Linus Torvald dan komunisme dalam teknologi

1443
1
Share:

Sebuah gerakan komunisme dalam teknologi, setidaknya itulah tuduhan dari Steve Balmer terhadap ekosistem open source, terutama sistem operasi linux, mantan CEO yang menjabat selama lebih dari satu dekade di perusahaan raksasa teknologi Microsoft.

Terasa pantas memang sengitnya tuduhan orang nomer satu Microsoft ini, linux yang bibitnya berkembang dari seorang programer muda bernama Linus Torvard ini telah menjelma menjadi kekuatan menakutkan yang mengancam dominasi kapitalisme Microsoft di ranah teknologi.

Pergerakan sistem operasi Linux ini memang sangat mengejutkan banyak pihak, terutama raksasa teknologi komersial. Dengan mengusung lisensi open source, yang tidak hanya berarti bahwa sistem operasi ini gratis, tapi bahwa semua orang bisa melihat kode sumber yang menjadi resep yang sangat dirahasiakan oleh para pemain komersial. Entah berapa kerugian secara materi yang dihasilkan dari kolaborasi pemain open source, termasuk linux, yang pasti ordenya lebih dari jutaan USD.

Linus Torvald adalah orang yang berada di belakang suksesnya linux, dan mempromosikan konsep open source sehingga lebih dikenal dunia. Bukan hanya sekali Linus Torvald mengguncang dunia, project keduanya yang tidak kalah mentereng adalah menciptakan suatu tool kolaborasi antara para programer yang semakin mengakselerasi pergerakan bawah radar penggiat open source.

Saat ini lebih dari satu milyar perangkat yang menggunakan linux sebagai pondasi sistemnya, sehingga bisa dibilang linux dan open source project adalah tulang punggung internet dan teknologi saat ini.

linus torvald

Popularitas Linus Torvald memang tidak sementereng Steve Jobs, Bill Gates, atau yang saat ini sedang banyak digaungkan Elon Musk, Pendiri Tesla. Sosok Programer yang telah memulai menulis kode pertamanya saat berusia 11 tahun ini mulai menuliskan kode linux dari umur 20-an. Dengan usianya yang muda saat itu, tentu saja Linus bisa saja mengkomersilkan produknya sehingga menjadi Milyuner Teknologi, sebagaimana kompatriotnya di Silicon Valley.

Tapi sosok yang dikenal sangat keras kepala dan persisten ini memilih jalan lain, dikenalkan dengan konsep open source dari seorang teman, dia memilih untuk menggratiskan hasil karyanya dan bukan itu saja, memperbolehkan orang lain, untuk berkontribusi dalam pengembangan produknya sampai saat ini. Linux tentu saja tidak bisa dikecilkan maknanya menjadi sebuah produk, bahkan tidak ada perusahaan yang bernama Linux yang menjadikan posisinya sangat unik.

Jenius yang rendah hati

Banyak yang mengira nama Linux diambil dari nama penemunya Linus secara sengaja oleh penemunya sendiri, tapi tidak begitu faktanya. Adalah Ari Lemmke, seorang temannya yang membantunya mengupload kernel yang dibuat oleh Linux ke FTP server yang membuat sebuah direktori yang dia namakan Linux.

Linux sendiri awalnya ingin menamai hasil karyanya “freak” sebuah akronim dari Free dan X (tanda dari sistem operasi berbasis unix).  Linus Torvard adalah seorang yang rendah hati, bahkan dalam beberapa interviewnya menyebutkan bahwa dia mempunyai kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain secara langsung.

Meskipun begitu sederet penghargaan bergensi telah disematkan atas nama teknologi kepadanya, sebut saja penghargaan dari Museum Sejarah Komputer, NEC Corporation, Millenium Technology Prize, Internet Hall of Fame, dan tentunya IEEE Computer Pioneer award dan sederet penghargaan bergengsi internasional lainnya. Majalah Times pun menobatkan Linus Torvald menjadi salah satu orang berpengaruh di Dunia pada tahun 2004, menyusul setelah menjadi orang terpenting di dunia nomer 17 menurut polling pada tahun 2000.

 

linux

Linux sebuah masterpiece dari gerakan open source

Pada tahun 1991, Linus Torvald membagikan purwarupa sistem operasi pertamanya dalam sebuah mailing list. Seorang temannya, Lars Wirzenius, lantas mengenalkannya pada konsep berbagi kode sumber ala open source dengan membawanya pada seorang guru open source. Richard Stallman.  Pada awal Linus membagikan kode sumber dari linux, sebagian besar hanya menjadi penonton dan pengkomentar tanpa berdistribusi secara langsung pada kodenya.

Sifatnya yang bisa dibilang persisten secara ekstrim, membuatnya mampu mengeluarkan versi pertama pada tahun 1994 dan mencuri perhatian banyak programmer kelas dunia yang akhirnya berlomba lomba menyumbangkan hasil pemikirannya pada kernel linux buatannya.

Saking banyaknya programmer yang berkontribusi, persentase kontribusi linux torvald sendiri paling besar hanya 2% dan saat ini kontribusi linus sendiri amat sangatlah kecil. Linus Torvald pun menjelma, dari seorang programmer muda anti sosial yang tidak dikenal siapapun menjadi  salah seorang penemu terbesar abad ini.

linus torvald

 

Cara berpikir Linus Torvald

Linus Torvald adalah seorang asli Finlandia, lahir dari keluarga yang sangat radikal di kala itu. Linus dalam pengakuannya sendiri mengatakan bahwa dia adalah seorang ateis. Bahwa dengan menjadi ateis dia menjadi lebih menghargai alam. Linus akhirnya menjadi warga negara Amerika Serikat melalui proses naturalisasi.

Linus adalah seorang pribadi yang sangat percaya bahwa persistensi dan loyalti di atas segalanya. Hampir tidak ada di dunia teknologi silicon valley yang bekerja di satu kantor tanpa pindah-pindah kecuali Linus Torvald. Filosofi penemuannya ada sebuah penemuan hebat lahir dari sebuat penemuan penemuan kecil yang tidak hebat, dan dia memposisikan diri lebih kepada Thomas Edison daripada Tesla.

Meskipun begitu, tabiat Linus dalam berkolabarasi tim mungkin tidak sehebat kemampuan membuat kode nya. Ada beberapa keluhan dari rekan programmer lantara gaya komunikasi Linus yang cenderung blak-blakan dan keras untuk mencapai standar kualitas yang dia inginkan.

Open Source = Komunisme ?

Dunia open source memang masih minim berita terutama di Tanah Air, adapun, kita hanya menjadi pengguna ketimbang menjadi pemain, salah satu sistem operasi anak bangsa yang didasari oleh penemuan Linux seperti BlankOn memang ada, tapi dengan popularitas yang rendah menjadikan Indonesia belum mampu menjadi kontribusi open source yang dominan.

Tapi bila nanti terjadi, jangan lah pergerakan open source ini sebagai gerakan komunisme ala Steve Ballmer. Pada dasarnya, terminologi open source ini boleh disamakan dengan budaya Indonesia asli bernama gotong-royong, hanya saja fokusnya pada bidang teknologi. Bila dengan begitu apakah anda mau menjadi kontributor open source ?

Share:

Tinggalkan Balasan