Obituari Leon Agusta: Semua Sudah Dimaafkan, Sebab Kita Pernah Bahagia

1018
0
Share:

Oleh Esha Tegar Putra

Sastrawan dan Penyair Indonesia

Ke kota tempat frasa puisinya diabadikan sebagai semboyan, perantau puitik itu akhirnya pulang dan benar-benar berpulang. Sepekan sebelum ia pulang, kata-kata puitik pun sempat ia ucapkan pada anak perempuannya. Lewat telpon genggam, ketika anaknya meminta untuk mengundur sehari saja rencana keberangkatannya dari Jakarta ke Padang, ia berkata: “Jangan, satu hari sangat berarti.” Ia berharap segera sampai di Padang, berkumpul dengan keluarga, menjelang kenangan hari lalu, mungkin karena ia tahu hari-harinya akan sebentar.

Perantau puitik itu adalah Leon Agusta dengan nama kecil Ridwan Ilyas. Leon dan Padang terikat erat, barangkali akan selalu terikat erat, meskipun di kemudian hari orang-orang akan lupa dan tidak mengenangnya. Sebuah frasa dari judul puisi Leon itu akan terus diterakan pada papan nama gedung-gedung pemerintahan kota, pada poster ulang tahun kota setiap tahunnya, spanduk, baliho, baju, hingga gantungan kunci: Padang Kota Tercinta!

Leon meninggal di RSU M. Djamil, Padang, Kamis sore, 10 Oktober 2015. Di pandam-pekuburan lereng bukit Taluk Kabung, jalur mendaki ke arah Painan ia dimakamkan selepas salat Jumat, keesokan harinya. Saya dan beberapa orang kawan turut serta menghadiri prosesi pemakaman itu. Dua karangan bunga dibawa serta mengiringi keranda jenazah Leon keluar dari ambulans hingga ke pandam-pekuburan. Terlihat liang dengan tanah sirah dan basah. Prosesi pemakaman sederhana. Tak ramai orang. Namun Khidmad. Selepas doa, kami turut meraup segenggam tanah, menaburkan tanah tersebut ke gundukan kuburan Leon, lalu beranjak pergi. Saat itu, di kepala saya terngiang dua baris akhir sebuah puisi Leon. Puisi yang pernah diucapkannya saat kali pertama kami berbincang di Taman Budaya Sumatera Barat: Semua sudah dimaafkan/ Sebab kita pernah bahagia (“Suasana”, 2010).

Leon Agusta barangkali nama yang luput dalam pembacaan generasi kesastraan hari ini di Sumatera Barat. Termasuk generasi saya, tak banyak puisi Leon yang dapat kami akses secara lengkap dalam bentuk buku beberapa tahun belakangaan, selain beberapa puisinya yang bertebaran di internet—sebelum Gendang Pengembara (2012) dan terbitan ulang Monumen Safari (2016). Satu sebab, mungkin karena Leon berada di rantau, dan sudah jarang menyiarkan puisi-puisinya. Berbeda dengan kawan segenerasinya Rusli Marzuki Saria yang memilih hidup di Padang. Rusli lebih dikenal karena interaksinya dengan generasi muda di Padang, seringkali turut serta dalam kegiatan diskusi dan pembacaan karya.

Tapi Leon sepertinya terus menyimak perkembangan karya sastra dari Sumatera Barat (khususnya puisi). Tahun 2010, salah seorang dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas menghubungi saya. Ia mengatakan Leon akan ke Padang. Leon ingin berdiskusi dengan saya dan para penyair muda yang berada di Kota Padang. Di tahun itulah pertama kali saya berbincang dengan Leon, di sebuah kedai kopi di Taman Budaya Sumatera Barat. Ketika jumpa, Leon menyebutkan beberapa nama penyair muda dari Padang yang beberapa tahun belakangan ia baca dari halaman sastra koran terbitan Jakarta. Saat itu saya menyimpulkan, Leon tidak benar-benar meninggalkan kampung, tubuhnya mengembara, pikirannya terus berbagi dengan kampung.

Pada pertemuan pertama kali itu saya membenarkan apa yang dikatakan orang-orang: Leon penyair flamboyan. Ia memakai kemeja putih ganih, celana katun hitam bersih, hampir seluruh rambutnya memutih disisir rapi ke belakang—ganyanya “dandy” kata Nirwan Dewanto. Saya cukup terkesima dengan caranya berdialog. Seakan semua kata-kata yang akan dikeluarkan sudah dipersiapkan sebelum pertemuan. Ia menghadapi lawan bicara seperti seorang aktor dalam pertunjukan, tidak dibuat-buat. Pembicaraan selalu diselingi dengan kutipan puisinya. Yang paling terkenang oleh saya pada saat pertemuan pertama itu adalah ketika Leon membacakan puisi “Ya, Kita Memerlukan Seorang Kekasih” (1967): …Ya, kita memerlukan seorang kekasih/ Lengan-lengan yang membelai, memagut jadi satu/ Menyalakan lampu, mendoa dan menyulam impian/ Malaikat-malaikan sorga pun melayang rendah/ Ketika Tuhan merestui satu percintaan/ Hingga bumi pun simpati, turut serta orang-orang lalu/ Sebab demikianlah alam, Tuhan telah ciptakan. Saat pertemuan itu pula saya mengetahui Leon mengidap asma. Tiba-tiba napasnya sesak saat kami berbincang, ia keluarkan inhaler dari saku, ia hirup dalam-dalam. Lantas ia meminta diantarkan ke dalam mess Taman Budaya Sumbar untuk istirahat.

Setelahnya kami sering berkomunikasi. Leon kerap menghubungi saya untuk berjumpa apabila datang ke Padang. Terkadang, ia menelpon untuk mengabarkan agenda-agenda yang sedang dan akan berlangsung di Jakarta. Termasuk soal penerbitan buku puisi Gendang Pengembara (2012) dan rencana pertunjukan puisi Kapal Penyeberangan Hukla yang digarap oleh Afrizal Malna (Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, 8-9 Mei 2012). Di tahun-tahun itu pula Leon kerap menulis kembali dan memberikan pandangan-pandangan kebudayaan lewat koran-koran terbitan Kota Padang. Satu persoalan yang terus ia katakan pada saya adalah pengambil-alihan Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) yang sejak akhir 2010 tak ada kabar berita. Leon sadar pada posisinya, ia orang rantau, meskipun ia tahu paham persoalan yang menimpa DKSB tapi ia tidak dapat langsung mengambil sikap. “DKSB harus diambil-alih oleh yang muda-muda. Saya siap mendukung kalian, kalau kalian menganggap lembaga itu penting dan harus dipertahankan,” kata Leon pada saya. Bahkan hingga tahun 2015, ketika kami bertemu di Taman Ismail Marzuki dalam agenda Asean Literary Festival, ia terus-terusan menggasak saya agar DKSB harus diselamatkan oleh orang-orang muda.

Padang, 1964-1974

Tahun 1964, setelah mengikuti Konfrensi Karyawan Pengarang se-Indonesia di Jakarta, menandatangani Manifesto Kebudayaan (Manikebu), Leon berhenti menjadi guru SMP di Pekanbaru (1961-1964) dan melanjutkan kehidupannya sebagai seniman. Setelah Manikebu dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, 8 Mei 1964, iklim berkesenian di Padang turut bergejolak. Cara pandang kebudayaan yang berseberangan antara Manikebu dan Lekra berimbas pada dinamika kesenian di Padang.

Leon memasuki Padang pada periode tersebut. Ia bersama Chairul Harun, Rusli Marzuki Saria, Zaidin Bakry, menerbitkan buku kumpulan puisi Monumen Safari pada tahun 1966. Kumpulan puisi yang kelak dikenang sebagai salah satu tonggak perpuisian modern Sumatera Barat ini pun hadir tanpa perencanaan panjang. Leon berusama Rusli Marzuki Saria dan Chairul Harun yang pada tahun tersebut sering duduk-duduk sore di kantor Harian Res-Publika—dianggap sebagai corong sastrawan Manikebu—berpikir penting untuk membuat kumpulan puisi bersama. Mereka mengajak Zaidin Bakry, waktu berpangkat Letnan Kolonel, yang juga dekat dengan para seniman. Penerbitan buku itu dibantu oleh seorang warga keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Pondok (Pecinan).

Selain sebagai seorang penyair, Leon juga dikenal sebagai teaterawan. Pada tahun 1968 Leon turut bergabung dengan Kota Padang Teater, pimpinan Nasif Basir. Mereka pernah mementaskan naskah Penghuni-penghuni Gua (William Saroyan) dan Hanya Satu Kali (John Galzworthy dan Robert Meadlemeans). Pada tahun 1972, Leon mendirikan Bengkel Teater Padang, yang kelak dianggap sebagai perintis teater modern di Kota Padang. Pendirian teater ini ditandai dengan pementasan drama satu babak berjudul Pemburu Perkasa (karya Wolf Mankowich, diadaptasi WS Rendra) yang disutradai oleh Leon. Pementasan tersebut berlangsung selama dua hari, tanggal 30 September dan 1 Oktober 1972, di Aula SMA Don Bosco, Jln. Chairil Anwar No.8, Padang. Pementasan tersebut dibantu oleh banyak kalangan sastrawan dan budayawan di Padang. Dalam undangan pementasan tersebut terlihat sederet nama: Mursal Esten (pimpinan produksi), Leon Agusta (sutradara), Joesfik Helmy (asisten sutradara), BHR. Tandjung (stage manager), Rusli Marzuki Saria (keuangan), Wisran Hadi (art director), Abrar Yusra (penata suara), Arbi Samah (naskah), dst. Pementasan tersebut merupakan sebuah upaya untuk menegakkan tradisi kesenian (sastra, teater, tari, musik, suara) di Padang secara bersama-sama[1].

Kedekatan Leon dengan dunia seni memang sudah berlangsung sejak ia kecil. Kelak, pada puisi berjudul “Kata Pengantar Pada Hukla” (1970), Leon mengenangnya pada bait pertama puisi tersebut: Waktu masih kecil/ Sampai tamat sekolah menengah/ Aku sangat suka menyanyi/ Konon kata orang suaraku bagus sekali… Leon kecil kerap ikut dalam sandiwara radio dan main sandiwara dengan bimbingan guru sewaktu ia menempuh pendidikan SGB (Sekolah Guru B), di Bukittinggi tahun 1950-1953. Selama di  SGA (Sekolah Guru A) di Payokumbuh, 1953-1956, Leon juga sering ikut kegiatan deklamasi dan main sandiwara sekolah berbahasa Minang. Ketika ia menjadi guru SGB di Bengkalis (1959) ia juga membimbing para pelajar untuk bermain sandiwara, salah satunya naskah Lorong Belakang karya Bachtiar Siahaan. Saat Leon pindah mengajar di Pekanbaru, ia turut bergabung dengan Teater Lancang Kuning (1962) pimpinan Tenas Effendy dan Teater Nasional Pekanbaru (1963) pimpinan Bustamam Halimy. Kedekatan dengan kesenian itu kemudian terus ia kembangkan ketika berada di Padang.

Selama di Padang pertengahan dekade 60-an hingga pertengahan dekade 70-an dinamika politik memang turut membuat ritme berkesenian hiruk-pikuk. Peristiwa PRRI berakhir di tahun 1961 dengan trauma mendalam bagi masyarakat Sumatera Barat, disambut dengan dinamika Lekra versus Manikebu, lalu hadir peristiwa 1965. Leon salah seorang penyair yang menulis puisi mengenai peristiwa PRRI dengan sebutan “perang saudara”. Pada puisi dalam buku Monumen Safari berjudul “Kenapa Tak Pulang, Sayang?” (1962)—kemudian dimuat kembali pada buku Gendang Pengembara—peristiwa tersebut dimunculkan kembali oleh Leon.

KENAPA TAK PULANG SAYANG

buat Ibunda

Hijaunya wajah danau kita adalah rindu, sayang

Hijaunya daun-daunan rindunya perawan muda

Bisik-bisik di tepian bila hari naik senja

Kampung kita kitan tahun kian lengang

Entahlah. Mana yang pergi tak ada yang pulang

 

Ke manakah gerangan lajang-lajang kita menghilang

Semarak kampung di rembang petang?

Mereka hilang bersama debu perang saudara

Yang tak pulang ditelan hutan

Yang pulang berterbangan

Anakku bilang: bumi luas tempatku tualang

 

Rinduku pun kelabu, Ibu

Tapi empedu di kerongkongan

Ibu pu tak kenal wajahku sekarang

Tak akan ada yang tanyakan anakmu, Ibu

Kalau pun pulang takkan di pinang

Karena kertas kuning, kata-kata yang berjaga

Takkan dikerling karena bukan logam menguning

 

Di Hari Raya, di hari rindu beralun-alun

Jari Upik, ai, lentiknya memetik inai

Selendangnya lepas terkibas angin, Ibu?

Ah salamkulah itu.

1962

Pemilihan istilah “perang saudara” untuk peristiwa PRRI bagi Leon sendiri adalah pemilihan sikap dan bahasa kebudayaan[2]. Sebab dalam bahasa politik selalu terjadi tarik-menarik antara  sebutan PRRI sebagai “pemberontakan” atau “gerakan koreksi”. Puisi “Kenapa Tak Pulang, Sayang?” di atas merupakan gambaran traumatik, ketakutan anak-anak muda yang meninggalkan kampung halaman, karena menjadi korban dari peristiwa tersebut. Leon mengganggap tragedi dari suatu masa yang walaupun sudah lama berlalu namun selalu hidup dalam kenangan. Tragedi tak akan pernah terlupakan bagi yang mengalami. Mereka pergi karena ingin menyelamatkan diri dari bahaya perang dan berbagai akibatnya setelah perang selesai terutama pada masa-masa pembersihan sisa-sisa pemberontakan.

Leon memang tak turut serta memasuki rimba-rimba mendukung gerakan PRRI. Pada tahun-tahun peristiwa tersebut ia sedang menjadi guru SGB di Sijunjung dan Bengkalis. Tapi  trauma akibat peristiwa PRRI sangat mempengaruhi kepenyairannya[3]. Sebab ayah dan abangnya menjadi korban dalam perang saudara itu. Gambaran kesedihan mendalam mengenang kematian ayahnya itu, yang agaknya, ditulis Leon dalam puisi berjudul “Lintasan Kenangan” (1977): “/Di Schiphol suatu pagi/ Musim bunga bagai perawan mandi/ Ia tertegun lama, merasakan sepi/ di lintasan bentangan kenangan/ /Ayahnya seeorang pergerakan di zaman kolonial/ Mati ditembak 8 Agustus 1960/ Puluhan peluru muntah di kepala dan tubuhnya/ Ketika persaudaraan diperangi sampai ke desa-desa/ Di sebuah desa di pinggir danau yang lenggang/ /Kata orang waktu itu terjadi pemberontakan…

Kenangan mengenai perang saudara itu muncul beberapa kali dalam puisi Leon pada periode yang berbeda: pada puisi “Kenapa Tak Pulang, Sayang?” (1962), “Kata Pengantar Hukla” (1977), “Lintasan Kenangan” (1977), “Maninjau, Kampung Kelahiran” (1983), “Robekan Surat 40 Tahun yang Lalu” (1999). Di puisi terakhir, Leon menarik ingatan jauh ke belakang, ketika sebuah surat 40 tahun lalu kembali ditemukannya. Muncul gambaran lanskap kampung di pinggir danau, candaan orang muda, persoalan antara kampung dan rantau, dan kesedihan mengenai seorang kawan yang tewas dalam perang saudara.

ROBEKAN SURAT 40 TAHUN YANG LALU

“Pulanglah Iwan, pohon cengkeh berbuah emas

Di lereng bukit sebelah barat

Wangi kulit manis dan pala lebat buahnya

Pulanglah, perawan muda ceria bermekaran

Akan ada tujuh belas perhelatan lepas lebaran

Bibah sudah dapat suami ketigabelas, orang rantau tentu

Si Badut pun akhirnya dapat jodoh, si Kiah

Janda si Jibun yang cerai mati di Takengon”

 

Surat itu terlipat dalam sebuah buku lama

Bertahun satu sembilan lima lima, bulan dua, tanggal tiga

Dari Sulaiman, temanku, terbunuh waktu perang saudara

Tahun satu sembilan lima sembilan

Waktu subuh mayatnya ditemukan

Tubuhnya memagut batu, terkulai dalam air di tepi danau

Dengan satu setengah kaki.

 

“Hentakan alu di lesung tingkah bertingkah

Ditumbukkan tiga perawan muda

Iwan, pulanglah iwan, Pulanglah Iwan”

 

Kinantan putih, erah ranggahnya

Kokoknya lantang sambil terbang

Di sepanjang lorong kampung

Oh, abang Leman

Setelah ia tertembak, menjelang subuh itu

Perawan desa kami merasa menjadi janda

 

Gema perbukitan, gaung puput tanduk

Di kampung pedalaman, gelak cekikikan

Semua sudah lama, terasa jauh, kian sayup

Dalam kenangan, bayangan jadi riang jadi lara

Aku tak bisa pulang, perang saudara belum usai

 

Hingga kini, nama sulaiman abadi dalam lagu-lagu

Tersimpan dalam pantun, mengalun dalam saluang

Umur sembilan belas ia mati, di tepi danau yang sepi

Ketika perang saudara, 40 tahun yang lalu.

1999

Selain trauma persoalan PRRI, dinamika kesenian lain dalam iklim berkesenian di Padang adalah pada saat Pelaksana Khusus Komando Keamanan dan Ketertiban Daerah (Laksuskomkabtibda)—dimulai 10 Oktober 1965. Pada periode ini beberapa kegiatan yang boleh dilakukan adalah tidak menyebabkan gangguan keamanan, tidak merongrong pemerintah yang sah dan tidak melawan Pancasila. Setiap kegiatan harus mendapatkan izin resmi, paling tidak dari polisi. Tetapi sering izin itu harus didapatkan pula dari Laksuskomkabtida dan Kodim. Namun terkadang perizinan tersebut kadang tidak jelas ketentuannya.

