Ranggawarsita, Pujangga Terakhir Yang Visioner

Share:

Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersaning Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada. (Sinom, Kalatidha).

(Mengalami jaman gila, serba sulit dalam bertindak, ikut gila tidak tahan, kalau tidak ikut gila, tidak mendapat bagian, akhirnya kelaparan, tetapi takdir Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih bahagia orang yang sadar dan waspada.)

 

Bait sinom dari serat Kalatidha yang ditulis seorang pujangga besar di atas mengambarkan suatu masyarakat yang rusak moralnya. Lebih banyak orang curang daripada yang jujur. Di pemerintahan pejabat korup mendominasi sehingga membuat orang jujur serba sulit dalam bertindak. Mau ikut-ikutan korupsi kok bertentangan dengan hati nurani. Kalau tak mau korupsi kok tidak kebagian rezeki, akhirnya hidupnya kesusahan. Namun bagi segelintir orang yang masih kuat menahan godaan, masih berpegang pada kebenaran, masih mengikuti suara hati nurani, maka berbahagialah karena segembira-gembiranya orang yang ikut arus kegilaan, masih lebih bahagia orang yang sadar dan waspada tehadap godaan.

Apa yang digambarkan syair di atas seolah menyoroti perikehidupan saat ini. Setiap hari kita disuguhi berita tentang bejatnya moral pejabat, setiap hari lembaga antirasuah melakukan operasi tangkap tangan. Dan celakanya banyak para pembesar negara yang justru mencela lembaga antirausah itu, seakan-akan mereka membela yang tertangkap. Bahkan mereka membentuk pansus untuk mengevaluasi kinerja lembaga antirasuah itu. Menangkap maling kok dicela. Agak sulit bagi kita menghindari kesan bahwa mereka sama gilanya.

Tetapi tunggu dulu, syair di atas tidak membicarakan keadaan jaman sekarang. Syair tersebut yang merupakan cuplikan Pupuh Sinom dari Serat Kalatidha ditulis oleh seorang punjangga besar Raden Ngabehi Ranggawarsita III, (lebih dikenal sebagai Ranggawarsita saja) seorang yang telah meninggal pada tahun 1873 M,  atau 144 tahun yang lalu. Siapakah dia? Marilah kita cuplik sedikit riwayat tentang beliau agar menjadi pelajaran bagi kita semua.

Terlahir dengan nama Bagus Burham pada tahun 1802 M, Ranggawarsita III adalah putra dari seorang ayah yang namanya mirip dengannya, Ranggawarsita II yang juga seorang penulis keraton. Dari jalur ayah beliau masih cicit dari pujangga terkenal RT Yasadipura I. Sejak kecil Bagus Burham mempunyai seorang pengasuh yang sangat ramah dan pandai bergaul bernama Ki Tanujaya. Dia begitu sayang sehingga mengikuti ke manapun Bagus Burham pergi.

Pada usia remaja Bagus Burhan dimasukkan ke pondok pesantrean Gebang Tinatar Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari, Ki Tanujaya pun ikut serta. Walau kelak menjadi pujangga besar jangan dikira Bagus Burham santri yang rajin, dia bahkan seorang pemalas yang suka membolos. Kegemarannya berjudi dan mempelajari klenik, dua hal yang menjadi larangan di pondok. Kyai Kasan Besari sangat jengkel dan marah dengan kelakuan Bagus Burham. Dia kemudian mengusir Bagus Burham dari pondok.

Bagus Burham dan Ki Tanujaya kemudian mengembara ke seantero Jawa Timur. Ketika mereka sampai di Madiun mereka menginap di rumah tokoh lokal Kasan Ngali. Di tempat itu mereka bertemu dengan Pangeran Cakraningrat yang sedang bertamu. Anak Pangeran Cakraningrat yang ikut serta, Rajeng Ajeng Gombak tampaknya membuat kesan di hati Bagus Burham.

Di lain tempat Kyai Kasan Besari gelisah telah mengusir Bagus Burham. Dia kemudian mengirim utusan untuk mencari. Setelah kembali ke pondok Bagus Burham dimarahi habis-habisan oleh Kyai Kasan Besari. Beliau juga memberi nasihat-nasihat yang keras hingga Bagus Burham insyaf. Inilah titik balik kesadaran Bagus Burham dalam belajar. Dia kemudian menjadi santri yang berprestasi sehingga diberi kepercayaan ikut mengelola pondok. Setelah dirasa cukup ilmunya oleh Kyai Kasan Besari Bagus Burham diserahkan kepada RT Sastranagara (lebih dikenal sebaga Yasadipura II, yang tak lain kakek Bagus Burham sendiri) untuk suwita atau ngenger. Suwita adalah tahapan awal bagi seseorang yang akan mengabdi sebagai pegawai keraton. Dalam tahap suwita ini seseorang berlaku sebagai pesuruh dalam berbagai pekerjaan kenegaraan sambil mempelajari agar kelak dapat melakukan pekerjaan secara mandiri.

