Kala Marilyn Monroe Jumpa Bung Karno

999
0
Share:

Alkisah, Mei 1956, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat selama tiga minggu, lama juga ya. Bung Karno juga berkunjung ke Hollywood. Di Hollywood, Bung Karno mengunjungi dan bertemu sekitar 200 pekerja film. Di sana, Bung Karno jumpa dengan Marilyn Monroe. Siapa Monroe? Ada apa antara Bung Karno dan Monroe?

Marilyn Monroe, nama aslinya Norma Jeane Mortenson. Ia lahir 1 Juni 1926 seorang aktris dan peragawati Amerika. Terkenal karena memerankan karakter “si pirang yang bodoh”, ia menjadi salah satu simbol seks paling populer pada tahun 1950-an, yang menandai perilaku terhadap seksualitas pada era tersebut.

Meskipun ia merupakan seorang aktris dengan bayaran paling tinggi, hanya pada satu dekade film-filmnya meraih keuntungan sejumlah $200 juta pada masa kematiannya yang misterius pada tahun 1962. Ia masih dianggap menjadi ikon budaya populer besar.

Lahir dan dibesarkan di Los Angeles, Monroe menjalani sebagian besar masa kecilnya di perumahan dan sebuah panti asuhan. Ia menikah untuk pertama kalinya pada usia enam belas tahun. Ketika bekerja di sebuah pabrik sebagai bagian dari upaya perang pada 1944, ia bertemu dengan seorang fotografer dan memulai karier pin-up modeling yang sukses.

Gambar terkait

Pekerjaan tersebut berujung pada kontrak-kontrak film berjangka pendek dengan Twentieth Century-Fox (1946–1947) dan Columbia Pictures (1948). Setelah serangkaian peran film kecil, ia menandatangani sebuah kontrak baru dengan perusahaan Fox pada 1951. Sepanjang dua tahun berikutnya, ia menjadi seorang aktris populer dengan peran-peran dalam beberapa film komedi, yang meliputi As Young as You Feel dan Monkey Business, dan dalam film drama Clash by Night dan Don’t Bother to Knock.

Monroe menghadapi sebuah skandal saat foto-foto telanjangnya terbongkar yang diambil sebelum menjadi seorang bintang, namun bukannya merusak kariernya, cerita tersebut meningkatkan tawaran terhadap perfilman.

Pada tahun 1953, Monroe menjadi salah satu bintang Hollywood paling disorot, dengan peran-peran utama dalam tiga film: Noir Niagara, yang berfokus pada adegan seksualnya, dan film komedi Gentlemen Prefer Blondes dan How to Marry a Millionaire, yang membangun citra bintangnya sebagai seorang “pirang bodoh”.

Meskipun ia memainkan peran penting dalam pembuatan dan pengurusan citra publiknya sepanjang kariernya, ia tidak menyetujui jenis peran dan bayaran yang diberikan studionya. Ia cuti pada awal 1954 untuk berhenti ikut dalam sebuah proyek film, namun kembali menjadi bintang dalam salah satu kesuksesan box office terbesar pada masa karirnya, The Seven Year Itch (1955).

Kehidupan pribadi Monroe yang bermasalah menuai perhatian. Ia berjuang keras melawan kecanduan, depresi, dan kecemasan. Dua pernikahannya sangat disorot, yakni dengan pemain bisbol Joe DiMaggio dan pengarang drama Arthur Miller, yang keduanya berakhir dengan perceraian.

Ia meninggal pada usia 36 tahun karena overdosis barbiturat di rumahnya di Los Angeles, pada tanggal 5 Agustus 1962. Meskipun kematian tersebut dinyatakan sebagai tindakan bunuh diri, beberapa teori konspirasi muncul dalam beberapa dekade setelah kematiannya.

Nah, ceritanya, pertemuan antara Monroe dengan Bung Karno terjadi berkat andil Joshua Logan, sutradara film Bus Stop yang diperani oleh Marilyn. Logan bertemu Bung Karno, ketika Logan membiarkan spekulasi sensitif beredar di kalangan wartawan dengan menyatakan, “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan, setelah pesta itu,” katanya.

“Dia ingin memberitahu temannya Robert Slatzer bahwa ia dan Soekarno telah ‘menghabiskan malam bersama”.

Kisah lain juga menguraikan bahwa ketika menghadiri sebuah pesta yang paling meriah di Holywood yang digelar oleh Eric Allen Johnson, Presiden Motion Picture Association of America (MPAA). Johnson mempertemukan Soekarno dengan bintang-bintang Holywood yang saat itu sedang ngetop-ngetopnya.

Salah satu yang hadir adalah Marilyn Monroe yang dijuluki bom seks Holywood. Dia mengenakan gaun malam yang sangat seksi. Bung Karno dan Monroe mengobrol dengan akrab. Pertemuan di jamuan makan malam itu diyakini bukan akhir dari hubungan Soekarno dan Monroe.

Dalam buku Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers, ada bagian yang menyebut tentang ada sebuah hubungan khusus yang terjalin antara keduanya. Dr. Lambert Giebel (penulis buku Soekarno, 1901-1950 dan Soekarno, 1950-1970) mengatakan, sangat sulit dikonfirmasikan, apalagi untuk dibenarkan.

Dalam buku otobiografinya, Cindy Adams pernah menulis jika Soekarno tidak bisa menyembunyikan kesukaannya terhadap wanita.

“Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik,” ujar Soekarno.

(Berbagai sumber)
Share:

Tinggalkan Balasan