JK, Film G30S/PKI, dan Arifin C Noer

1264
0
Share:

Dua belas tahun lalu, di sekitar Blok A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ada sebuah rumah yang kerap jadi tempat nongkrong saya dan teman-teman. Rumah itu hanya berjarak 1 Km dari kediaman Pak Jusuf Kalla (JK), di Jalan Brawijaya. Saat itu Pak JK adalah wakil presiden Pak SBY.

Ketika kami nongkrong, kadang tante Jajang turun dari mobil corola hitam dan menyapa kami, sekedar sapaan hai. Iya, rumah itu adalah kediaman keluarga besar Arifin C Noer. Di aula tengah yang lega, tempat kami biasa nongkrong bercerita tentang kenakalan remaja, dan sesekali saya nyeletuk tema politik.

Di aula tengah rumah itu, terpampang semua poster seni pertunjukan dan film yang pernah dibesut secara langsung oleh Arifin C Noer. Nah, ada satu poster yang selalu menarik perhatian saya. Ya, poster film Pengkhianatan G30S/PKI.

Sejauh ingatan saya, Marah Noer (anak Arifin C Noer) saat itu masih berkuliah di IKJ menempuh jurusan sinematografi. Orangnya sederhana, ke kampus naik kendaraan umum dan tidak terlalu banyak bicara. Kami tidak saling mengenal dekat, karena saya bersahabat dengan sepupunya. Tapi lagi-lagi sekedar sapa hai saja.

Belakangan, jodoh Marah Noer bagus. Ia jadi  suami dari anak bontot Pak JK. Dan Pak JK masih tetap wakil presiden, tapi kali ini presidennya Pak Jokowi.

Setelah dua belas tahun, situasi banyak berubah. Seperti akhir-akhir ini Panglima TNI dengan lantang gagah berani, kembali menginstruksikan film Pengkhiantan G302/PKI itu di tonton kembali. Entah, apakah itu bagian sikap politik panglima atau niat luhur menelusuri atau mengenang sejarah kelam 1965.

Kembali soal nongkrong. Belum lama ini, saya kembali bertemu sahabat lama, salah satu keponakan Arifin C Noer, Amar Noer. Kami ngobrol panjang lebar, ternyata ada kegiatan yang menarik dilakukan oleh dirinya. Dia keliling kampung, memutar film-film karya anak Indonesia di kampung-kampung. Jika saya tak keliru, konsep layar tancap juga menjadi media yang mereka restorasi untuk memutar film di desa-desa.

Kalkulasi saya, agenda itu sudah berjalan dua-tiga tahun belakangan ini. Jika hitungan saya presisi, maka gerakan nonton di desa-desa sudah cukup masif. Tiga tahun waktu yang cukup untuk membangun simpul-simpul aktivitas di basis desa.

Dan sekarang, seakan setengah heroik ada oknum-oknum yang mendorong film propaganda usang itu untuk di putar kembali. Apakah rangkaian ini ada kaitannya dengan maraknya pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI? Entahlah.

Share:

Tinggalkan Balasan