Perempuan yang Menginspirasi di Daerah

911
0
Share:

Ada banyak cara melakukan kebaikan bagi sesama manusia. Kebaikan tak memandang ruang dan batas. Siapa pun bisa melakukan kebaikan tersebut, termasuk perempuan-perempuan di Tanah Air. Dengan kebaikan hati dan motivasi kuat untuk menolong sesama, perempuan bisa hadir membawa perubahan bagi sesama dan lingkungannya.

Motivasi inilah yang mendorong para perempuan yang tergabung dalam Program Putri Sulamit. Tak sekadar mengandalkan kecantikan tubuh, tujuh perempuan dari beberapa kota besar di Indonesia itu hadir di daerahnya dengan programprogram yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tria Divinity Malengsang (21), salah satunya. Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado, ini mewakili Putri Sulamit Sulawesi Utara. Sejak April 2017, perempuan asal Talaud ini memberikan pendidikan di luar sekolah kepada anak-anak di Manado.

Anak-anak pedagang Pasar Karombasan Manado, termasuk anak-anak di sekitar pasar yang masih duduk di bangku sekolah tetapi tidak mendapat perhatian orangtuanya karena sibuk di pasar, diberi pelajaran oleh Tria. Dibantu beberapa tokoh masyarakat, Tria mendapat sebuah ruangan berukuran sekitar 7 meter x 3 menter di lantai dua Pasar Karombasan. Ruangan itu dijadikan tempat belajar yang dinamakan Pasar Pustaka.

Berbagi ilmu

Seminggu dua kali, Tria membagikan ilmunya, bahasa Inggris, kepada sekitar 30 anak usia SD. Tria juga mengajarkan membaca dan menyanyi, juga sopan santun dan tata krama. Dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, tidak mudah bagi Tria untuk mengajar anak-anak itu.

Bahkan saat Yohana Limarno dan Lisa Sanusi, pendiri Program Putri Sulamit, awal Oktober lalu, mendatangi Pasar Pustaka, Tria dengan sabar mengatur anak-anak. Beberapa anak perlu pendekatan khusus untuk bisa belajar. ”Anak-anak saya ajarkan bahasa Inggris karena Sulawesi Utara merupakan daerah tujuan wisata.

Saya berharap dengan mengajar bahasa Inggris, ini akan berguna bagi mereka,” kata Tria yang mendapat penghargaan Juara Harapan 1 dalam ajang Noni Sulawesi Utara 2015 dan masuk 7 besar Miss Celebrity 2016 tingkat Sulawesi Utara. Setelah sekitar enam bulan diajari oleh Tria, sejumlah anak bisa mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris.

”Senang sekali ada Kak Tria, apalagi bisa belajar bahasa Inggris. Sebab, di sekolah enggak ada pelajaran Bahasa Inggris,” ujar salah satu anak. Program Putri Sulamit dimulai pada 2016. Nama Sulamit, kata Yohana, dari inspirasi cerita-cerita klasik yang mengisahkan Putri Sulamit yang lahir dari kalangan biasa, tetapi tidak menghalanginya untuk mewujudkan mimpinya membawa perubahan bagi negerinya.

Tria adalah salah satu dari tujuh perempuan yang mengikuti program ini. Enam Putri Sulamit lainnya adalah Akwilina Jeni (17) dari Ngabang, Kalimantan Barat, dengan proyek ”Tarian Luar Biasa” yang mengajak anak-anak di daerahnya peduli dengan tarian dayak; AA Istri Putri Dwi Jayanti (20) dari Denpasar, Bali, dengan proyek ”Deaf Talk” yang mengangkat kesetaraan penyandang disabilitas tunarungu di Bali; Nishada Warih Segara Muncar (21) dari Surakarta, Jawa Tengah, dengan proyek kesehatan; Poppy Indrawati Savitri (26) dari Serang, Banten, dengan proyek ”Hijab Berbagi”; Duma Mariana Simanjuntak (20) dari Medan dengan proyek ”Beauty Express” bagi perempuan di daerahnya; dan Yunita Alanda Monim (19) dari Sentani, Papua, dengan proyek pelestarian lingkungan.

Apa yang dilakukan para Putri Sulamit dengan proyek-proyek mereka itu setidaknya menjadi sebuah langkah untuk membawa perubahan di daerah mereka. Diharapkan, ini bisa menginspirasi perempuan-perempuan lain di Tanah Air.

(Sumber: Sonya Hellen Sinombor, Harian Kompas, 22 Desember 

Share:

Tinggalkan Balasan