Politik Kuliner “Maknyus” Pak Bondan

1175
0
Share:

Alkisah, meski awalnya tidak suka memasak, Pak Bondan yang dikenal dengan jargon “maknyuss” saat membawakan acara kuliner itu pada akhirnya justru menjadi mahir membuat sedap masakan. Oleh banyak kalangan, Pak Bondan dikenal sebagai “pakar masakan”. Kolom-kolomnya mengenai makanan di surat kabar yang dipimpinnya dulu selalu segar dan menarik.

Harian Kompas pada 25 April 2004 memuat cerita tentang sosok Pak Bondan. Pak Bondan mengaku bahwa hobi memasak diperoleh dari ibunya. Sebelum jatuh cinta pada dunia kuliner, ia menilai urusan masak-memasak adalah urusan menyebalkan. Katanya, waktu itu ia selalu merasa sebal setiap kali ibunya meminta dia untuk membantu memasak di dapur.

Entah mengapa, di antara ketujuh saudaranya, dia paling sering diminta membantu di dapur, umpamanya untuk menumbuk kacang dan tepung beras. Rupanya kebiasaan itu membuatnya mahir mengolah makanan. Ketika ikut kegiatan kemah Pramuka sewaktu duduk di sekolah dasar, bocah kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu bisa memasak sayur asem untuk teman-teman satu kelompok.

Itulah pertama kali ia memasak. Resep sayur asem didapat dari sang ibu. Hasil masakannya disenangi teman-temannya. Sejak itulah Pak Bondan mulai senang memasak. Keahlian memasak Pak Bondan yang menikah dengan wanita Spanyol bernama Yvonne semakin terasah berkat ajaran adik iparnya yang memiliki restoran di Italia.

Menurutnya, adik iparnya itu kebetulan seorang koki dan punya restoran. Jadi kalau dia ke sana, sering memperhatikan cara memasaknya. Setelah itu dipraktikkan sendiri dengan beberapa eksperimen. Mungkin karena belajarnya di Italia itu, dia kemudian lebih menyukai makanan Italia yang serba pasta, taruhlah dibandingkan dengan masakan Indonesia, makanan Indonesia terlalu sulit, kata Pak Bondan.

Riwayat

Pak Bondan lahir 29 April 1950 di Surabaya. Masa sekolah hingga kuliah dihabiskan di Semarang, Jawa Tengah. Ia pernah belajar di Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip).

Sebelum dikenal sebagai pakar goyang lidah, Bondan tercatat pernah bekerja sebagai Staf Bank Dunia untuk Urusan Eksternal. Setelah itu ia terjun dalam bidang jurnalisme hingga menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Suara Pembaharuan di Jakarta sejak 2001.

Ia juga seorang penulis dan wartawan Indonesia dengan berbagai bakat. Dia memelopori dan menjadi ketua Jalansutra, suatu komunitas wisata boga yang sangat terkenal di Indonesia. Dia juga menjadi presenter dalam acara kuliner di Trans TV, yaitu Wisata Kuliner.

Ia terkenal dengan ungkapannya yaitu “Pokoe maknyus!”, ungkapan ini sering diparodikan dalam suatu kondisi yang nyaman, enak dan lainnya. Ketika Pak Bondan masih anggota Pramuka dulu, lelaki berkulit cokelat ini aktif dalam aeromodelling. Ketika sudah berkeluarga, ia ikut terjun payung dan menjadi anggota Jakarta Flying Club.

Sebenarnya, Pak Bondan juga bercita-cita menjadi penerbang, selain guru dan wartawan. Ibunya ingin Bondan menjadi dokter, atau insinyur. Di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur, Universitas Diponegoro, Semarang, namun belum sempat selesai, Pak Bondan sudah menjadi fotografer Puspen Hankam di Jakarta hingga tahun 1970.

Setelah itu, ia berpindah-pindah kerja, tetapi tetap tidak lepas dari lingkup komunikasi massa. Sempat bertugas sebagai wartawan ke berbagai negeri, antara lain ke Kenya, Afrika. Sebagian pengalamannya dari negeri itu ia tuangkan menjadi cerpen berjudul Gazelle, yang kemudian memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada tahun 1984.

Menulis sudah hampir merupakan kebiasaan bagi Pak Bondan. Ia pun bisa menulis di mana saja, di pesawat udara, di mobil, atau bahkan di toilet. Hasil tulisannya dimuat berbagai penerbitan, misalnya Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo.

Sejak 1960 (umur 9–10 tahun), Pak Bondan menjadi penulis lepas. Ia menulis di berbagai penerbitan seperti Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Tempo, Mutiara, Asian Wall Street Journal, dan lain-lain. Pada 1984-1987 ia menjadi redaktur kepala majalah SWA. Pada 1987-1994 ia beralih menjadi pengusaha dan menjabat sebagai Presiden Ocean Beauty International, sebuah perusahaan makanan laut yang berbasis di Seattle Washington, Amerika Serikat.

Antara 1998-1999 ia menjadi konsultan untuk Bank Dunia di Jakarta, dan setelah itu, hingga 2000 ia menjadi direktur eksekutif dari sebuah organisasi pelestarian lingkungan. Pada 2001-2003 ia menjadi pemimpin redaksi harian Suara Pembaruan.

Selain berbagai pekerjaan yang pernah dilakukannya, ia juga aktif dalam bermacam-macam kegiatan sosial. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal dari International Advertising Association, cabang Indonesia (1981-1986), ketua Indonesia Forum pada 1998 (umur 47–48 tahun), yaitu sebuah konferensi internasional untuk membantu pemulihan Indonesia dari krisis.

Pada 1998 ia menjadi salah satu pendiri dari Komite Kemanusiaan Indonesia dan Masyarakat Transparansi Indonesia, dan pada 2002 (umur 51–52 tahun) ia menjadi salah satu pendiri Yayasan Karaton Surakarta. Ia adalah seorang sentanadalem Karaton Surakarta Hadiningrat dengan gelar dan nama Kanjeng Pangeran Mangkudiningrat.

Pada 1967 (umur 16–17 tahun), ia memperoleh Baden Powell Adventure Award ketika menjadi pemimpin regu Indonesia dalam Boy Scouts World Jamboree di Farragut State Park, Idaho, USA. Ketika itu ia juga terpilih sebagai honor guard untuk Lady Olave Baden Powell. Pada 1988 (umur 37–38 tahun) ia memperoleh tanda penghargaan Satyalencana Pembangunan dari pemerintah Republik Indonesia karena jasa-jasanya sebagai ketua pelaksana Phinisi Nusantara yang berlayar dari Jakarta sampai Vancouver dalam rangka Expo 1986.

Sebagai penulis, Pak Bondan pernah mengarang cerita anak-anak, cerita pendek, novel dan buku-buku tentang manajemen, diantaranya: Editor Satu abad Kartini, 1879-1979, Neraca tanah air (1984), Cafe Opera (1986), Jalansutra, kumpulan kolom tentang jalan-jalan dan makan-makan di Suara Pembaruan Minggu dan Kompas Cyber Media (2003) dan lain-lain.

Singkat kisah, setelah konsultasi dan berobat ke sana-kemari soal penyakit apa yang dialaminya, presenter kuliner Pak Bondan (Bondan Haryo Winarno) wafat dalam usia 67 tahun di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Rabu (29/11/2017) pagi.

Selamat jalan Pak Bondan, “Maknyuss” kan selalu ada di restoran, warung makan pinggiran, rumah makan tradisional, dan kafe-kafe. (Berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan