Raffles, Pendiri Singapura Hatinya Tertambat di Jawa

Share:

Kita mengenalnya dengan panggilan kebangsawanan “Sir” di depan namanya, namun jangan dikira masa kecil Thomas Raffles bergelimang kemewahan. Kisah hidupnya dimulai dengan penuh derita ketika pada 6 Juli 1781 ia lahir di atas geladak kapal Ann, jauh di lepas pantai Jamaika. Ayahnya, Benjamin Raffles adalah seorang pelaut yang memulai karir sebagai tukang masak sampai akhirnya menjadi kapten.

Situasi krisis yang dihadapi Inggris pada saat itu membuat keluarga Benjamin Raffles menghadapi kesulitan ekonomi yang cukup berat. Raffles muda terpaksa membantu ekonomi keluarga dengan mencari pekerjaan. Berbekal pendidikan seadanya Raffles muda beruntung dibantu ayah salah satu temannya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai juru tulis pada sebuah perusahaan di India Timur, 1795. Raffles dikenal sebagai pemuda yang tekun dan rajin belajar. Itu pula yang membuat karirnya terus menanjak hingga dipromosikan sebagai Asisten Sekretaris wilayah kepulauan Melayu. Seiring pamornya yang kian bersinar Raffles menambahkan kata Stamford di tengah namanya, Thomas Stamford Raffles.

Pada tahun 1811, Raffles disertakan dalam ekspedisi ke Tanah Jawa sebagai Letnan Gubernur. Gubernur Jenderal Lord Minto yang berkedudukan di India sangat suka dengan gaya Raffles dalam memimpin. Dia adalah negosiator ulung yang cerdik. Segera saja Hinda Belanda yang waktu itu sedang lemah karena negeri Belanda dikalahkan Napoleon diambil alih Raffles tanpa pertumpahan darah. Raflles kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1811-1816. Walau masa kepenguasaan Raffles atas Tanah Jawa relatif singkat ada banyak perubahan yang dia lakukan.

Pertama, dia mengubah aturan berkendara dari jalur kanan ke jalur kiri sebagaimana yang berlaku di Inggris. Aturan ini kemudian dipakai sampai kini di seluruh Indonesia.

Kedua, dia menerapkan kebijakan landrente atau pajak bumi yang didasarkan pada hukum adat di Jawa. Dalam sistem ini seluruh tanah adalah milik negara dan rakyat sebagai penggrap wajib membayar pajak. Sistem ini mengakhiri sistem tradisional bulu bekti atau upeti.

Ketiga, dia membagi Jawa menjadi 16 Karesidenan, dan menempatkan penguasa kolonial di masing-masing karesidenan sebagai kontrol penguasa lokal. Praktis kekuasaan penguasa lokal makin dikebiri. Sistem ini kelak dilestarikan oleh Belanda untuk melanggengkan kolonialismenya.

Pada tahun 1916 berdasar Konvensi London (1914) Hinda-Belanda harus diserahkan kembali kepada Belanda. Inggris keluar dari Tanah Jawa namun masih menguasai beberapa wilayah Sumatra yang tidak termasuk dalam konvensi, karena saat ini wilayah Hindia-Belanda belum mencakup sumatra dan Bangka.

Penyerahan itu disikapi Raffles dengan berat hati. Kendati hanya singkat berada di Jawa namun hati Raffles telah tertambat akan kekayaan budaya, potensi ekonomi dan keragaman kehidupan masyarakatnya. Apalagi selain sebagai penguasa Raffles adalah pecinta lingkungan yang banyak melakukan perjalanan ekspedisi. Satu hal lagi yang membuat Raffles takkan melupakan Jawa adalah istri Raffles Olive Mariane Devenish meninggal di Jawa karena penyakit malaria, 26 Nopember 1914.

Kecintaan Raffles akan Tanah Jawa membuatnya terobsesi, maka ketika diangkat menjadi Gubernur Bengkulu dia mengadakan perjanjian dengan Temenggong Sri Maharaja, pembesar wilayah Johor, agar mendapatkan sebuah pulau kecil sebagai basis perdagangan. Dia pikir walau tak mampu mengeruk kekayaan tanah Jawa, setidaknya alur perdagangan hasil buminya akan melewati pulau kecil ini. Di sinilah visi Raffles menjangkau jauh ke depan. Dia berangan-angan kelak pulau kecil ini akan menjadi potal dagang yang harus dilewati lalu lintas perdagangan di wilayah Timur. Betapa wawasan Raffles yang visioner dapat kita saksikan kini, pula kecil itu menjadi negara kota yang menguasai lalu lintas dagang hampir separuh dunia. Itulah Singapura.

Kita kembali kepada hubungan Raffles dan pulau Jawa. Di awal telah disinggung bagaimana keterkaitan antara Raffles dengan Tanah Jawa. Ternyata perhatiannya diluar dugaan kita. Dia begitu tekun mengumpulkan informasi tentang seluk beluk kehidupan di Tanah Jawa hingga detail sekali. Buah dari kesaksian akan keragaman Tanah Jawa itu dirangkum dalam sebuah buku tebal The History of Java yang masih menjadi salah satu rujukan penting para sejarawan. Berikut ini kami kutipkan salah satu bagiannya, yang membahas tentang makanan.

“Peralatan memasak orang Jawa sangat sederhana, terbuat dari tanah liat atau tembaga. Beras yang telah ditumbuk kemudian dikukus, seringkali dimasak dengan sedikit air. Beras yang dikukus akan menjadi nasi putih dan harum, dan seringkali dijual di pasar atau di pinggir jalan. Jagung biasanya dibakar dengan gagangnya, juga dijual di pasar. beberapa masakan dimasak dengan santan pedas, dan disebut dengan gulai melayu. Gulai ada banyak jenisnya, tergantung bahan utama yang digunakan. Selain makanan utama, mereka mempunyai beberapa jenis kue dan kudapan (biasanya dari ketan), yang terkadang rasanya tidak sesuai dengan selera orang eropa. Orang Jawa suka mewarnai masakan mereka, di antaranya telur rebus yang sering diwarnai coklat atau kuning, dan bahkan dengan warna merah.”

Ini adalah diskripsi yang luar biasa detail. Tak banyak karya asli yang ditulis pujangga Jawa sendiri yang sebegitu rinci memaparkan kehidupan orang Jawa layaknya The History of Java. Selengkapnya buku setebal 900 halaman itu menjadi saksi bisu bahwa hati Raffles telah terikat di sini, bumi yang kini menjadi bagian dari negara bernama Indonesia.

Raffles meninggal dunia dua tahun setelah kembali dari Hindia Timur, pada tahun 1826, sebelum usia 45 tahun. Walau dia pernah ikut menjajah kita, namun kita kini tetap mengenangnya bukan hanya karena itu saja. Masih ada tertera namanya di sini lewat sebuah flora penemuannya, bunga Rafflesia Arnoldii atau kita kenal sebagai bunga bangkai raksasa. Sebuah bunga yang mengeluarkan aroma tak sedap, sebagaimana tak harumnya nama penemunya di sini.

 

Sumber rujukan:

  1. The History of Java, Thomas Stamford Raffles, Penerbit Narasi.
  2. Berbagai sumber lain.
  3. Gambar dari sampul The History of Java, Narasi, 2016.
Share:

Tinggalkan Balasan