Pak Hario dan Pak Bangun, Dua Teman Seperjalanan Abhiseka Dipantara (II)

890
0
Share:

Catatan Prim Nugroho

Selanjutnya adalah buku puncak kerja sama kedua arek Jawa Timur itu. Berbeda dengan 2 naskah sebelumnya, kali ini bentuknya memoar. Dan boleh dikata, inilah karya tulis Pak Hario yang paling bersinar, sekaligus paling …. alot penulisannya. Melalui memoar berjudul Intelijen itu muncullah pembongkaran bangunan mitos sejarah yang disakralkan selama paruh kedua abad XX di Indonesia.

Bahan yang dikisahkan dalam buku setebal hampir 500 halaman ini memang tak tersentuh dalam 3 memoar Pak Hario sebelumnya. Hal ini pula yang konon menjadi bahan ledekan Pak Bangun pada Pak Hario sebelum naskah Intelijen ditulis,”Mosok, awakmu iku sekolah adoh-adoh tekan Fort Benning, tekan Sukorov Moskow, kok nulis buku mung koyok ngono ? Ndi crito interlele-ne republik? Kan mung awakmu sing iso crito iku ? Mosok arep percaya barek critone Hendro Priyono opo cangkeme Salim Said?

                                                                     

Buku Intelijen berkisah tentang anak-anak muda yang dengan segenap gelora batin, kebingungan, dan salah langkahnya tetap menjaga api proklamasi kemerdekaan RI, berhadapan dengan musuh asing berikut aneka jenis antek-anteknya dari dalam negeri sendiri. Atau, dalam pengantar Pak Bangun dinyatakan lugas :

“…..merekalah golongan sejumput kecil arek yang tak bernama dan tak berwajah, untuk menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Mereka tak minta bayaran atau bintang jasa…..”

Pengantar yang ditulis oleh Pak Bangun di lantai 2 Rumah Ganeca di Utan Kayu memang tak kurang bersinarnya. Dengan pengantar yang dikerjakan dalam bilangan hanya puluhan menit itu seperti diletakkan tiang pancang pembongkaran selubung ilusi rezim historiografi Indonesia. Ditegaskan Pak Bangun, posisi naskah itu sebagai “pandangan dalam” dari pelaku peristiwa Revolusi Kemerdekaan, yang mampu memperlihatkan benang halus yang tak terdeteksi selama ini dalam penulisan sejarah Indonesia. Segenap celoteh dan guyonan dalam nalar jawa timuran yang bermunculan di sekujur buku itu diletakkannya sebagai unbearable lightness of being.  Kisah dalam buku itu lalu disimpulkan Pak Bangun sebagai :

“….Sebuah sejarah yang pathetic dan tidak heroik. Sungguh sejarah yang indah, Revolusi yang indah, dan Nalar yang indah.

Peluncuran buku Interlele

Hari peluncuran buku Interlele tiba. Para tamu, kerabat, dan keluarga Pak Hario sudah berdatangan di ruang tamu Rumah Ganeca. Pak Hariopun kemudian datang menyusul diantar oleh Bu Dewi. Seperti biasa arek Suroboyo yang pernah menjadi panglima Bung Karno itu mengenakan baju batik Angkatan 45, lengkap dengan berbagai lencana dan bintang tanda kehormatan militer di dadanya. Namun Pak Bangun tetap belum muncul. Ia masih berada di ruang kerjanya di lantai 2. Beberapa rekan dari Rumah Ganeca sudah bertanya-tanya, di mana ini Pak Bangun?

Akhirnya setelah disusul di ruang kerjanya, Pak Bangun mengatakan kalau sebaiknya bukan dia yang bicara di acara itu.

Lha mengapa?

Begini, begini, begini ……, jawabnya.

O, baiklah. Tapi, bukankah Pak Bangun sendiri yang sudah sekian lama menemani Pak Hario menuliskan memoar ini? Malah, bisa jadi ini karya terakhir beliau, kita tak tahu. Usianya saja sudah kepala 9. Apakah bukan sebaiknya kalau kita bersama turun, memberikan penghormatan terakhir sebagai teman seperjalanannya?

O, iya ya, tukas Pak Bangun. Ini bisa jadi cara kita melepas kepergian dia nanti?

Lha iyalah. Nanti Mbak Cicik yang membuka acara sebagai wakil teman-teman Rumah Ganeca. Ada Dela atau kak Gina yang bisa bawakan acara.

Yo uwis, nek ngono tak temonane medhun.

Jadilah, kemudian Pak Bangun turun ke lantai 1 dan menemui Pak Hario. Lalu terjadi dialog ini :

Pak Bangun: (menyapa sambil memegangi bintang jasa di baju Pak Hario, dengan wajah lugu) Opo iki, Pak? Kok renteng-renteng koyok ngene akehe? Awakmu melok Pramuka tah?

