Hijrah Kaffah Sunan Tembayat, Dari Semarang Ke Bayat

Share:

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kata hijrah dalam percakapan sehari-hari. Kalimat yang sering terdengar adalah, “Sudahkah Anda Hijrah ke hidup syar’i?”. Entah sejak kapan kata hijrah dipakai untuk menyebut bergantinya pola hidup dari pola hidup batil ke pola hidup syar’iat, yang sebenarnya pengertiannya agak dikelirukan dengan taubat. Tetapi pengertian hijrah yang dipakai dalam judul di atas adalah hijrah yang sebenarnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, 1500 tahun  yang lalu. Bagaimana kisahnya? Simaklah cerita singkat yang penuh hikmat ini.

Nama kecilnya adalah Raden Kaji, dia adalah putera pertama dari bupati sekaligus pendiri kabupaten Semarang (bukan pendiri kotanya), yakni Ki Pandang Arang. Ketika sang ayah mangkat dia menggantikan posisi sebagai bupati Semarang yang kedua dan memakai nama Adipati Mangkubumi. Beliau juga sering disebut dengan nama lain yakni Adipati Pandan Arang II. Menguasai kabupaten di pesisir yang merupakan kota dagang utama di Jawa bagian tengah Adipati Mangkubumi menjadi bupati yang kaya raya. Apalagi saat itu kasultanan Demak sedang mencapai puncak kejayaan. Sang adipati sibuk luar biasa mengurus duniwi hingga melalaikan beribadah kepada Allah sang Pencipta.

Mahaguru tanah Jawa, Sunan Kalijaga, begitu mengetahui kabar tentang perilaku Adipati Mangkubumi ini bermaksud memberi pelajaran. Kisah tentang peristiwa ini begitu masyhur di Jawa Tengah  sehingga ada beberapa versi cerita, saya mengambil rujukan dari salah satu versi yakni Babad Demak. Di situ disebutkan bahwa Sunan Kalijaga menyamar sebagai seorang penjual rumput alang-alang di pasar. Ketika sang bupati lewat beliau melihat si penjual rumput itu dan bermaksud membeli alang-alang yang dijualnya. Akhirnya tercapai deal dengan harga 25 keteng. Rumput pun diantar oleh si penjual ke dalem kabupaten. Beliau juga berpesan agar jika masih ada besok boleh membawa alang-alang lagi karena sang bupati masih memerlukan sebagai atap kandang kuda.

Ketika penjual rumput telah pergi sang bupati menyuruh pegawainya untuk membongkar ikatan alang-alang itu. Si pegawai kaget karena di dalamnya ditemukan uang sejumlah 25 keteng. Oleh sang bupati uang 25 keteng itu dimintanya sambil berujar, “Ini sudah menjadi milikku karena rumput seikatannya sudah kubeli. Betapa beruntung aku!” Lihatlah betapa tamak sang bupati, uang 25 keteng milik penjual rumput pun diembatnya.

Keesokan harinya si penjual rumput datang lagi dengan membawa ikatan alang-alang. Setelah menunggu agak lama sang bupati keluar untuk membayar alang-alang itu seharga 25 keteng. Tetapi si penjual rumput berujar bahwa karena dia telah menempuh perjalanan jauh dia minta tambahan sebagai pemberian. Sang bupati mengambil satu keteng dan melemparkan uang itu ke lantai. Tetapi si penjual rumput tidak mau mengambil uang itu.

Penjual rumput itu berkata, “Hamba tidak mengemis harta karena tidak suka kekayaan, hamba hanya minta bunyinya bedug Masjid Semarang.”

Mendengar perkataan penjual rumput itu sang bupati naik pitam. Di merasa disindir karena sudah lama tidak menjalankan shalat, dan bedug masjid itu juga sudah lama tidak ditabuh.

“Sombong sekali kau hai tukang rumput. Tidak mau harta benda, ketahuilah keteng adalah bagian dari dirham dan dinar. Yang susah payah engkau dapatkan. Bisakah bunyi bedug mendatangkan dirham bagimu?”

“Janganlah begitu tuan bupati. Tidak baik hidup menuhankan harta. Di dunia ini kita hidup disertai kewajiban sebagai makhluk Tuhan, harta hanyalah pelancar kehidupan. Ambillah sekadarnya saja, selebihnya jadikan sebagai bekal ke akhirat. Ridha Ilahi lebih utama.”

Sang bupati tersenyum mengejek, “Ah, itu perkataan orang yang susah harta. Akhirat yang menggiurkan itu hanya pelarianmu atas ketidakmampuanmu di dunia ini!”

Si penjual rumput menjawab, “Tidak benar Gusti. Hamba bisa mendapatkan harta dengan mudah jika hamba menghendaki, semudah mencangkul emas di tanah!”

Penjual rumput itu mengambil cangkul dan menganyunkan ke tanah. Seketika bongkahan tanah yang lepas berubah menjadi sebongkah emas berkilauan. Penjual rumput yang tak lain adalah Sunan Kalijaga mengambilnya dan menyerahkan kepada sang bupati, seraya berkata: “Inilah harta benda yang susah payah engkau cari, bahkan dengan cara yang tidak terpuji!”

Sang bupati mengambil bongkahan emas itu dan ketika yakin bahwa bongkahan tanah itu kini menjadi emas sadarlah beliau siapa yang ada di hadapannya. Seketika lemaslah seluruh tubuh, menggigil laksana kedinginan oleh karena terguncang hebat hatinya. Dia menyadari apa yang ingin dia capai dengan mengumpulkan harta benda adalah perbuatan yang sepele, kalah oleh usaha tukang rumput yang hanya mencongkel tanah.

Sang bupati kemudian mempersilahkan Sunan Kalijaga untuk duduk di pendapa. Kepadanya sang bupati menyampaikan niat untuk berguru memperdalam ilmu agama. Sunan Kalijaga memberi syarat yang berat untuk pertobatan itu.

“Pertama, engkau harus bertekad untuk ibadah selama sisa hidupmu, kedua tunaikan kewajibanmu dalam hal zakat, ketiga majukan pengamalan agama di Semarang dengan banyak membuat masjid dan bedug, keempat sebagai tanda kesungguhan hatimu engkau harus menghadap ke rumah gurumu di Jabalkat!”

Sang bupati menyanggupi semua syarat itu. Beliau segera mengumpulkan kerabat dan pejabat kabupaten Semarang. Harta beliau setelah dipotong untuk kehidupan istri dan anak yang akan ditinggalkan semuanya diserahkan untuk kepentingan umum, membangun mushola, masjid dan sarana pendidikan Islam. Jabatan bupati pun beliau tanggalkan dan diserahkan kepada adik kandungnya Raden Ketib. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1512M.

Kita tutup dahulu kutipan dari Babad Demak ini dengan sedikit catatan mengenai gaya penulisan versi Babad. Dalam hampir semua naskah babad yang jumlahnya mungkin ratusan selalu ditemukan kisah yang hampir tak masuk akal seperti berubahnya bongkahan tanah menjadi bongkahan emas. Kita tidak menampik bahwa Sunan Kalijaga mungkin mempunyai karomah yang membuat beliau mampu melakukan itu, wallahu a’lam, tetapi versi babad selalu menyampaikan cerita dalam bentuk simbol atau sasmita.

Simbol yang hendak disampaikan adalah bahwa harta benda duniawi, emas perak dan sebagainya bagi seorang hamba Allah seperti Sunan Kalijaga tak lebih berharga dari sebongkah tanah. Apabila kita menilai kisah ini seusai keadaan zaman ini pun akan bersesuaian. Sunan Kalijaga adalah guru spritual dari hampir seluruh raja-raja di tanah Jawa sejak Raden Patah di kerajaan Demak sampai Penembahan Senapati di Mataram Islam. Jadi bagi beliau kalau menghendaki harta-benda pun tak susah, bandingkan dengan ustad seleb masa kini yang hanya jago ceramah di TV saja bisa meraup pundi-pundi milyaran rupiah. Namun kilau emas tak membuat Kanjeng Sunan Kalijga silau dan melalaikan laku hidup sederhana sebagai penganjur agama di tanah Jawa.