Pada tahun 1815 Bagus Burham melanjutkan suwita kepada pangeran Buminata. Tampaknya sang pangeran sangat berkenan dengan Bagus Burham sehingga banyak pelajaran yang diberikan kepadanya tentang pemerintahan. Setelah cukup ilmu oleh Pangeran Buminata Bagus Burham diserahkan kepada Sunan Paku Buwana IV untuk magang sebagai abdi dalem. Itulah awal karir Bagus Burham sebagai pegawai keraton.

Karir Bagus Burham terus menanjak hingga diangkat menjadi Abdi Dalem Carik Kepatihan pada tahun 1819.  Burhan kemudian menikah dengan Rajen Ajeng Gombak, putri Bupati Kediri Pangeran Cakraningrat, gadis yang pernah dia lihat sewaktu remaja dulu. Karena kecemerlangannya karir Bagus Burham makin menanjak. Jabatan tertinggi diraih pada tahun 1847 sebagai Pujangga Dalem Surakarta Adiningrat dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Sebagai pujangga keraton tugas utama Ranggawarsita adalah menyusun dan mengembangkan kebudayaan dan kepustakaan Jawa. Dalam jabatannya Ranggawarsita banyak menelurkan puluhan karya-karya yang bermutu. Selain mumpuni dalam bidang susastra Jawa Ranggawarsita juga seorang cendekiawan yang tidak “kuper”. Salah satu bukti adalah beliau bersahabat dan bekerja sama dengan seorang cendekiawan dan pakar bahasa dari Belanda C.F. Winter. Kolaborasi mereka menghasilkan sebuah kamus Kawi-Jawa, Kawi-Javaansche Woodenboek. Karya itu telah diterbitkan ulang oleh Gama Press, dengan judul Kamus Kawi-Jawa. Ranggawarsita juga mendapat tawaran untuk menjadi profesor di negeri Belanda, namun beliau menolak karena ingin mengabdi di keraton.

Menilik dari karya, jabatan dan pergaulannya tak aneh kalau Ranggawarsita adalah seorang cendekiawan yang melampau jaman. Banyak karya-karya secara apik mengungkapkan hukum-hukum sejarah dan masyarakat. Misalnya teori beliau tentang jaman Pakewuh , yang merupakan jaman terkutuk, semua orang pada gila seperti yang diungkap pada bait awal artikel ini, kelak suatu saat pasti berakhir. Dan anehnya Ranggawarsita secara tepat dapat meramalkan kapan berakhirnya keadaan itu. Dalam serat Sabdajati Pupuh Megatruh bait ke 14, Ranggawarsita menuliskan syair ini.

Waluyane benjang lamun ana wiku, memuji ngesthi sawiji , sabuk tebu lir majenun, galibedan tudang tuding, anacahken sakehing wong.

(Berkhirnya nanti jika suatu saat ada seorang sakti, yang ahli beribadah kepada yang Maha Satu, memakai sabuk tebu bagaikan orang gila, berkeliling menuding ke sana ke mari, menghitung-hitung jumlah manusia.)

Kita tidak akan membahas makna bait di atas, tetapi di situ terselip kata: Wiku memuji ngesthi sawiji, adalah candra sengkala atau penanda tahun yang kalau dinominalkan keluar angka: 1877 Jawa, atau bertepatan dengan tahun 1945.  Itulah tahun kemerdekaan negara kita, jaman ketika Pakewuh atau serba sulit tersebut berakhir.

Ranggawasita meninggal dunia tahun 1873 M. Beliau dimakamkan di Palar, Klaten 15 km dari keraton tempatnya mengabdi. Sepeninggalnya tak lahir lagi pujangga keraton yang sekaliber beliau. Beliau adalah Sang Pujangga Terakhir.

 

 

Sumber rujukan:

  1. Pengaruh Islam dalam karya R. Ng. Ranggawarsito, Dhanu Priyo Prabowo.
  2. Serat Kalatidha, Ranggawarsita
  3. Serat Sabdajati, Ranggawarsita.
  4. Cerita Rakyat.
  5. Sumber gambar: Rangga Warsita. 1939. Serat Condrorini
Share:

Tinggalkan Balasan