Pak Hario dan Pak Bangun, Dua Teman Seperjalanan Abhiseka Dipantara (I)

1039
0
Share:

Catatan Prim Nugroho

Sekitar tahun 2009 hingga lima tahun berikutnya Dr. Emmanuel Subangun (Kediri, 1949 – 2017) menjadi pengantar bagi berbagai buku karya Mayjen Suhario Padmodiwirio (Surabaya, 1921-2014) yang diterbitkan oleh Abhiseka Dipantara, baik yang berbentuk memoar maupun pemikiran militer.

Bagaimana kedua arek Jawa Timur itu, Pak Bangun dan Pak Hario saling bertukar cerita, perasaan, dan gagasannya melalui berbagai buku itu?

Sekedar latar belakang singkat tentang kedua pekerja keras ini:

Di antara berbagai pekerjaannya Pak Bangun adalah motor bagi Rumah Ganeca di Jakarta Timur sejak tahun 2000. Ada aneka jenis kegiatan budaya yang dilakukan di RG, tapi terutama ditujukan untuk membuka wawasan sejarah dan politik bagi orang-orang muda dalam konteks setelah lewatnya masa Perang Dingin, krisis politik ekonomi 1998, dan ambruknya menara kembar WTC di New York tahun 2001.

Sebelumnya, selama 30-an tahun Pak Bangun kenyang dengan pengalaman di dunia jurnalistik (belasan tahun sebagai wartawan senior harian Kompas), riset ilmu sosial (sebagai PhD dari Sekolah Ilmu Sosial Kemanusiaan di Paris, 1987), dan menahkodai lembaga riset dan informasi Alocita di Surabaya dan Yogyakarta, serta lembaga riset marketing RPC di Jakarta. Dengan aneka jenis baju itu pada dasarnya Pak Bangun adalah seorang yang berjiwa estetis, berupaya menemukan pancaran keindahan kemanusiaan dalam berbagai wujudnya.

Sedangkan tentang Pak Hario, ia juga ada dalam frekuensi senada dengan Pak Bangun. Orang yang mengenal tentara tulen ini akan merasakan pendaran aura kepekaan seni padanya. Panglima militer dari Bung Karno di Kalimantan Timur ini adalah penulis handal, baik sastra maupun pemikiran militer, pelukis, pemburu ulung, sniper, jago lempar pisau komando, ahli akupunktur, komandan combat intelligence, penerjun payung, dokter alumni Ika Daigaku Jakarta, tapi juga …. penyanyi bersuara tenor a la Mario Lanza!

Adalah tragis bahwa sosok yang membidani langsung lahirnya TNI lewat Battle of Surabaya 45 ini malah di kemudian hari harus masuk penjara dalam kekuasaan rejim ABRI. Satu-satunya dalam sejarah, perwira tinggi TNI yang lulus dari 2 pusat pendidikan tinggi militer masa Perang Dingin, yakni di Fort Benning, AS dan War College Suvorov,  Uni Sovyet, malah dibui oleh TNI yang ia ikut lahirkan dan sapih itu sendiri ….

Sekeluar dari penjara Pak Hario tetap mempertahankan prinsipnya, tidak mengkhianati Presiden Soekarno dan tetap independen sebagai pejuang kemerdekaan (alias, tidak berpartai politik). Ia lanjutkan perlawanan melalui tulisan. Buku pertamanya terbit tahun 1992 lewat Penerbit Obor, berupa skenario film berjudul Pangeran Sambernyawa. Gerak independen itulah yang kemudian bertemu dengan Rumah Ganeca pada tahun 2002 (lewat tabloid ekologi Meridian), dan berlanjut dengan Penerbit Abhiseka Dipantara (sejak tahun 2009).

Perjalanan 5 Tahun Terakhir 

Dari Pak Hario di Bekasi disampaikan ke redaksi Abhiseka Dipantara di Jogja file ketikan naskah buku karyanya. Yang pertama dapat dicetak adalah buku Pemikiran Militer yang keenam. Sembari penyuntingan dilakukan, dikerjakan pula pengantar dari Pak Bangun. Tentang kekerasan dalam arus kesejarahan di Indonesia, begitu tema pengantar itu.

Belum sempat naskah buku tersebut rampung cetak, sudah datang menyusul file naskah buku berikutnya, Pemikiran Militer bagian 7. Belajar dari pengalaman berbagai kesalahan teknis pada buku PM 6 maka kali itu dilakukan berbagai penyesuaian dari cover hingga tata letak buku. Saat naskah PM 7 rampung disunting redaksi, muncul saran dari Pak Bangun. Tulisan Pak Hario dalam seri pemikiran militer selama ini (yang pertama hingga kelima diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia) bergerak dalam urutan kronik.

Pembaca jaman sekarang akan kesulitan mengikuti irama meloncat khas Pak Hario yang disusun secara kronologis. Bagaimana kalau dilakukan penyusunan ulang secara tematik? Jadi, tulisan yang ada diurutkan sesuai dengan kelompok temanya. Setelah disepakati, juga oleh Pak Hario, dilakukanlah pengelompokan tematik atas naskah itu. Hasilnya mengejutkan, hal yang semula tak tampak menjadi muncul, yang kemudian justru menjadi judul buku itu, Dari Bung Karno Hingga Jokowi.

Pengantar Pak Bangun untuk buku itu memaparkan tentang memoria passionis. Ditunjuknya bagian menarik buku itu terletak pada bab tentang riwayat Orde Baru yang merupakan kesalahan genetik sejak bibitnya pada tentara kolonial Belanda dan Jepang, yang bersimbiose dengan elite terpelajar ternakan Belanda dan Amerika; “Berkaki di Indonesia, tapi kepalanya ada di Ohio, Singapura, atau Leiden”.

         

Proses yang serupa juga terjadi kemudian dengan pemikiran militer yang ke-8. Setelah disusun ulang urutan tematiknya muncullah benang merah tentang Imperialisme Media Massa. Kali itu pengantar Pak Bangun menggaris-bawahi pembongkaran mitos kehebatan kaum kulit putih yang oleh Pak Hario disebut sebagai white’s men supremacy. Dan di Indonesia sebagai virus supremasi itu berjangkit dalam wujud multiple personality disease, alias kulitnya sawo matang tapi pribadinya lebih putih dari orang kulit putih. Kompleks rendah dirinya disembunyikan di balik tameng bahasa asing, teknologi digital, atau gelar akademik. (BERSAMBUNG)

 

Share:

Tinggalkan Balasan