Panembahan Senapati, Sang Raja Pinandhita

1371
0
Share:

Dengan berlakunya UU Keistimewaan Yogyakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai kerajaan yang berdaulat dan mempunyai sistem pemerintahan yang berbeda dari propinsi lain. Sultan Yogyakarta sekarang adalah sekaligus sebagai Gubernur Kepala Daerah, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kasultanan Yogyakarta adalah kerajaan yang sudah berdiri sejak lama. Sebenarnya kerajaan ini adalah sempalan dari kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1587M. Beliau adalah raja pertama sekaligus nenek moyang dari raja-raja di Tanah Jawa yang kemudian terpecah menjadi 4 wilayah mandiri: Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman dan Mangkunegaran. Siapakah panembahan Senapati yang menjadi bapak para raja-raja tersebut? Marilah kita lihat  riwayat beliau sebagai bahan pelajaran hidup.

Terlahir sebagai Danang Sutawijaya, Panembahan Senapati atau selanjutnya kita sebut Sutawijaya saja, adalah putra angkat Raja Pajang Sultan Hadiwijaya. Ayah kandung Sutawijaya adalah Ki Ageng Pemanahan, seorang tokoh spiritual penasehat Sultan Hadiwijaya. Sejak kecil Sutawijaya tinggal di kotaraja dan mengabdi di keraton layaknya putra raja. Beliau pun mendapat gelar kebangsawanan Raden Ngabei Loring Pasar.

Ketika Sutawijaya menginjak masa remaja Sultan Hadiwijaya mendapat tantangan dari Adipati Jipang yang ingin memberontak, Arya Penangsang. Adipati Arya Penangsang adalah seorang perwira yang trampil dalam olah kanuragan, sakti mandraguna. Dia mempunyai sebilah keris cantik yang acapkali dipamerkannya kepada satria lainnya, Kyai Setan Kober. Dia juga mempunyai kuda legendaris yang gagah dan cekatan, bernama Gagak Rimang. Ini adalah kuda pilihan yang kalau jaman sekarang mungkin harganya sudah milyaran rupiah. Dengan menyandang keris Setan Kober dan naik kuda Gagak Rimang Arya Penangsang tampak gagah berani tanpa lawan. Tak aneh kalau Arya Penangsang berani menantang Sultan Hadiwijaya.

Menanggapi tantangan tersebut Sultan Hadiwijaya yang sebenarnya juga ahli militer enggan menanggapi. Berperang dengan lawan yang lebih rendah kedudukannya hanya akan membuat keluhuran namanya luntur. Maka dia membuat sayembara; barangsiapa yang berhasil mengalahkan Arya Penangsang akan diganjar hutan Mentaok, sebuah wilayah di selatan pulau Jawa yang masih berupa semak belukar.

Atas saran Ki Juru Martani Sutawijaya yang masih remaja mengikuti sayembara tersebut. Ki Juru Martani adalah pakdhe dari Sutawijaya yang juga bersama Ki Pemanahan menjadi penasehat raja. Sultan Hadiwijaya menerima Sutawijaya yang masih bocah itu, dengan syarat harus didampingi oleh Ki Juru Martani di medan laga. Kepadanya juga diberikan bekal pusaka keraton berupa sebuah tombak.

Ki Juru Martani adalah ahli strategi yang jempolan. Dia sadar bahwa Sutawijaya yang ibarat masih ingusan bukanlah lawan yang sepadan dengan Arya Penangsang, perwira perang yang gagah dan sakti. Menghadapinya haruslah dengan strategi yang jitu dan keberanian yang lebih. Untuk yang terakhir Sutawijaya tidak kurang, namun soal strategi harus dipikirkan masak-masak.

Ketika Sutawijaya sudah diberi pasukan dan berangkat untuk menyerang Jipang. Ki Juru Martani memerintahkan untuk menangkap pekathik atau juru kuda yang biasa mengurus Gagak Rimang. Si pekathik dipotong telinganya sebelah dan diselipkan sebuat surat tantangan kepada Arya Penangsang. Ketika pekathik menghadap dengan darah mengalir dari telinga yang terselip surat serta merta Arya Penangsang murka. Dia tidak sabar untuk menunggu persiapan prajurit. Dia berangkat duluan ke medan perang untuk menghajar Sutawijaya.

