Rachel Corrie, Non Muslim Pembela Palestina

1128
0
Share:

Rifqi H 

Master Jurusan Komunikasi di Jiangxi Normal University dan S1 Jurusan Sosiologi di UGM

Umurnya saat itu baru 10 tahun, tapi wajahnya memancarkan kepribadian yang jauh melampaui usianya. Dia berdiri tenang, rambut pirangnya diikat sebagian ke belakang, sebagian lagi menjuntai tipis di pundaknya. Dengan kemeja bercorak bunga-bunga dalam kombinasi hitam putih, gadis kecil itu terlihat sangat anggun. Sejenak kemudian, dia pun berbicara, “Aku di sini, untuk anak-anak yang lain. Aku di sini karena aku peduli….karena empat puluh ribu orang meninggal kelaparan setiap hari.”

Peserta konferensi pers World Children Report 1989 pun tercekat. Seolah tak percaya, pidato itu disampaikan anak kelas 5 sekolah dasar. Dan gadis kecil itu meneruskan hingga bait terakhir, “Mimpiku adalah menghapus kemiskinan pada tahun 2000….mimpiku itu, bisa dan akan terwujud, jika kita menatap masa depan dan melihat cahaya di sana.”

Gadis kecil itu bernama Rachel Corrie. 10 April 1979 adalah saat pertama dia mengenal atmosfer bumi. Dia habiskan masa kanak-kanak hingga usia muda di kota Olympia, Washington, Amerika Serikat, tempat kelahirannya.

Tahun 2000, gadis kecil itu telah tumbuh menjadi perempuan muda yang cantik. Memang, mimpinya belum terwujud, tapi dia terus mengejarnya. Misi kemanusiaan hingga aksi-aksi politik dia jalani. Dia aktif menggalang dana untuk korban kelaparan. Dia juga ikut tidur di tenda pinggir jalan memprotes pengetatan anggaran sosial tunawisma. Dan tentu, dia terus melakukan kegemerannya: melukis dan menulis.

Pada 09 September 2001, saat tragedi WTC meletup, Rachel tengah duduk sebagai mahasiswi the Evergreen State College, Olympia. Keingintahuan yang kuat mendorongnya meneliti tragedi itu. Dan dia pun sampai pada kesimpulan, bahwa pemerintah AS telah merenggut keamanan dunia atas dalih memerangi terorrisme.

Rachel kemudian terlibat berbagai gerakan perdamaian. Hingga musim panas 2002, seorang rekan aktivis memintanya bergabung ke Tepi Barat Palestina. Ajakan serupa juga dilontarkan kalangan aktivis International Solidarity Movement (ISM). Dan terbanglah Rachel ke Tepi Barat, pada 22 Januari 2003. Baginya, kepergian itu adalah bagian dari mimpinya: mewujudkan perdamaian, kemanusiaan, dan kemerdekaan.

Tapi mungkin, Rachel tak menduga kepergiaan itu akan mengakhiri mimpinya. Tentu, dia tak mengira akan usai bermimpi di antara serudukan Buldozer dan reruntuhan rumah di Kota Rafah. Dan mungkin, dia pun tak mengira, seiring tragedi itu, mimpinya menjangkiti masyarakat dunia yang menyaksikan pengorbanannya, demi membela rakyat Palestina.

Gambar terkait

yesmagazine

Melepas Mimpi di Rafah

Abdillah Onim, relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dalam sebuah wawancara menegaskan bahwa warga Palestina mengenal Rachel Corrie dan para aktivis ISM sebagai kelompok yang militan membela hak-hak mereka. Hal itu terlihat dalam peristiwa tragis yang merenggut hidup Rachel.

Sore itu, Minggu, 16 Maret 2003, Rachel Bersama para relawan ISM sibuk luar biasa. Israeli Defense Force (IDF/Tentara Israel) tengah melakukan pembersihan terhadap pemukiman penduduk di perbatasan. Aktivis ISM berpencar menghalangi penggusuran itu. Rachel berada satu lokasi dengan tujuh aktivis lain, berusaha menghalangi setiap buldozer yang hendak melumat rumah warga Palestina.

Kurang lebih pukul 5 sore, Buldoser D9R Caterpilar melintas di depan rumah Nasrallah, seorang ahli obat Palestina. Rumah itu kondisinya sudah sangat menyedihkan. Terjangan mortir menjebol tembok depan, dan kamar-kamarnya telah porak-poranda. Toh, kendaraan pelumat itu mengarah kesana, siap menggilas dan melumat seluruh materialnya.

Rachel yang berada di dekat rumah itu segera menghadang. Lima belas meter, lurus di depan sekop buldoser yang menganga, Rachel berlutut. Kedua tangannya terangkat melambai, merentang, menyilang, memberi tanda pada operator Buldoser. Tindakan ini biasa dilakukan para aktivis untuk menghalangi penggusuran.

Namun, dua orang operator Buldozer itu tak menghiraukan Rachel. Kendaraan penghancur itu terus melaju ke depan siap menyeruduk rumah Nasrallah. Sampai jarak sangat dekat, rekan-rekan Rachel berteriak memperingatkannya untuk menyingkir.

Rachel pun berdiri, melompat ke atas gundukan tanah yang terdorong sekop Buldoser, sambil terus meneriaki operator. Tapi buldoser itu terus menerjang, hingga Rachel terjerembab, terseret, lalu terhimpit dan terlindas di antara reruntuhan tembok rumah. Tangis dan teriakan histeris membahana, mengiringi kepergian perempuan pemberani itu.

