Joko Pinurbo Membakar Puisi, Jatuh Pangkal Bangun

953
1
Share:

Joko Pinurbo, akrab disapa Jokpin. Penyair berdarah Jawa ini dikenal sebagai penyair yang produktif. Buku-buku puisi yang dilahirkan sejak 1999 hingga sekarang, yakni mulai ‘Celana’, ‘Tahi Lalat’, dan terbaru ‘Buku Latihan Tidur’ digemari para penyuka sajak.

Karyanya yang berjudul ‘Buku Latihan Tidur’ berisi puisi-puisi ciptaan Jokpin selama kurun waktu tiga tahun lamanya. Masih mengusung nuansa humor dan ironi yang bersatu dengan renungan dengan misteri hidup, menurut Jokpin, buku kumpulan puisi yang ini paling memusingkan karena menuntut kecermatan dan ketelatenan ekstra dalam penyuntingan

Dalam kumpulan puisi ‘Buku Latihan Tidur’ ada hal-hal khusus yang digambarkan misalnya saja tentang keunikan bahasa Indonesia, masalah keberagaman, dan situasi sosial belakangan ini. Tapi tetap ada puisi yang dapat dihubungkan dengan puisi-puisi di buku sebelumnya, misalnya tentang kepulangan atau hubungan anak dengan ibunya.

Jokpin lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia lulus dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Joko Pinurbo pernah menjadi redaktur Basis, Gatra, dan Sadhar terbitan IKIP Sanata Dharma, juga mengajar di almamaternya, dan terakhir bekerja di PT Grasindo cabang Yogyakarta.

Jokpin mengawali kepenyairan sejak duduk di bangku sekolah, Jokpin pertama kali merilis kumpulan puisi ‘Celana’ (1999). Lalu, dia menerbitkan ‘Di Bawah Kibaran Sarung’ (2001), ‘Pacarkecilku’ (2002), ‘Telepon Genggam’ (2003), dan lain-lain.

Setelah di SMA di Seminari di Magelang, ia melanjutkan kuliah di Yogya, bahkan hidup di Yogya sampai sekarang. Di Yogya ia merasakan gaya komunikasi dan gaya pergaulan orang Yogya sehari-hari yang suka bercanda, suka humor.

Bagi Jokpin Yogya tak hanya tempat tinggal. Kota itu, beserta budaya warganya, juga menjadi inspirasi yang membentuk dia dan karyanya. Ia serap gaya humor, gaya plesetannya orang Yogya, untuk jadi gaya berceritanya dalam puisi. Supaya kalau orang membaca puisinya itu tidak menyesali hidup tapi justru menikmatinya. Menikmati kepedihannya.

Namun, siapa sangka, di balik kecerdasannya melahirkan sejumlah himpunan puisi, ia pernah berada di titik terendah. Joko Pinurbo pernah membakar puisi-puisi buatannya. Ia pernah tak percaya diri dengan karyanya. Puisi-puisi yang ia tulis dalam proses belajarnya dibakar begitu saja. Terlebih kala tiga penerbit sempat menolak antologi puisinya.

Tapi Jokpin tak pernah putus asa. Ia menganggap lika-liku yang harus dijalani ini sebagai waktu berproses melahirkan karya. Mungkin seperti bait puisinya berikut ini:

Rajin pangkal pandai

Jatuh pangkal bangun

(Buku Latihan Tidur, Jokpin)

 

 

Share:

1 comment

Tinggalkan Balasan