Leon Agusta bersama Joesfik Helmy pernah masuk tahanan di tahun 1974 karena dianggap melakukan provokasi di Padang terkait peristiwa Malari saat melakukan kegiatan kesenian. Dalam buku otibiografi A.A Navis (1994) Leon mengenang ketika ia ditangkap dan ditahan mulai 16 Januari 1974, merasa benar-benar sendirian, kehilangan kawan—Leon berterima-kasih pada Navis karena berupaya menjamin agar ia dapat dibebaskan dari tahanan. Sebelumya, Leon pernah juga ditahan atas dakwaan pasal 107 KUHP, dari Januari hinga Juli 1970 dan ia menjalani hukuman di penjara Tanah Merah, Pekanbaru. Selama ia dipenjara ia terus menulis puisi dan beberapa puisinya tersebut disiarkan di Majalah Horison edisi Desember 1970. Salah satu puisi yang ditulisnya di dalam penjara Tanah Merah yang ditujukan untuk istrinya berjudul “Surat-Surat Buat Lisa Agusta” seakan memberikan gambaran betapa puisi bagi Leon merupakan ruangan berbagi antara keliaran hidup dan cinta mengharu-biru: “/…Lisa/ Bukan semata nasib yang memisah/ Tapi adalah keliaranku semata/ Sedang kau begitu jinak/ Kelelaan dan kehinaan hidupku/ Kau rangkul tanpa memberi tara/ Hingga aku terpaut pada belenggu/ keselarasanmu dalam derita/ /Kini, dalam tak bisa saling menyatukan sunyi/ Kita pun jadi tergoda-mungkin/ untuk cemas atau mengutuki/ Inilah bahasa rindu percintaan kita/ Bahasa sepi yang nakal/ Gendangnya menikam-nikam/ /Kemboja di halamn rumah kita dulu/ Ditanam bukan buat perpisahan atau menunggu/ Kini jadinya begini: / Semua tak lagi melengkapkan kita/ Kemboja di halaman, kebun cengkeh di belakang/ Menjadi pohon air mata…

Kehidupan berkesenian di Padang di tahun-tahun tersebut memang sulit. Bertahan menulis karya sastra saja tidak akan dapat membuat ‘dapur berasap’. Hampir semua sastrawan pada periode tersebut merangkap sebagai wartawan. Rusli Marzuki Saria mengenang, sebelum Leon menjalani hukuman di penjara Tanah Merah, Leon turut menjadi wartawan bersama Rusli di Koran Haluan, tahun 1969. Di tahun itu Koran Haluan baru mendapatkan izin untuk terbit kembali setelah pada tahun 1958 dilarang terbit oleh pemerintah karena mendukung PRRI. Tapi tak sampai setahun Leon menjadi wartawan di Haluan, ia mendapat panggilan karena kasus lamanya di Pekanbaru, hingga ia diputuskan harus menjalani hukuman. Rusli mengenang Leon sebagai pribadi kritis, kosmopolit, dan loyal pada kawan. Dalam kondisi sulit waktu itu bahkan Leon masih sempat berbagi ruangan rumahnya di daerah Gaung, Teluk Bayur, untuk dihuni oleh Rusli dan keluarga.

Barangkali kisah-kisah hidup selama di Padang itu membuat Leon membahasakan Padang sebagai “kota tercinta” dan “kota kenangan” dalam beberapa puisinya. Satu hal paling membekas bagi Leon tentu bawa judul puisinya “Padang Kota Tercinta” diabadikan menjadi semboyan kota Padang. Judul puisi yang pada pemerintahan Walikota Syahrul Wujud (1983-1988 dan 1988-1993) dijadikan semangat pendorong rasa kepemilikan bersama warga pada kota—Perda No.1 Tahun 1992 tanggal 21 Maret 1992 lahir perda mengenai Lambang Daerah Kotamadya Padang sekaligus semboyan Padang Kota Tercinta.

Hukla dan Pengembaraan, 1974-2015

Pengembaraan kepenyairan Leon agaknya memang dimulai ketika pertengahan dekade 70-an ketika ia mulai bertolak dari Padang. Konsepsi pengembaran tersebut hampir sama dengan konsepsi perantauan yang disandang oleh puaknya, Minangkabau. Meskipun pada kemudian hari ia berupaya mengkritik pengidentifikasian diri dalam dunia pergaulan di rantau, ia mempertegas diri sebagai seorang kosmopolit, dengan lebih dahulu mempererat kecintaannya pada bangsa dan tanah air.

Barangkali dengan cara tersebut Leon mengkritik pola pemahaman puaknya terhadap konsepsi pengembaraan di perantauan. Rantau pada dasarnya memang bukan hanya sebagai gerbang untuk memasuki ‘alam’, tapi juga merupakan satu gerbang lain yang dilalui oleh orang-orang yang tidak puas di masyarakat ‘alam’ (Minangkabau), agar mendapat jalan keluar. Dengan merantau orang-orang dapat memudahkan ketegangan internal yang muncul dari ketidak-cocokan antara konsepsi Minangkabau tentang hubungan antara individu dengan masyarakat dan struktur sosial matrilinielnya. Penegasan tersebut dapat dilihat dari pengantar Leon dalam buku Hukla (1979). Bahwa ia dalam pengembaraan hidup terus berupaya belajar “membaca” seperti yang diwariskan filsafat kebudayaan Minangkabau, “alam terkembang dijadikan guru”. Ia terus berupaya bertanya, mencari, merasakan dan memikirkan hal-hal, dan kecintaan pada bangsa dan tanah air adalah hal-hal yang terus menggoda dirinya[4].

Pengembaraan memang menjadi satu bagian penting dalam lanskap perpuisian Leon. Pengembaraan membuat puisinya bergerak dari satu kerinduan ke kerinduan lain. Pengembaraan seakan menjadi “amanat” dari sebuah “dosa” yang mesti disandang dengan “mesra”. Setidaknya gambaran itu yang dapat dibaca dari puisi Leon berjudul “Mengembara” (1970). Puisi yang sepertinya mengawali konsepsi rantau dan pengembaraannya

MENGEMBARA

Dengan mesra kusandang dosa itu

Sudah diamanatkan bagiku: mengembara

Bagi hasratku yang berjalan jauh

 

Hingga sudah biasa aku berpisah

Nafas damai dan tidur yang nikmat

Khianat diterima tanpa kesumat

 

Kini

Aku menghempas sendiri

Loncat dan terusir dari segala dekapan

Setalah amanat diterima: mengembara.

Penjara Tanah Merah

Pekanbaru, 1970

Di tahun 1974 Leon mulai mengembara, melanglangbuana dari satu negara ke negara lain. Hampir sebagian besar pengembaraannya terkait dengan bidang teater. Namun kemudian hari pengembaran tersebut akan terhubung dengan cara pandangannya dalam menghadirkan puisi.  Dimulai dari penyelanggaraan workshop teater di Kuala Lumpur bersama Universitas Kebangsaan Malaysia dan Seniman Anak Alam dibawah perlindungan Usman Awang di tahun 1974. Di tahun 1975, Leon beranjak ke Jakarta dan bergabung dengan Teater Saja pimpinan Ikranagara dan ikut bermain dalam beberapa pementasan di Taman Ismail Marzuki. Dan di tahun 1976, dari bulan Agustus hingga Desember, ia mengikuri program penulis internasional di Universitas Iowa, Kota Iowa, Amerika Serikat—ia dinyatakan sebagai Honorary Fellow of Writing dengan paper presentasi: Why and How do I Write Poetry.

Di bulan Januari hingga April, 1977, dengan grant dari The JDR 3rd Fun New York, Leon mengunjungi beberapa pusat teater di Amerika Serikat sebagai seorang peneliti. Ia menulis analisis komparatif dan fungsi sosial teater dari grup yang dikunjungi, seperi: La Mama Theater (New York), Arena Theater (Washington DC), Free Street Theater (Chicago), Magic Theater (San Fransisco), East-West Theater (Los Angeles), dan beberapa grup lainnya. Tahun yang sama ia menghadiri Festival Teater Kontemporer se-Dunia di Nancy, Prancis, masih sebagai seorang peneliti dengan grant dari The JDR 3rd Fund, New York. Di tahun 1978, Leon mengikuti Pacific People Theater Festival di San Jose, California, Amerika Serikat, dan menyelenggarakan workshop bersama Cecile Giodotte Alvarez. Tahun yang sama ia kembali ke Iowa sebagai penulis tamu dari bulan September hingga Oktober.

Buku kumpulan puisi Hukla (Puisi Indonesia, 1979) lahir pada periode perjalanan teater tersebut. Leon menyebut puisi-puisi dalam buku itu sebagai “puisi-puisi kamar dan puisi-puisi auditorium”. Perubahan pola perpuisian Leon dalam buku tersebut memang tampak pada kecendrungan melakukan protes sosial dalam puisi. Dalam pandangan Leon sendiri, Hukla adalah nama yang diberikan buat serangkaian puisi (saja-sajak), dengan nama lain puisi auditorium. Penaman itupun lebih pada jenis puisinya, dalam artian, seerangkaian puisi-puisi yang suasananya cocok untuk ditampilkan pada acara pembacaan-pembacaan di sauatu tempat dan waktu tertentu bersama hadirnya orang lain atau publik, dari pada dibaca sendiri, dalam kamar yang sunyi.

Kehadiran puisi-puisi dengan tema Hukla agaknya memang melewati pertimbangan pembacaan puisi di atas panggung. Hukla seperti serangkaian puisi yang menghadirkan sorak-sorai orang ramai, bebunyian genderang, teriakan-teriakan kesakitan bersama. Hukla sengaja dihadirkan sebagai puisi dramatik yang proses pembacaannya dipersiapkan untuk beberapa orang. Bagi Leon seendiri, Hukla adalah suara, ia hadir secara “unik” untuk mengungkapkan suasana tertentu, dukung mendukung dengan kata-kata lainnya. Hukla adalah jerit pilu yang lahir dari kecemasan berlapis-lapis, dari ketakutan, yang sifatnya aneka ragam. Serangkaian Hukla ini dapat disimak dalam puisi-puisi Leon berjudul: “Kata Pengantar Pada Hukla”, “Hukla Final Pacuan Kuda”, “Hukla Mimpi Tanpa Akhir”, “Hukla Bulan dan Matahari”, “Hukla Mengganti Rakyat”, “Hukla Tangis Anak”, “Hukla Abdul Karim” Hukla Hamlet yang Ditinggalkan”, “Hukla Koran Lisan”, Hukla Pesta di Rumah Edan”, dst. Beberapa puisi Leon juga tampak dituliskan untuk kemudian dihapakan menjadi sebuah paduan suara, dalam: “Mangsa-Mangsa” (1979), “Bunga” (1979), “Sepi Para Nabi” (1972), “Jerit Burung” (1982), “Sajak Pertama” (1986).

Pada Temu Sastra 1982 di TIM (6-8 Desember 1982) dalam catatan mengenai konsepsi kepenyairan, Leon kembali berupaya mendudukkan definisi puisi auditorium[5]. Leon menganggap penamaan puisi auditorium beberapa tahun belakangan yang ia ungkapkan memang terlalu sederhana dan susah untuk dilengkapi. Ia tidak dapat (dan tidak mau) memberi rumusan sempurna untuk istilah “puisi auditorium” sebab rumusan berupa deefinisi tidak diperlukan dan dianggap berbahaya. Namun menurut Leon: “Menulis puisi yang enak dibacakan di auditorium adalah satu godaan yang sangat deras dalam diri saya—disamping penciptaan puisi sebagaimana lazimnya. Tidak hanya untuk dibacakan oleh satu orang, tetapi dua orang, tiga, empat atau beberapa saja. Bisa dibayangkan, pelbagai kemungkinan jadi terbuka. Yaitu kemungkinan yang dijangkau oleh puisi itu dari luar dirinya seebagai puisi, kemungkinan yang bersumber dari auditorium dengan seegala elemen-elemen artissik yang disediakannya dan dapat ditampungnya. Misalnya, nada dan warna-warna vokal, juga musik dan yang terakhir juga ada kemungkinan untuk menjangkau kemungkinan muncunya gerak. Cahaya dan pentaan panggung, tentu saja…”.

Pergulatan Leon dengan apa yang disebutnya sebagai puisi auditorium memang tidak berlangsung lama. Periode ini hanya memberi penanda bahwa ada satu kencendrungan berbeda dari Leon dalam memandang puisi dan publik. Perjalanannya dalam bidang teater dan pengalamannya melihat pembacaan puisi di TIM memberi pengaruh besar dalam cara pandangnya berpuisi. Ia menganggap, pada periode teresebut, di tengah suara dan gema-gema yang mengungkapkan keterpencilan puisi, auditorium atau ruang pembacaan puisi harus diberi tempat istimewa. Ia merasa puisi-puisi auditorium ideal dengan kondisi waktu itu; di mana pembacaan-pembacaan puisi sedang ramai dilaksanakan; di mana puisi langsung disampaikan pada mereka yang berhak menikmatinya. Pandangan Leon terhadap puisi auditorium turut terpengaruh dari gaya pembacaan puisi Rendra yang dianggapnya menakjubkan; Taufik Ismail yang memikat dan mengasyikkan; Darmanto Jatman yang santai dan pintar menggelitik; dan Sutardji Calzoum Bachri yang tampak “bringas”, penuh teror dan tenggelam dalam ektase.

Buku kumpulan puisi Gendang Pengembara dapat dijadikan rujukan melihat gerak dan perubahan puisi Leon dalam rentang waktu 50 tahun kepenyairannya. Dalam buku puisi tersebut terhimpun sepilihan puisinya dari buku puisi terdahulu: Monumen Safari: antologi bersama (1968), Lagu Hujan dari Tenggara (1974), Catatan Putih (1975), Nyanyian yang Kembali (1977), Hukla (1978). Bila disimak kumpulan puisi Gendang Penggembara terdapat beberapa perubahan dilakukan Leon terhadap puisi-puisinya. Perubahan tersebut berupa pengantian kata-kata, penghilangan kata bahkan hingga beberapa bait, dan pengubahan judul.

Setelah periode Hukla, atau periode puisi auditorium, Leon memang kembali pada apa yang disebutnya sebagai puisi kamar. Leon kembali menulis puisi dengan gaya sebelumnya. Ia kerap menghadirkan puisi suasana dengan ketertiban berbahasa Indonesia. Perbedaan Leon dengan penyair segenerasinya dari Sumatera Barat memang dapat dilihat khususnya secara tematik. Leon sejak awal kepanyairan sepertiya tidak tertarik menggarap tema-tema berangkat dari lokalitas Minangkabau. Namun kerinduan-kerinduannya terhadap suasana kampung halaman, kenangan pada kota tercinta, hasrat perjalanan dan pengembaraan, serta pertanyaan terhadap “waktu” kerap hadir hingga puisi-puisinya periode 1990 hingga 2000-an.

Sebuah gambaran puisi kerinduan Leon terhadap “kota tercinta” hadir dalam puisi “Perjalanan Senjakala (2009):

Rinduku tersesat dalam kehilangan, kenangan sebuah kota

Yang namanya kupanggil deengan nyanyian dan kata-kata cinta.

