Kang Moeslim: Gus Dur Pandai Menyenangkan Kawan

Share:

“Ini yang saya kagumi dari Gus Dur, ia orang yang pandai menyenangkan kawan” kenang Moeslim Abdurraham (Kang Moeslim). Sebelum melanjutkan cerita almarhum Kang Moeslim tentang Gus Dur ini, tahukah Anda siapakah Moeslim Abdurrahman?

Kang Moeslim adalah cendekiawan muslim penting bagi bangsa Indonesia. Juru Bicara Gus Dur saat menjadi Presiden, Adhie M Massardi, menyebut Kang Moeslim intelektual besar Indonesia nomor dua setelah Gus Dur, yang bisa menjelaskan persoalan-persoalan rumit kepada kita dengan cara yang sangat sederhana, bahkan sering dengan guyonan.

Suatu ketika, saat mengenang Kang Moeslim, Buya Syafii Maarif menyebut Kang Moeslim orangnya multikultural. Ia penghibur dan suka bercanda, tapi ada substansinya. Banyak kenangan Buya dengan Kang Moeslim. Menurut Intelektual NU, Ulil Abshar Abdalla, Gus Dur, Cak Nur, dan Kang Muslim adalah orang yang hebat.

Muhammad AS Hikam, mantan Menristek era Presiden Gus Dur, menjelaskan, Kang Moeslim adalah cendekiawan muslim avant garde, yang pikirannya tak mau dihalangi batas-batas aliran dan benua. Kang Moselim juga mengakrabi para kampiun cendekiawan seperti Romo Mangun dan Bu Gedong dari Bali karena kesamaan obsesi mereka dengan pendidikan dan menyantuni kaum miskin.

Hasil gambar untuk Moeslim Abdurrahman lulus

Pradana Boy ZTF, Tokoh Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan Duta Perdamaian Agama Dunia dari KAICIID, menjelaskan, JIMM sebuah komunitas anak-anak muda Muhammadiyah dimentori oleh Dr. Moeslim Abdurrahman.

Kang Moeslim telah memiliki peran besar dalam memunculkan optimisme intelektual di kalangan generasi muda Muhammadiyah, ketika gairah intelektualisme di kalangan muda Muhammadiyah mengalami kelesuan. Kang Moeslim menjadi mentor intelektual yang tangguh bagi Boy dan anak-anak muda Muhammadiyah lainnya.

“Belajarlah sungguh-sungguh, agar punggung keilmuanmu kokoh. Saya tidak ingin melihat bangunan keilmuanmu hanya kokoh di dada saja, tetapi tidak di punggung” Kang Moeslim

Kang Moeslim wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Jumat (6/7/2012) sekitar pukul 19.00 WIB. Dari RSCM jenazahnya diantar ke rumah duka bersama ambulan oleh Budayawan Garin Nugroho dan dua intelektual muda Muhammadiyah, Andar Nubowo dan David Krisna Alka. Kang Moeslim dimakamkan di pemakaman Sandiego Hills di Karawang, Jawa Barat.

Kang Moeslim lahir di Lamongan 8 Agustus 1958. Tokoh ini dikenal dekat dengan banyak kalangan. Beberapa karyanya antara lain Kang Towil dan Siti Marginal, Islam Transformatif, Semarak Islam Semarak Demokrasi, dan Islam Sebagai Kritik Sosial.

Kang Moeslim sempat mengenyam pendidikan di jurusan Antropologi, University Illinois, Urbana, Champaign, AS dan lulus tahun 1999. Selanjutnya ia dikenal sebagai salah satu pemikir Islam di Indonesia. Dalam perjalanan karirnya, ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Peneliti dan Pengembangan Departemen Agama. Ia juga kemudian aktif di partai politik sebagai Ketua DPP Partai Amanat Nasional. Kemudian dia menyebarang ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan sempat menjabat Ketua Dewan Syuro PKB sepeninggal Gus Dur.

