Jokowi, Presiden Media Sosial?

1315
0
Share:

Joko Widodo alias Jokowi berhasil memenangkan Pemilihan Presiden 9 Juli 2014 di Indonesia. Ia maju bersama saudagar dan politisi gaek Jusuf Kalla, mendapatkan 53,15% atau 70.633.576 suara mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang meraih 46,85% atau 62.262.844 suara. Dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2014. Faktor apa saja yang menjadi kunci kemenangan Jokowi?

Ya, salah satu faktor penting kemenangan mantan Wali Kota Solo ini adalah jagat media sosial. Dalam kampanye Pemilihan Presiden 2014, baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama menggunakan media sosial dalam berbagai platform, mulai dari News portal, blogs, Facebook, Twitter, Path, dan sebagainya.

Namun, pasangan Jokowi lebih fokus dan serius dalam menggunakan media sosial. Jokowi ramai menjadi perbincangan di media sosial, apalagi di Twitter. Kabarnya dalam 10 hari terakhir sebelum pencoblosan dilakukan dunia twitter tanah air heboh oleh Jokowi.

Menurut Katapedia Indonesia, sebuah perusahaan pemantau media online dan keterlibatan dalam media sosial secara realtime mencatat Jokowi dibicarakan sebanyak 770.491 kali (53%) dalam 10 hari terakhir menjelang pencoblosan pada 9 Juli 2014, dan pasangan Prabowodibicarakan sebanyak 709.294 kali (47%).

Topsy pun begitu. Perusahaan mitra resmi Twitter yang pada Desember 2013 diakuisisi oleh Apple Inc ini, melansir keunggulan Jokowi di media sosial. Topsy, menyediakan tools untuk memudahkan pencarian, analisis, juga kuantifikasi obrolan dan tren atas topik tertentu di media sosial, utamanya di Twitter dan Google+.

Dalam 30 hari sebelum pencoblosan, Topsy mencatat Jokowi menguasai frekuensi dan tren obrolan sebanyak 59,6%. Sedangkan untuk Prabowo dipatok pada angka 40,4%. Interval waktu 30 hari boleh dikata cukup lama untuk sebuah tren, sehingga hal itu sangat sahih untuk dinilai sebagai gambaran dari kenyataan yang sebenarnya.

Keunggulan Jokowi di media sosial jadi salah satu kunci kemenangan, mengingat media sosial tidak termasuk dalam hal yang dilarang selama berlakunya masa tenang. Artinya, kampanye di media sosial tidak berhenti sampai dengan hari pencoblosan, bahkan selama pencoblosan berlangsung. Fakta ini kemudian memang terbukti dalam hasil Pilpres 2014.

Jadi, pertanyaan lucunya, sejak 2014 hingga sekarang, apakah Jokowi adalah Presiden Media Sosial atau Presiden Republik Indonesia? Silakan Anda simpan jawabannya. (Biored)

 

Share:

Tinggalkan Balasan