Setelah dua bulan melayani pengungsi, Buldozer D9R Caterpilar itu berhasil menghentikan pengabdian Rachel. Meski pun begitu, warga Palestina terus mengenangnya. Tempat tragedi itu sekarang diberi nama “Rachel Corrie,” dan jalan ke sana pun diberi nama Rachel Corrie Street, tutur Abdillah.

Bersaksi untuk Palestina

Selama di Palestina, Rachel Corrie rajin berkirim surat dengan ibunya. Dia berharap orang-orang di negaranya tahu kondisi Palestina yang sebenarnya. Rachel sangat ingin orang-orang Amerika mendengarkan kesaksiannya.

Dalam wawancara dengan Middle East Broadcasting, dua hari sebelum kematiannya, Rachel mengatakan: “aku merasa seperti di tengah perusakan sistematis…. terkadang aku duduk makan malam dengan orang-orang, dan aku sadar ada mesin militer mengelilingi kami, berusaha membunuhku bersama orang-orang itu.”

Kondisi itu dibenarkan Abdullah Onim. Menurutnya, sangat sulit menggambarkan penderitaan warga Palestina. Puluhan tahun hidup tanpa kebebasan. Tiap hari berhadapan dengan tentara Israel yang menggusur rumah dan kebun mereka. Pasokan pangan sangat terbatas, sehingga warga membuat terowongan untuk menyelundupkan makanan.

Terkadang, pesawat Israel menembaki petani yang sedang berkebun, atau nelayan yang sedang melaut. Bahkan, dua bulan terakhir mulai terjadi kelangkaan BBM, pasokan air minum dan listrik. “Jika anda berada di Jalur Gaza, otomatis anda rasakan apa yang dirasakan warga,” tutur Abdillah.

Kondisi itulah yang mendorong Rachel bertandang ke Palestina. Dia ingin menunjukkan bahwa semangat kemanusiaan tak kenal bangsa. Semangat itu yang mendasari setiap deret kesaksiannya. Seperti dia catat saat masa kanak-kanaknya: “Menulis adalah keberanian. Mungkin ini bagian dari diriku yang merdeka.”

Imajinasi kemerdekaan itu juga yang membuat Rachel berani menghadang Buldozer yang meremukkan tubuhnya. Dia sadar segala resikonya. Dia sadar, nasib anak-anak Palestina jauh lebih buruk dari nasib anak-anak di negaranya. Dan semua itu dia akui secara jujur, meski negaranya menjadi bagian dari masalah itu.

Pada 10 April 2012, seharusnya dia merayakan ulang tahun ke-33. Mungkin, saat itu dia akan berjalan di satu sisi syurga, seperti dia tulis dalam catatan remajanya: “Biarkan aku berdiri sendiri di tepi dunia, untuk melihatnya secara jujur.” Yang pasti, kesaksiannya kini telah didengar dan dibaca oleh dunia, seperti yang dia inginkan. Dan kesaksian itu semakin membuka mata dunia, bahwa sebuah penjajahan sistematis terjadi di tengah-tengah mereka.

Mimpi itu Terus Hidup

Rachel Corrie adalah seniman sedari kecil hingga sepanjang masa. Kesan itu disampakan ibunya dalam buku “Let Me Stand Alone” yang terbit tahun 2008. Dalam surat terakhir untuk ayahnya, Rachel juga sempat menulis, “kubayangkan saat ini memerankan film Hollywood atau sinetron komedi yang dibintangi Michael J. Fox. Ini salah satu fantasiku untuk membuat semua mudah dilakukan di sini.”

Ada kecerdasan, kreativitas, kehangatan, kejujuran, semangat, keberanian, semua itu ada dalam seorang Rachel Corrie. Dan memang, dia bukan hanya seniman, tapi juga pejuang kemanusiaan. Dan sayangnya, drama tentang Rachel harus berakhir tragis, setidaknya bagi orang yang menyimaknya.

Tragis, karena di usia yang yang belum genap 24 tahun, dia harus melepaskan mimpinya. Tragis, karena sembilan tahun lalu, pada hari minggu, saat masyarakat dunia sibuk berakhir pekan, dia harus membenturkan kemerdekaan imajinya di depan traktor berlapis baja.

Tapi setidaknya, mimpi Rachel tentang perdamaian telah menjangkiti setiap orang yang masih punya nurani dan akal budi. Pun kegemarannya sebagai seniman dan penulis. Catatannya dibukukan dalam beberapa seri terbitan, salah satunya “Let Me Stand Alone,” yang berisi tulisan semasa kanak-kanak hingga menjelang kematiannya.

Kisah hidupnya juga diabadikan dalam teater bertajuk “My Name is Rachel Corrie,” yang dibesut para seniman London Royal Court Theatre. Tak kurang 30 lagu tentang Rachel juga digubah para musisi. Dan sebagai aktivis, namanya diabadikan menjadi nama kapal misi kemanusiaan. Ya, mimpi Rachel masih terus berlanjut. Dan kesaksiannya telah didengar masyarakat dunia. Tentu saja, dunia terus melahirkan anak-anaknya untuk mewujudkan mimpi itu. Mimpi tentang perdamaian, kemanusiaan dan kemerdekaan.

 

(berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan