Mary Lambert dan Gangguan Jiwa di Tempat Kerja

Share:

Mary Lambert, sebelum terkenal seperti sekarang ini, dia pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah bar. Sembari bekerja Mary bernyanyi dan menulis lagu yang gigih berjuang. Tibalah masanya, berkat lagu “Same Love” ia kini populer. Namun bukan karena itu saja ia dikenal, ada hal lain selain itu. Dia melawan gangguan jiwa bipolar!

Mary dinominasikan untuk dua penghargaan Grammy Awards untuk lagu “Song of the Year” dan “Album of the Year” bersama Macklemore and Ryan Lewis. Begitu menyangkut musik, Mary Lambert tidak pernah takut menyampaikan topik-topik sensitif. Usianya boleh muda. Penyanyi kelahiran Amerika Serikat, Seattle, Washington, 3 Mei 1989 hati dan pikirannya jauh melampaui usianya. Pada 2012, Lambert sudah menyanyikan lagu “Same Love” yang mengadvokasikan hak-hak gay.

Dalam catatan Agnes Aristiarini, lagu Mary yang lain, “Secrets”, mengajak masyarakat terbuka menghadapi gangguan jiwa bipolar, seperti yang ia alami. Gangguan bipolar adalah perubahan suasana hati yang sangat drastis. Semula murung, tiba-tiba menjadi sangat bahagia. Semula bersemangat, disebut fase mania, tiba-tiba masuk fase depresi: cemas, ketakutan parah, hingga hilang minat pada seluruh aktivitas yang dijalani, kadang sampai mau bunuh diri.

Lambert tidak malu mengakui masalahnya. Ia berani menceritakan pengalamannya selama lima tahun berjuang melawan gangguan bipolar. “Kala itu, mood saya begitu cepat berubah. Dari kecemasan yang sangat, paranoid, malu luar biasa, sampai godaan bunuh diri,” tulis Lambert dalam Instagramnya. Kita ikuti catatan Agnes selanjutnya.

“Sangat penting menghapus stigmatisasi pada segala bentuk gangguan jiwa, karena ada banyak orang memikul rasa bersalah dan rasa malu yang tak perlu. Setiap orang pernah melalui sesuatu, menghadapi sesuatu, dan segala hal yang harus mereka atasi” Mary Lambert

Ia tidak sendiri. Mengutip Huffington Post, sekitar 6 juta penduduk dewasa AS menderita gangguan bipolar. Yang mrprihatinkan, orang-orang dengan kondisi bipolar ataupun gangguan jiwa pada umumnya sangat berpotensi distigmatisasi.

Di laman Mental Health Australia disebutkan bahwa satu di antara lima orang Australia juga menderita gangguan kesehatan jiwa. Seperti di negara-negara lain, mereka tidak segera pergi mencari pertolongan karena takut kena stigma.

Demikian pula halnya di Indonesia. Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan,-kesehatan jiwa masih menjadi salah satu masalah di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, prevalensi gangguan mental dengan gejala depresi dan kecemasan mencapai sekitar 14 juta orang untuk usia 15 tahun ke atas. Ini berarti 6 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Untuk prevalensi gangguan jiwa berat, di antaranya skizofrenia, 400.000 orang atau 1,7 per 1.000 penduduk.

Gangguan kesehatan jiwa memang masih menjadi masalah dunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016, ada sekitar 35 juta orang yang menderita depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, dan 47,5 juta terkena demensia.

Tidaklah mengherankan jika WHO mencanangkan Hari Kesehatan Jiwa setiap 10 Oktober untuk mengingatkan perlunya memberikan perhatian pada kesehatan jiwa masyarakat dunia. Pertama kali diperingati tahun 1992 atas inisiatif Federasi Dunia untuk Kesehatan Jiwa (WFMH)-suatu organisasi dengan ang-gota lebih dari 150 negara-Hari Kesehatan Jiwa menjadi sarana para pihak yang bekeija di bidang kesehatan jiwa untuk mem-bicarakan apa yang mereka tangani dan apa yang diperlukan untuk meningkatkan kesehatan jiwa penduduk dunia.

Tahun ini, WHO memilih tema “Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja” dengan pertimbangan, sebagian besar waktu orang dewasa dihabiskan di tempat kerja. Kenyataan menunjukkan, depresi dan kecemasan berlebihan adalah gangguan jiwa yang paling sering ditemukan di tempat kerja, berdampak pada kemampuan dan produktivitas bekerja.

Data WHO menunjukkan, lebih dari 300 juta penduduk menderita depresi dan menjadi pemicu ketidakmampuan dalam banyak hal. Selain itu, lebih dari 260 juta orang hidup dalam gangguan kecemasan, selain yang menderita depresi dan kecemasan sekaligus. Berdasarkan kajian WHO, diketahui depresi dan kecemasan ini merugikan ekonomi global hingga 1 triliun dollar AS setiap tahun karena hilangnya produktivitas.

Tak dapat dimungkiri, pengalaman di tempat kerja menjadi salah satu faktor penentu kesejahteraan. Oleh karena itu, pemilik dan pemimpin perusahaan wajib menciptakan tempat kerja yang sehat, nyaman, dan membuat para pekerja jauh dari gangguan jiwa. Lingkungan kerja yang baik, di sisi lain, juga akan meningkatkan produktivitas karyawan sekaligus perusahaan.

Berhati-hatilah Anda! Utamakan kesehatan jiwa.

(Rujukan utama: Agnes Aristiarini, Harian Kompas, 10 Oktober 2017)
Share:

Tinggalkan Balasan