Kang Moeslim juga dikenal pemikirannya dalam salah satu buku karangannya berjudul “Islam Transformatif”. Buku tersebut banyak dibicarakn dan menjadi rujukan. Moeslim juga mendirikan Al-Maun Institute. Ia menikah dengan Liliek Agus Hidayati dan dikaruniai dua anak.

 

Mari kembali kita lanjutkan cerita Kang Moeslim tentang Gus Dur.

Dua puluh tahunan silam. Kang Moeslim curhat dengan Gus Dur.

“Gus, saya keluar dari Depag!”

“Kenapa?”

“Di sana saya dimusuhi banyak orang. Saat ulang tahun Kompas ke-40, saya dan Kunto ngomong jika Pancasila ideologi terbuka. Lalu saya ditegur. Lama-lama, kelihatannya mereka tak suka. Jadi, saya harus keluar. Harus!” Kunto, maksudnya budayawan, sastrawan, dan sejarawan Indonesia asal Bantul Yogyakarta, Kuntowijoyo.

“Sampeyan berarti satu di antara sekian juta orang Indonesia yang sudah gila”

“Gila?”

“Ya. Di republik ini tanda-tanda orang gila itu kalau orang keluar dari pegawai negeri dan tentara”

Setelah keluar dari Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama (Litbang Depag) akhir tahun 80-an, Kang Moeslim akhirnya mendapat pekerjaan baru di Harian Pelita. Bak pepatah “jual sutera, beli masturi”, dari Rp. 200 ribu perbulan di Depag, gaji di pekerjaan barunya itu melejit hingga Rp. 2.9 juta perbulan.

Dari penghasilan itu ia sudah bisa membeli mobil baru: Toyota New Starlet. Bersyukur atas perubahan rizki, Kang Moeslim kembali mengunjungi Gus Dur. “Ini saatnya saya mentraktir Abdurrahman Wahid?” kata Moeslim berlagak di depan Gus Dur.

Tak lama setelah sesi “traktiran” itu, ternyata ia berkonflik dengan Abdul Gafur, Pemimpin Umum Harian Pelita ketika ituUjung-ujungnya ia dipecat mantan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga era Orde Baru ini. Kembali ia datangi Gus Dur di gedung PBNU di Jalan Matraman untuk sekedar berkeluh kesah.

“Gus, saya dikeluarkan dari Harian Pelita?”

Moeslim melanjutkan dengan kisah dibalik pemecatan. Gus Dur mendengar baik-baik dan berusaha empati. Usai Moeslim bercerita, Gus Dur bertanya.

“Kalau kita bikin media berapa sih modalnya Kang?””Tiga Em lah?”

“Tiga Em ! Sabar lah kang. Sekarang kalau bangsa Dua Em, kita ada lah?” Wajah Gus Dur serius.

Meski sadar mungkin saja Gus Dur sedang berkata tak jujur soal uang “dua em” (dua milyar) itu, Moeslim tak marah. Ia ikhlas.

“Ini yang saya kagumi dari Gus Dur. Ia orang yang pandai menyenangkan kawan,” kenang Kang Moeslim

KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940. Gus Dur adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001.

Gus Dur menggantikan Presiden B.J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Gus Durdimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001.

Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Gus DUr adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

30 Desember 2009, Indonesia berduka. Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, meninggal dunia pada usia 69 tahun. Gus Dur tutup usia pada pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo, Jakarta. Gus Dur dinilai banyak orang telah mewariskan semangat persatuan dalam keragaman.

Selama ini Gus Dur memang dikenal sebagai tokoh yang mengedepankan toleransi dan kerukunan antarumat beragama.Pemikiran Gus Dur tentang toleransi pun semakin dirindukan, terutama dalam kondisi maraknya penyebaran ujaran kebencian berlandaskan perbedaan, seperti saat ini.

Ya, Gus Dur memang pandai menyenangkan kawan, kawan dari semua golongan. (berbagai sumber)

 

 

Share:

2 comments

Tinggalkan Balasan