Lika-Liku Perjalanan Hidup Hidayat Martaatmaja

1344
0
Share:

Sebelum meninggal, mantan Presiden Soeharto pernah menanyakan kabar tentang Hidayat Martaatmaja melalui pengusaha Bob Hasan. Soeharto mengatakan bahwa ia adalah seniornya satu-satunya yang masih hidup. Ketika Hidayat dikebumikan di Kalibata. Soeharto bermaksud mau menghadiri, tapi terhalang karena kesehatannya terganggu. Siapakah sebenarnya Hidayat Martaatmaja?

Hidayat Martaatmaja adalah Menteri Perhubungan Darat, Menteri Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata pada Kabinet Kerja IV dan Kabinet Dwikora I pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Sebelumnya, ia mengikuti karier militer sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, dengan bergabung dalam KNIL hingga masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dalam Konfrensi Meja Bundar, ia menduduki beberapa jabatan penting di pemerintahan. Tahun 1945 terbentuklah tentara nasional, Hidayat diangkat sebagai kepala staf. Kemudian ia diangkat menjadi Wakil Panglima Divisi Siliwangi di Tasikmalaya. Lalu ia menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (AP) I dan sewaktu Perdana Menter Amir Syarifudin berunding di Jakarta menjelang Perjanjian Renville, ia ikut dalam delegasi Indonesia sebagai penasihat militer.

Kolonel Hidayat Martaatmaja dipindahkan ke Sumatera menjadi Panglima Komando Toritorium Sumatera, di mana Panglima Komando Teritorium Jawa diajabat oleh Kolonel A.H Nasution dengan ajuan Kapten Islam Salim, putera Haji Agus Salim. Ketika pecah aksi militer Belanda ke-2 atau Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948, Hidayat berada di Sumatera Tengah.

Setelah pengakuan kedaulatan, melalui Konfrensi Meja Bundar, tanggal 27 Desember 1949 Kolonel Hidayat memimpin misi pembelian barang dan senjata di luar negeri. Dia sempat dituduh oleh Kolonel Suhud melakukan korupsi yang sama sekali tidak benar adanya. Karena Kolonel A.H. Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tidak berbuat apa-apa, maka Kolonel Hidayat memilih keluar dari TNI dan pindah ke daerah pegunungan Cipanas, sampai kemudian direhabilitasi nama baiknya oleh Perdana Menteri Wilopo dan Menteri Djuanda Kartawidjaja.

Hidayat lalu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan. Dia pernah dipanggil oleh Presiden Soekarno dan ditanya apakah mau menjadi KSAD menggantikan A.H. Nasution ditengah tengah krisis antara Presiden Soekarno dengan Militer saat itu. Namun Hidayat menolak dengan alasannya menjaga semangat persatuan di kalangan Militer dan menghindari perpecahan. Akhirnya Presiden Soekarno mengangkat Hidayat sebagai Menteri Perhubungan Darat dan Pariwisata.

Ia mengakhiri karier dinas militer dengan pangkat Letnan Jenderal. Kemudian ia diangkat menjadi Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata pada Kabinet Kerja IV dan Kabinet Dwikora I. Selanjutnya dia menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia di Kanada dan Australia.

Keluar dari jabatan pemerintah, Hidayat bekerja di bidang bisnis. Ia punya hubungan dengan Cygma Insurance serta dengan perusahaan Jerman Eisenbau Ferrostahl yang berperan dalam proyek Krakatau Steel di Banten. Hidayat menikah Ratu Aminah, yang 10 tahun lebih tua usianya dan menikah tahun 1941.

Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945 Hidayat, bersama Didi Kartasasmita mengambil jalan non kooperatif atau tidak bekerjasama dengan Jepang selain karena mereka bekas KNIL, sehingga hidup mereka cukup susah sehingga Hidayat pernah menjadi sopir mobil angkutan. Bahkan pada zaman Republik, Hidayat tidak punya rumah, sehingga mendapat bantuan rumah berkat pertolongan seorang pengusaha pada masa itu, Markam. Istrinya kemudian aktif di bidang politik dan menjadi ketua umum Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia).

Setelah Ratu Aminah meninggal dunia, Hidayat menikah lagi dengan seorang janda, yakni Bu Annie, dari keluarga Natakusuma yang merupakan temannya satu sekolah di HBS Bandung zaman Belanda. Bu Annie merupakan cucu Prof Snouck Hurgronje, ilmuwan dan advise voor Inlandsche Zaken Pemerintah Hindia Belanda, pakar dalam masalah Aceh dan agama Islam, yang menikah dengan gadis Sunda.

Hidayat Martaatmaja lahir 27 November 1915 di Cianjur, Jawa Barat. Pada tanggal 24 Oktober 2005 ia meninggal dunia karena penyakit tua dan alzheimer. (berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan