Gus Prosa dan Gus Puisi, Bukan Gus Pesantren

1030
0
Share:

Sosok Gus satu ini bukanlah seorang kiai atau ulama. Bukan pula seorang pemilik pesantren. Santri pun bukan. Tapi kenapa dipanggil Gus? Bukankah Gus adalah panggilan dalam lingkungan pesantren? Biasanya, santri sering memanggil anak kiainya dengan panggilan “Gus”, yang mempunyai arti “abang” atau “mas”.

Gus dalam pesantren itu menunjukan adanya strata sosial dalam lingkungan pesantren, Gus adalah harapan penerus pesantren. Posisi Gus mempunyai nilai tawar yang tinggi di mata masyarakat. Terkadang, apa yang dikatakan oleh “Gus” itu dihormati oleh masyarakat. Begitulah pentingnya sebutan Gus. Lalu bagaimana dengan sosok Gus dalam tulisan ini?

Sosok Gus yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah Gus seperti di atas, tapi Gus adalalah nama sebenarnya nama. Ya, namanya Gus tf Sakai. Seorang sastrawan dan penulis Indonesia terkemuka. Nama Gus tf Sakai dipakai kalau ia menulis prosa, sedangkan Gus tf dipakai jikalau ia menulis puisi. Hingga kini, ia menetap di Payakumbuh, Sumatera Barat. Dalam kesusatraan Indonesia Gus tf Sakai masuk ke dalam Sastrawan angkatan 1980-1990an.

Gus tf Sakai dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat. Publikasi pertamanya berupa kisah pendek yang memenangi Hadiah I sebuah sayembara saat ia duduk di kelas 6 SD tahun 1979. Sejak kemenangan itu dan ia tahu bahwa menulis sanggup mendatangkan uang (yang amat membantu bagi kebutuhan sekolahnya), ia tidak lagi sanggup berhenti menulis dan sering mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novelet, novel, dan esai.

Seingatnya, hingga tahun 2003, ada sekitar 50 sayembara menulis yang ia menangkan, tetapi yang terdokumentasi dan sanggup dicatat hanya 36. Namun, angka 36 itu pun mungkin sudah merupakan rekor yang mencengangkan. Setelah memublikasikan karya dengan aneka macam nama samaran hingga simpulan Sekolah Menengan Atas tahun 1985, ia pindah ke Padang dan mengambil putusan yang bagi banyak orang mungkin tidak terbayangkan: hidup dari menulis. Sejak itu pulalah, ia memakai dua nama: Gus tf dan Gus tf Sakai. Namun, sekarang terbukti keputusannya tidak keliru. Walaupun tidak sanggup dikatakan berkecukupan, ia tampak sangat menikmati profesinya. Ia pun tumbuh sebagai sastrawan Indonesia yang menonjol di generasinya.

Tahun 1996 Gus tf Sakai kembali ke Payakumbuh. Bersama istrinya, Zurniati, ia tetapkan untuk hidup dan menetap di kampungnya bersama tiga anaknya: Abyad Barokah Bodi (L), Khanza Jamalina Bodi (P), dan Kuntum Faiha Bodi (P). Walaupun menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi menciptakan ia sanggup melintas (fisik dan nonfisik) ke mana-mana.

Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke aneka macam bahasa. Kumpulan cerpennya, Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta yang memenangi Lontar Literary Award 2001 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar dengan judul The Barber and Other Short Stories. Kumpulan cerpen tersebut diterjemahkan oleh Justine FitzGerald, Anna Nettheim, dan Linda Owens.

Sampai kini, Gus masih terus berkarya. Karyanya begitu banyak, begitu pula hadiah dan penghargaan yang ia terima. Lalu, bagaimanakah proses kreatif Gus mengarang? Dalam catatan Tirto Suwondo (Horison/Maret 2008), bagi Gus, pertanyaan ini terasa ganjil, bahkan mungkin sangat bodoh, dan karenanya–dengan sangat menyesal–ia akan selalumenjawab: “Entah, mungkin tak ada …”.

Sebab, kata peraih penghargaan Sastrawan Berdedikasi dari harian Kompas (2010) ini, ketika menjenguk ke dalam diri setiap kali mencipta, memeriksa bagaimana proses itu terjadi, selalu tak pernah bisa ia temukan, tak pernah bisa ia terangkan. Sebab, katanya, semuanya terjadi begitu tiba-tiba, ajaib, mencengangkan. Satu letupan, dan tiba-tiba ia menjelma, ada. “Bagaimana mungkin saya bisa menjelaskan itu?” tanyanya.

Akhirnya, satu hal yang pantas dicatat dari Gus ialah bahwa ia menentukan pilihan pada dunia sastra tak lain karena sastra memiliki kemampuan dalam melintas. Sastra bisa mempertemukan manusia yang berlainan suku, agama, ras, dan sebagainya, juga karena kemampuannya dalam melintas. Begitu juga ia mempertemukan beragam bidang, seperti sains, psikologi, dan filsafat karena kemampuannya dalam melintas.

Sebab, seperti dikatakannya dalam Pidato Penerimaan SEA Write Award 2004, hanya dengan kemampuannya melintaslah sastra mampu menciptakan sebuah dunia yang di dalamnya kita bisa mempertanyakan kembali keberadaan kita (sebagai manusia).

Sungguh pernyataannya itu seperti petuah dari Gus Pesantren, bukan Gus Prosa atau Gus Puisi.

(berbagai sumber/redaksi)

Share:

Tinggalkan Balasan