Orang-orang pun menyebutnya sepeerti dalam nyanyianku.

Padang Kota Tercinta

Senja merayap pergi sebagaiman datangnya

Orang-orang berjalan merunduk ikut panggilan adzan

Ada yang terjerembab dan hanyut dalam sungai deritanya

Kotaku, kesayanganku. Apa kabar percintaan kita?

Apa yang dikenang dari Leon?

Jika ada ada yang bertanya: apa yang paling kau kenang dari Leon? Maka saya akan menjawab: puisinya yang “manis” dan “melankolis”. Ada salah satu puisi Leon yang sampai pada saat kematiannya baru judul saja yang saya tahu, tapi spirit dari judul puisi tersebut mampu dan turut membangun sebuah gairah dalam diri saya dalam mencintai sebuah kota. Leon dan cara berbicaranya adalah kesatuan dari puisinya. Setiap berjumpa dengannya selalu saja ada puisi di tengah-tengah perbincangan. Ia dikenal juga kerap menganjurkan orang-orang muda di Padang untuk melakukan pengembaraan-pengembaraan. “Kalau tidak keluar aku dari Padang sudah jadi monyet aku di Sigiran,” candaan Leon.

Leon anak Sigiran, Maninjau, melihat pengembaraan tubuhnya usai dan maut hampir sampai. Kerinduan-keriduannya pada kota kenangan ia tuntaskan dengan pulang dan berpulang di Padang. Konon, beberapa bulan sebelum kematiannya, beberapa orang di Padang berniat menerbitkan ulang buku kumpulan puisi Monumen Safari, Leon tidak mengizinkan karena ia menganggap beberapa puisinya di dalan buku tersebut tidak bagus: jelek. Tapi beberapa hari selang kematiannya ia mengizinkan terbitnya buku tersebut tanpa pengeditan sedikitpun.

Sepanjang pergaulan tentu sudah banyak pengalaman orang-orang berhubungan dengan Leon, baik di Padang atau Jakarta. Pandangan-pandangannya mendapat tempat, sekaligus diabaikan, termasuk oleh generasi saya di Padang. Ada tegangan antara cara pandang “orang rantau” dan “orang kampung” yang hingga sekarang selalu menjadi persoalan, dan Leon tentu mengerti akan hal itu. Tahun-tahun terakhir Leon mengunjungi Padang dalam pandangan saya merupakan upayanya untuk kembali dekat dengan situasi kota kenangannya. Ia menulis catatan-catatan kebudayaan khusus untuk Padang di beberapa koran. Ia berupaya turut serta masuk ke lingkungan orang-orang muda, lingkungan yang sudah lama ditinggalkannya. Tapi tahun-tahun terakhir itu pula kesedihannya seakan menjadi-jadi dalam melihat potret perubahan kota Padang, melihat kondisi berkesenian di sana. Apabila membaca puisinya berjudul “Di Depan Masjid (Reportase dari kota kenangan)” maka saya akan selalu ingat satu kejadian yang membuat saya turut sedih mengenang Leon. Suatu malam di tahun 2012 seusai menonton sebuah pertunjukan di Taman Budaya Sumatera Barat saya dan istri melihat Leon duduk sendirian di kedai kopi kurang-lebih pukul 23.00 WIB. Saya bertanya kenapa ia duduk sendirian. Ia menjawab: “Om mencari kawan untuk pulang. Tak ada yang mau mengantar pulang…”. Leon Agusta, semua sudah dimaafkan, sebab kita perenah bahagia.

Catatan Akhir

[1] Dari undangan pertunjukan Pemburu Perkasa, Bengkel Teater Padang, 1972.

[2] Leon Agusta, Merantau, Kata yang Kian Redup, Harian Singgalang, 20 November 2012.

[3] Damhuri Muhammad, Gendang Kepulangan Leon Agusta, Harian Padang Ekspres, 13 Desember 2015.

[4] Leon Agusta, “Surat Cinta”, kata pengantar untuk buku puisi Hukla (Puisi-puisi kamar, Puisi-puisi auditorium), Jakarta: Puisi Indonesia, 1979.

[5] Leon Agusta, Konsepsi Kepenyairan, Temu Sastra 1982, Dewan Kesenian Jakarta, di Taman Ismail Marzuki, 6-8 Desember 1982.

Beberapa data dari tulisan ini diolah dari dokumen Leon Agusta Institute, Padang. Wawancara dengan Rusli Marzuki Saria dan M. Ibrahim Ilyas pada 16 Agustus 2017 di Padang, Sumatera Barat.

Makalah Esha Tegar Putra ini dibacakan saat “Diskusi Kamis: Warisan Sastra Indonesia” dalam program LIFEs (Literature & Ideas Festival Salihara) 2017, Kamis, 12 Oktober 2017.

Sumber: eshategarputra.com

 

Share:

Tinggalkan Balasan