Kisah The Power of Setya Novanto

1390
0
Share:

Tagar #ThePowerofSetyaNovanto menjadi populer. Warganet bereaksi atas dibebaskannya Ketua DPR Setya Novanto dari pra peradilan kasus Kartu Tanda Penduduk elektronik. Tagar #ThePowerofSetyaNovanto adalah wujud keprihatinan masyarakat yang ditunjukkan dalam bentuk satir, lucu dan geli.

Tagar #ThePowerofSetyaNovanto di Twitter disinggung hampir 15.000 lebih. Sebagian besar berisi guyonan satir dan dikaitkan dengan berbagai hal mulai dari Moto GP sampai bangun kesiangan dan “mataharinya yang minta maaf.” Pokoknya lucu dan geli, silakan ditelusuri.

Nah, itu menunjukkan perhatian masyarakat yang besar atas kasus korupsi dan merupakan satir terkait betapa seringnya Setya Novanto lepas dari jeratan kasus korupsi. Bagaimana riwayat hidup Setya Novanto? Berikut riwayatnya dihimpun dari berbagai sumber.

Ia lahir pada 12 November 1955 di Bandung, Jawa Barat dari pasangan Sewondo Mangunratsongko dan Julia Maria Sulastri. Pada tahun 1967, ia meninggalkan Bandung dan bermukim di Jakarta. Pendidikan menengah di SMA 9 (kini disebut SMAN 70). Pada masa SMA inilah ia bertemu dengan Hayono Isman (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga kabinet Presiden Soeharto) yang dikemudian hari menjadi titik tolak upaya politiknya.

Saat kuliah di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, Setya dinyatakan memiliki banyak pekerjaan selama bermukim di kota tersebut. Ia mulai dari berjualan beras dan madu modal Rp 82.500 dan memulai dengan kulakan tiga kuintal beras hingga bisa berjualan beras sampai dua truk yang langsung diambil dari pusatnya di Lamongan.

Saat itu ia juga punya kios di pasar Keputran, Surabaya namun usaha tersebut tak bertahan lama dan predikat juragan beras ditanggalkannya karena mitra usahanya mulai tidak jujur. Ia mendirikan CV Mandar Teguh bersama putra Direktur Bank BRI Surabaya, Hartawan, dan pada saat yang sama ia ditawari bekerja menjual mobil salesman Suzuki untuk Indonesia Bagian Timur. Ia mengiyakannya dan memilih membubarkan CV yang didirikannya.

Berkat kepiawaiannya menjual, pada usia 22 tahun dan Setya tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Widya Mandala Surabaya yang menjadi Kepala Penjualan Mobil untuk wilayah Indonesia Bagian Timur. Setya pun pernah menjadi model, dan terpilih jadi pria tampan Surabaya (1975). Di masa-masa ini Setya Novanto dikenal sebagai orang yang ulet dan banyak sahabat.

Selepas kuliah di Widya Mandala, Setya bekerja untuk PT Aninda Cipta Perdana yang bergerak sebagai perusahaan penyalur pupuk PT Petrokimia Gresik untuk wilayah Surabaya dan Nusa Tenggara Timur. PT Aninda dimiliki oleh Hayono Isman, teman sekelas Setya di SMA Negeri 9 Jakarta.

Pertemanan dengan Hayono Isman inilah yang menjadi awal mula persinggungan Setya dengan dunia politik. Kembali ke Jakarta pada tahun 1982, Setya meneruskan kuliah jurusan akuntansi di Universitas Trisakti. Selama kuliah ia tinggal di rumah teman dan atasannya, Hayono, di Menteng, Jakarta dan tetap bekerja di PT Aninda Cipta Perdana.

Selain menjadi staf, ia juga mengurus kebun, menyapu, mengepel, hingga menyuci mobil dan menjadi sopir pribadi keluarga Hayono. Semasa kuliah Setya diingat oleh temannya sebagai seseorang yang rapi dan rajin, namun minim kegiatan sosial dan politik saat mahasiswa. Sebagai pengusaha, ia dikenal sebagai salah satu binaan konglomerat Sudwikatmono dan oleh Sudwikatmono, Setya diakui memiliki kemampuan lobi diatas rata-rata walaupun kurang matang.

Dalam wawancaranya dengan Majalah SWA ditahun 1999 Setya mengaku,“Sudwikatmono adalah pembina usaha saya, Hayono Isman membina saya dalam politik, dan Wismoyo Arismunandar membina wawasan pengabdian pada bangsa dan negara.”

Setya memulai kiprahnya di bidang politik sebagai kader Kosgoro ditahun 1974. Setya Novanto pun menjadi Anggota Golkar, dan menjadi Anggota DPR Fraksi Golkar berturut-turut 6 periode tanpa putus sejak 1999 sampai saat ini. Setya Novanto terpilih dalam pencalonan Ketua DPR RI Periode 2014 – 2019 dari Partai Golkar dalam sistem paket bersama Koalisi Merah Putih. Pada tanggal 2 Oktober 2014, ia terpilih sebagai Ketua DPR RI.

Pada saat kasus pencatutatan nama Freeport, Setya Novanto mengundurkan diri tepat saat Mahkamah Kehormatan Dewan DPR akan memutuskan pelanggaran kode etik. Setya Novanto digantikan oleh Ade Komarudin (Ketua Fraksi Golkar DPR 2014-2019). Setya Novanto ditunjuk Aburizal Bakrie sebagai Ketua Fraksi Golkar pengganti Ade.

Saat terjadi Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar 2016 yang terjadi karena kisruh internal Partai Golkar yang sudah terjadi selama 1,5 tahun, Setya Novanto mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Golkar. Ada 8 Calon total Caketum Golkar yang mengikuti Munaslub ini. Pada pemungutan suara tahap 1 yang dilakukan secara voting tertutup, Setya Novanto mengantungi suara sebesar 277 suara dan Ade Komarudin mendapat suara terbanyak kedua sebesar 173 suara.

Tepat saat akan memulai pemungutan suara tahap 2 yang hanya diikuti 2 caketum pemeroleh suara minimal 30%, Akom menyatakan tidak akan melanjutkan pemilihan dan mendukung Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar yang baru. Munaslub akhirnya mengesahkan Setya Novanto secara resmi sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar 2016-2019.

Dan selama perjalanan karirnya dipolitik, banyak kontroversi dan macam-macam kasus yang menyinggung namanya; Bank Bali, KTP Elektronik, Kasus Akil Mochtar, Kasus Freeport. Tapi semua kasus itu sampai sekarang tak mampu menjeratnya. Ya mungkin karena The Power of Setya Novanto.

 

Share:

Tinggalkan Balasan