Jiwa Besar dan Lapang Hati Ki Bagus Hadikusumo Demi NKRI

1309
1
Share:

Dalam salah satu media online Petrik Matanasi (2017) mengabarkan, Presiden Soekarno pernah melakukan diplomasi dengan mengajak wakil-wakil muslim demi melunakkan hati Ki Bagus Hadikusumo. Ki Bagus termasuk anggota BPUPKI dan PPKI dari kalangan Muhammadiyah. Kenapa hati Ki Bagus ingin dilunakkan? Ada apakah gerangan?

Ternyata, tokoh sepuh Muhammadiyah ini bersikeras agar Piagam Jakarta tetap menjadi batang tubuh dalam Undang-Undang Dasar 1945. Ki Bagus Hadikusumo ialah orang paling bersemangat yang menginginkan kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar.

Namun, Ki Bagus sungguh lapang hati dan berjiwa besar, ia mengubah pendiriannya dan menyepakati usulan bahwa tujuh kata dalam Piagam Jakarta diganti demi mengakomodasi penduduk Indonesia yang non muslim. Bagaimana riwayat perjuangan Ki Bagus Hadikusumo?

Ki Bagus adalah Pahlawan perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia. Ia dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1038 Hijriyah. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Setelah tamat dari ‘Sekolah Ongko Loro’ (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqh dan tasawuf.

Meskipun sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat, Ki Bagus rajin dan tekun mempelajari kitab-kitab terkenal. Jadilah ia mubaligh dan pemimpin umat. Ia merupakan pemimpin Muhammadiyah yang besar andilnya dalam penyusunan Muqadimah UUD 1945, karena ia termasuk anggota Panitia Persiapan Kemerdekan Indonesia (PPKI). Ki Bagus juga pejuang, ketika Agresi Militer I tahun 1947, Ki Bagus turut mendirikan Angkatan Perang Sabil, menghimpun kalangan santri di Yogyakarta, untuk melawan tentara Belanda yang ingin kembali menduduki Jawa dan Sumatara.

Peran Ki Bagus sangat besar dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu disetujui oleh semua anggota PPKI. Yang paling utama, menurut Prof Bahtiar Effendy, Ki Bagus meletakkan dasar-dasar aspirai politik umat Islam. Yang kemudian didukung oleh KH. Wachid Hasyim, dan tokoh-tokoh Islam lainnya di BPUPKI.

Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya. Buku karyanya antara lain Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954).

Ki Bagus meninggal pada 4 November 1954. Makam Ki Bagus tidak ada tanda atau nisan khusus. Hanya ditandai dengan sebongkah batu. Selain itu, di makam tersebut juga sudah ditumpuk dengan jenazah lainnya yang masih ada hubungan keluarga dengan (alm) Ki Bagus. Selain Ki Bagus, di kompleks makam tersebut terdapat makam pahlawan nasional HOS Cokroaminoto dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah H. AR Fachruddin.

Kompleks makam tersebut terletak di Jl Kuncen tidak jauh dari jalan utama Jl HOS Cokroaminoto. Di kompleks makam tersebut merupakan makam milik Kraton Ngayogyakarta yang biasa disebut makam Kuncen Lawas (lama). Makam Ki Bagus berada di belakang Masjid Kuncen atau di sebelah barat SD Muhammadiyah 2 Wirobrajan. (berbagai sumber)

Share:

1 comment

Tinggalkan Balasan