Kita lanjutkan kisah pertobatan Adipati Mangkubumi atau Adipati Pandan Arang II yang telah lengser tadi. Beliau bersiap untuk memenuhi syarat yang keempat yakni menghadap guru di Jabalkat. Tetapi dimana Jabalkat itu? Jabalkat adalah nama sebuah gunung kecil di Bayat, Klaten bagian selatan, berbatasan dengan Gunung Kidul. Nama Jabalkat sendiri diambil dari kata Jabal yang artinya gunung dan Katt yang artinya jauh. Di kaki gunung itu Sunan Kalijaga membuat masjid kecil sebagai basis pengajaran agama Islam.

Dengan berjalan kaki mantan Adipati Semarang itu menempuh perjalanan sejauh hampir 200 km jalan darat. Menyusuri jalan setapak yang tak mulus, menembus hutan rimba karena dahulu belum banyak pemukiman seperti sekarang, merangkak naik-turun pegunungan kapur, dengan satu tekad menemui sang guru.

Kita tidak perlu tahu apa saja rintangan yang dihadapi mantan adipati semarang itu di perjalanan. Berjalan seorang diri menempuh jarak jauh tanpa pengawalan bagi seorang mantan adipati yang biasanya dikelilingi kemewahan sudah merupakan suatu hal yang berat. Namun itu terasa ringan karena tekadnya yang kuat untuk hijrah ke jalan yang benar. Di Jabalkat Sunan Kalijaga memberinya ilmu tentang agama dan tugas yang tak kalah berat mengajarkan agama kepada penduduk sekitarnya sampai wilayah yang kelak berdiri negeri Mataram. Mantan adipati Semarang itu menyanggupi tugas tersebut dan kemudian menetap di Jabalkat untuk melanjutkan pesantren yang telah dirintis Sunan Kalijaga.

Atas pengorbanannya itu beliau diberi gelar Ki Ageng Pandan Arang, masyarakat sekitar kemudian memanggil dengan nama yang lebih familiar Ki Ageng Pandanaran. Makna nama Ki Ageng adalah yang berjiwa besar, orang yang sanggup meninggalkan kemewahan dunia dan kekuasaan demi mengabdi kepada kehidupan dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat.

Kelak kemudian hari tempat bermukim Ki Ageng Pandanaran menjadi daerah yang ramai dikunjungi orang dan menjadi pusat belajar agama di wilayah Mataram. Daerah itu dikenal dengan nama Tembayat atau sekarang menjadi Bayat. Menurut Serat Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita kelak Ki Ageng Pandanaran masuk dalam forum Wali penasehat kerajaan pada zaman kesultanan Pajang dan dikenal dengan nama Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran.

Dalam hidupnya Sunan Tembayat sudah memberi keteladanan tentang hijrah, beliau melakukannya dari secara vertikal dari seorang kaya raya bergelimang kemewahan menjadi seorang sederhana yang hidup terpencil namun mulia dan hijrah secara horiszontal dengan menempuh jarak dalam perjalanan. Hijrahnya adalah hijrah yang kaffah, lahir dan batin.

Sunan Tembayat meninggal di Bayat, Klaten tahun 1527M dan dimakamkan di Jabalkat. Situs pemakamannya sekarang menjadi obyek wisata religi yang cukup terkenal di Klaten.

 

Sumber rujukan:

  1. Semarang Riwayatmu Dulu, Amien Budiman.
  2. Serat Wirid Hidayat Jati, Ranggawarsita.
  3. Cerita Rakyat lesan.
  4. Gambar merupakan lukisan kuno yang menggambarkan adegan bupati Semarang dan penjual rumput, direproduksi oleh JH Hooykass- – Van Leeuwen Litt. Class Doctoranda. Volksoverievering In Beeld. Djawa 1939.
Share:

Tinggalkan Balasan