelah meninggalkan Tweede Indlandsche School. Dia mengajar di sekolah-sekolah dasar di Bandung, Surakarta dan Banyumas pada 1930-an. Namun, dia ditangkap oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936 untuk mendistribusikan anti-kolonial leaflet s. Trimuti dipenjara selama sembilan bulan di Penjara Bulu di Semarang.

Trimurti beralih karier dari mengajar ke jurnalisme setelah dia dibebaskan dari penjara. Dia segera menjadi terkenal di kalangan jurnalistik dan anti-kolonial sebagai wartawan kritis. Trimurti sering digunakan berbeda, disingkat nama samarandari nama aslinya, seperti ‘Trimurti atau Karma’, dalam tulisan-tulisannya untuk menghindari ditangkap lagi oleh pemerintah kolonial Belanda. Selama karier laporannya, Trimurti bekerja untuk sejumlah surat kabar Indonesia termasuk Pesat, Genderang, Bedung dan Pikiran Rakyat. Dia menerbitkan Pesat bersama suaminya. Dalam era pendudukan Jepang, Pesat dilarang oleh pemerintah militer Jepang. Dia juga ditangkap dan disiksa.

Trimurti, seorang advokat terkenal hak-hak pekerja, diangkat sebagai pertama di Indonesia Menteri Tenaga Kerja di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Dia bertugas dari tahun 1947 sampai tahun 1948. Berada di Eksekutif Partai Buruh di Indonesia, dan memimpin sayap wanitanya.

Dia ikut mendirikan Gerwis, sebuah organisasi perempuan Indonesia, pada tahun 1950, yang kemudian berganti nama sebagai Gerwani. Dia meninggalkan organisasi pada tahun 1965. Dia kembali ke perguruan tinggi ketika ia berusia 41 tahun. Dia belajar ekonomi di Universitas Indonesia. Dia menolak janji untuk menjadi Menteri Sosial pada tahun 1959 dalam rangka untuk menyelesaikan gelar sarjana.

Trimurti adalah anggota dan penandatangan Petisi 50 pada tahun 1980, yang memprotes Soeharto penyalahgunaan Pancasila terhadap lawan politiknya. Para penandatangan Petisi 50 termasuk pendukung kemerdekaan Indonesia terkemuka serta pemerintah dan pejabat militer, seperti Trimurti dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.
Kematian

Pada tahun 1938 ia menikah dengan Muhammad Ibnu Sayuti,pengetik dari Deklarasi Kemerdekaan Indonesia, yang diproklamasikan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945. Trimurti banyak menghabiskan sisa hidupnya di rumah kontrakan nya di Bekasi, Jawa Barat. Dua buku karya S.K Trimurti adalah A.B.C. Perdjuangan Buruh, diterbitkan oleh Pusat Pimpinan PBI, Yogyakarta, 1948 dan Hubungan Pergerakan Buruh Indonesia dengan Pergerakan Kemerdekaan Nasional, Yayasan Idayu-Jakarta, 1975.

Trimurti meninggal pada 06:20 pada tanggal 20 Mei 2008, pada usia 96, di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) di Jakarta, Indonesia setelah dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Dia telah gagal dalam kesehatan dan terbatas ke kamarnya untuk tahun sebelumnya. Menurut anaknya, Heru Baskoro, Trimurti meninggal karena vena yang rusak. Dia juga telah menderita rendah hemoglobin level dan tekanan darah tinggi.

Sebuah upacara menghormati Trimurti sebagai “pahlawan untuk kemerdekaan Indonesia” digelar di Istana Negara di Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (berbagai rujukan)

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

Tinggalkan Balasan