Kiai Haji Ahmad Dahlan Peletak Dasar Gagasan Kerukunan

1335
0
Share:

Kerukunan umat beragama bukan wacana dan praktik baru bagi bangsa Indonesia. Dan Muhammadiyah, tidak bisa diabaikan perannya dalam upaya membangun kerukunan beragama. Perjalanan panjang Muhammadiyah sejak tahun 1912 menjadi ruang pergumulan yang cukup berarti dalam mendewasakan umat Indonesia.

Bidang pendidikan yang menjadi perhatian utama Muhammadiyah, menjadi instrumen yang tepat dalam melakukan transformasi sosial. Dalam kaitannya dengan hal ini, Muhammadiyah berhutang pada pemikiran dan gerakan Kiai Haji Ahmad Dahlan, tokoh, pendiri, sekaligus peletak dasar gagasan-gagasan kerukunan beragama di Indonesia.

Dulu, ketika penjajahan bangsa Eropa terhadap umat Islam, menjadi titik keprihatinan Ahmad Dahlan. Saat itu, Ahmad Dahlam melakukan reformasi agama, karena reformasi agama adalah kunci utama menuju transformasi sosial dan memperjuangkan kemerdekaan.

Namun, saat itu, Ahmad Dahlam tidak menutup diri untuk mengadopsi sistem pendidikan Barat. Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki sikap arif dan jenih dalam melihat dan memilah persoalan. Barat harus dimusuhi sebagai penjajah, namun harus ditemani sebagai peradaban.

Ahmad Dahlan sangat menghormati para pemeluk agama selain muslim. Hal itu ditunjukkan dengan pergaulannya yang amat luas, tidak sebatas sesama umat Islam. Sejarah mencatat beliau sangat akrab dengan para pastur dan pendeta. Belajar dari Ahmad Dahlan, tak bisa ditampik lagi, kerukunan antar umat beragama perlu dijaga, kini dan nanti.

Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis, lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868. Putra keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga Kyai Haji Abu Bakar. Abu Bakar saat itu adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta. Ahmad Dahlan termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.

Pada umur 15 tahun, Ahmad Dahlan pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.

Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari pernikahannya dengan Siti Walidah, Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak.

Pahlalwan Nasional Kyai Haji Ahmad Dahlan meninggal 23 Februari 1923 dan dimakamkan di pemakaman KarangKajen, Yogyakarta.

Share:

Tinggalkan Balasan