Pak Hario: Hush! Kurang ajar kon iku. Iki bintang gerilya, iki Angkatan 45, dst……

Acarapun berjalan lancar. Namun, apa yang terjadi kemudian ? Benarkah acara itu menjadi perpisahan dengan Pak Hario?

Hanya dalam hitungan tak sampai seratus hari selanjutnya Pak Hario malah sudah menyerahkan langsung 1 naskah buku lagi, dengan ketebalan di atas 250 halaman, yang diterbitkan oleh Abhiseka Dipantara juga, sebuah novel berjudul Dokter Gerilya.

Sudah selesai ?

Belum, ternyata. Pak Hario masih menulis lagi. Di usia 92 tahun pemburu kawakan itu menyerahkan lagi naskah tulisannya, berupa novel Jie Kian Ju. Dan belum lagi novel sejarah itu beredar, sudah datang lagi naskah buku berikutnya. Kali ini berupa memoar lagi, pasangan dari memoar Pertempuran Surabaya-nya, berjudul Prinsip-prinsip Perang : Shinu Made Tatakai.

Pengantar dari Pak Bangun menyebutkan tentang nilai penting  memoar jaman Jepang itu untuk memperlihatkan pilahan ideologis antara sayap nasionalis dan sayap fasis di tubuh militer Jepang. Tidak selayaknya kita menerus-neruskan nalar totaliter dalam memperlakukan sejarah, termasuk dalam memandang masa pendudukan Jepang. Sambil menyerahkan pengantar itu sempat tercetus guyonan Pak Bangun : Lha wis di-sayonara-ke 2 taun kepungkur, kok malah isih isa nulis terus to iki Pak Kecik? Ampuh tenan

Sekitar bulan Mei tahun 2014 buku itu diluncurkan bersama perayaan ulang tahun Pak Hario yang ke-93. Kali itu tanpa kehadiran Pak Bangun. Dan saat acara tiup lilin tiba, Pak Hario mengelak, tetap dengan guyonan arek suroboyoan : “Nyebul-nyebul lilin, malah matek awakku. Kaya londo ae gawe lilin…” Lalu ia berjalan memutari para hadirin di ruang depan Rumah Ganeca itu, dan sambil mengepalkan jari-jari di kedua tangannya Pak Hario berteriak “hidup” berkali-kali, tegas dan mantap suaranya. Para pembaca setia buku-buku Pak Hario mahfum, teriakan itu pula yang disuarakannya di markas arek-arek suroboyo di Kampung Pregolan pada senja hari tanggal 9 November 1945, menjelang penyerbuan brutal 2 divisi pasukan Inggris ke Surabaya.

Kemudian, 2 hari setelah perayaan kemerdekaan pada 17 Agustus tahun 2014 Pak Hario menutup mata untuk selama-lamanya.

Dengan itu, antara sambutan sayonara Pak Bangun yang diniatkan untuk perpisahan dengan Pak Hario hingga  saat kepergian Pak Hario 2 tahun kemudian, sudah lahir setidaknya 4 buku lagi dari arek suroboyo kelahiran tahun 1921 itu. Belum termasuk beberapa naskah yang belum diterbitkan namun sudah diserahkan Pak Hario ke redaksi Abhiseka Dipantara.

Di akhir tahun 2017, tiba giliran Pak Bangun yang menyusul sahabatnya –Pak Hario- pergi menuju “padang perburuan abadi”.

Memberi Arti

Dua teman seperjalanan telah berlalu. Dan Abhiseka Dipantara terus melangkahkan kaki setelah menundukkan kepala sejenak di pusara mereka. Melalui buku-buku dan ceritanya Pak Hario telah memberikan kunci untuk digunakan secara cerdas membuka pintu sejarah Republik. Dan Pak Bangun telah dengan baik mengantarkan orang-orang muda Republik ini masuk melangkah ke abad XXI, ke milenium selanjutnya, tanpa silau dengan matahari Barat yang sedang terus tenggelam, tanpa melupakan suara para leluhur, dari Borobudur, dari Sutasoma, dari La Galigo, dari Syair Tambangraras, dari Mereka yang Dilumpuhkan ….

Lalu kita dengar suara seorang bocah perempuan pembawa lilin bertanya di pinggir peti saat jenasah disemayamkan di bawah altar Gereja Pohsarang, Kediri : Mengapa Pakde Bangun pakai kaca mata dalam petinya?

Jawab sang ibu : O itu agar Pakde bisa membaca buku di alam keabadian.

Dan di tepi jasad Pak Bangun dalam peti kayu itu telah disertakan buku Canto Generale dari penyair Chili Pablo Neruda.  (SELESAI)

**

Share:

Tinggalkan Balasan