Ki Juru Martani telah menyiapkan strategi berikutnya untuk menghadapi kemarahan Arya Penangsang. Sutawijaya disuruh menghadapi Arya Penangsang dengan naik kuda betina. Ketika keduanya berhadapan kuda Gagak Rimang yang melihat kuda betina Sutawijaya menjadi birahi. Polahnya tak terkendali, tak lagi menurut perintah sang tuan. Dalam satu kesempatan Sutawijaya berhasil menghunjamkan tombaknya mengenai perut Arya Penangsang, lambungnya sobek dan ususnya terburai keluar. Tapi dia tidak surut, usus dikalungkan di gagang keris Setan Kober, dia tetap meladeni Sutawijaya yang kini terdesak.

Dengan beberapa jurus tak sulit Arya Penangsang menaklukkan Sutawijaya. Nasibnya dalam genggaman Arya Penangsang yang telah siap menghunus senjata andalannya keris Setan Kober. Namun yang terjadi sungguh diluar dugaan. Ketika keris keluar dari rangka serta merta usus Arya Penangsang yang tersampir putus. Dia tewas seketika.

Kemenangan Sutawijaya yang dramatik membuat Sultan Hadiwijaya gembira. Dia kemudian menepati janji memberi hutan Mentaok yang letaknya kalau jaman sekarang di wilayah Yogyakarta. Sutawijaya berangkat ke Mentaok untuk membuka pedukuhan baru bersama Ki Pemanahan dan Ki Juru Martani.

Lambat laun atas usaha keras Sutawijaya dan nasehat brilian Ki Juru Martani alas Mentaok menjadi wilayah yang ramai dan dikunjungi banyak orang untuk bergabung. Wilayah baru ini kemudian diberi nama Mataram, sebagai penerus dari kerajaan lama yang sudah punah dan bernama sama yakni Mataram Hindu yang berdiri di abad 7 M. Salah satu peninggalan dari Mataram Hindu adalah adanya banyak candi di Prambanan, salah satunya adalah Candi Prambanan yang terkenal itu.

Ketika pamor kerajaan Pajang surut sepeninggal Sultan Hadiwijaya, Mataram menjadi pilihan rakyat untuk berkidmat. Mereka berbondong-bondong bergabung menjadi rakyat Mataram. Jadilah Mataram Islam sebagai kerajaan baru yang besar dan Sutawijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan Gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Ini adalah gelar baru yang berbeda dengan gelar raja-raja sebelumnya. Panembahan Senapati Ing Alaga menunjukkan peran raja sebagai panglima perang, Sayidin Panatagama Khalifatullah adalah peran lain sebagai pengatur urusan agama, dan wakil Tuhan. Artinya dalam mengatur negara dia berlandaskan azas agama sebagai khalifatullah, peran yang disandang manusia di bumi ini. Konsep raja dan penata agama ini sering disebut sebagai Raja Pinandhita.

Sebagai Raja Pinandhita Panembahan Senapati memang berperilaku lain dari umumnya raja yang kita kenal. Beliau tidak menyukai kemewahan, pesta pora maupun berburu seperti umumnya raja-raja jaman itu. Bahkan beliau suka laku tirakat dan menyepi. Semua itu dilakukan agar apa yang sudah dicapai dalam mendirikan negara Mataram  dengan keberanian dan perjuangan dapat beliau wariskan kepada anak cucu. Bait tembang Sinom dari Serat Wedatama berikut ini merekam dengan jelas perilaku keseharian beliau sebagai raja.

Nuladha laku utama,tumrape wong Tanah Jawi, wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati. Kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata. Tanapi ing siyang ratri, amamangun karyenak tyasing sasama.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

Contohlah perilaku utama, untuk kalangan orang Jawa, orang besar dari Mataram, Panembahan Senapati. Yang tekun berlatih, mengurangi hawa nafsu,dengan jalan prihatin (tirakat). Dengan cara siang malam berbuat  menyenangkan hati sesama.

 

Panembahan Senapati, dialah Raja Pinandhita yang mewariskan tauladan agung kepada pewarisnya. Tak heran bila kerajaan Mataram masih lestari hingga kini, karena didirikan oleh orang besar yang tidak saja pandai memerintah namun juga mampu memberi keteladanan.

Sumber tulisan:

  1. Babad Tanah Jawi.
  2. Wedatama karya Mangkunegara IV.
  3. Cerita Rakyat, Folklore.
  4. Sumber gambar: dari ini
Share:

Tinggalkan Balasan