Gus Nadir, Satu-Satunya Orang Indonesia Dosen Tetap Fakultas Hukum di Australia

781
0
Share:

Beberapa waktu lalu, sosok kita ini menerbitkan buku yang berjudul: Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengaji Makna dan Rahasia Ayat Suci di Era Media Sosial (2017). Buku ini mengamati fenomena para penafsir ayat Al-Quran yang semata mengandalkan terjemahan dan mengambil rujukan melalui medsos daripada kitab tafsir klasik dan modern.

Beberapa di antaranya bahkan salah kaprah karena tidak memahami sejarah di balik turunnya ayat-ayat tersebut. Dalam buku ini penulisnya mengajak kita untuk betul-betul memahami konteks agar semakin menghayati dan memahami kitab suci. Tak hanya itu, kita akan dipandu untuk memahami metode-metode tafsir dan mengenal para penafsir Al-Quran di sepanjang peradaban Islam. Siapaka penulis buku ini?

Dia adalah Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D. atau yang akrab dipanggil Gus Nadir. Gus Nadir adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi Dosen Tetap di Fakultas Hukum di Australia.

Dalam kicauannya ketika mengomentari soal ini, Gus Nadir menegaskan, yang pertama kali bilang dia sebagai “orang Indonesia pertama dan satu-satunya diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Hukum di Australia” itu adalah Prof Tim Lindsey dari Universitas of Melbourne. Kalau benar, lanjutnya, semoga dapat memacunya untuk lebih giat lagi belajar, dan semoga disusul sama orang kedua, ketiga dan seterusnya.

Tepatnya Gus Nadir mengajar di Monash University Faculty of Law sejak pertengahan tahun 2015. Kampus ini merupakan salah satu fakultas hukum terbaik di dunia. Sebelumnya, selama 8 tahun ia mengajar pada Fakultas Hukum, Universitas Wollongong (2007-2015) hingga meraih posisi sebagai Associate Professor. Tahun 2005 ia bekerja sebagai post-doctoral research fellow di TC. Beirne School of Law, Universitas Queensland.

Gus Nadir, adalah putra bungsu dari almarhum Prof. K.H. Ibrahim Hosen, seorang ulama besar ahli fikih dan fatwa yang juga pendiri dan rektor pertama Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) dan Institut Ilmu Al-Quran (IIQ), dan 20 tahun menjadi ketua MUI/Ketua Komisi Fatwa (1980—2000).

Dari abahnya inilah Gus Nadir belajar mengenai ilmu tafsir, fikih, dan ushul al-fiqh. Dari jalur abahnya pula dia memiliki sanad keilmuan melalui Buntet Pesantren. Gus Nadir juga belajar Ushul al-fiqh kepada almarhum K.H. Makki Rafi’i yang pada masa pensiunnya menetap kembali di Cirebon.

Gus Nadir juga belajar bahasa Arab dan ilmu hadis kepada almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Musthafa Ya’qub. Kiai Makki dan Kiai Ali Musthafa alumni dari Pesantren Tebuireng maka sanad Gus Nadir baik dari jalur Buntet maupun Tebuireng menyambung sampai ke Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari (Allahyarham).

Gus Nadir lulus sarjana S1 dari Fakultas Syari’ah, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan meraih gelar Graduate Diploma in Islamic Studies serta Master of Arts with Honours dari Universitas New England. Kemudian ia meraih gelar Master of Laws dari Universitas Northern Territory.

Gus Nadir meraih dua gelar doktor, PhD in Law dari Universitas Wollongong dan PhD in Islamic law dari National University of Singapore. Gus Nadir telah melahirkan lebih dari 20 artikel di jurnal internasional seperti Nordic Journal of International Law (Lund University), Asia Pacific Law Review (City University of Hong Kong), Australian Journal of Asian Law (University of Melbourne), European Journal of Law Reform (Indiana University), Asia Pacific Journals on Human Rights and the Law (Murdoch University), Journal of Islamic Studies (University of Oxford), and Journal of Southeast Asian Studies (Universitas Cambridge).

Disamping itu, Gus Nadir aadalah seorang kiai dari organisasi Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama (NU). Sejak tahun 2005, ia dipercaya sebagai Ra’is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru.

Selain itu, Gus Nadir juga mengarang buku “Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era”, (Republic of Letters Publishing, Dordrecht, The Netherlands, 2010); “Shari’a and Constitutional Reform in Indonesia” (Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 2007); dan menulis buku bersama Ann Black and Hossein Esmaeili yang bejudul “Modern Perspectives on Islamic Law” (Edward Elgar, UK, 2013 dan 2015).

Gus Nadir juga mengedit bersama Joseph Liow 4 jilid buku tebal “Islam in Southeast Asia”, 4 volumes, (Routledge, London, 2010); dan mengedit bersama Richard Mohr buku “Law and Religion in Public Life: The Contemporary Debate” (Routledge, London, 2011 dan 2013).

Untuk karya dalam bahasa Indonesia, Gus Nadir telah menulis buku “Mari Bicara Iman” (Penerbit Zaman, 2011), dan menulis bersama Nurussyariah Hammado buku berjudul “Ashabul Kahfi Melek 3 Abad: Ketika Neurosains dan Kalbu Menjelajah Al-Quran” (Penerbit Noura Books, 2013). Pada tahun 2015, Nadirsyah Hosen meluncurkan buku terbarunya “Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal Hingga Memilih Mazhab yang Cocok” (Penerbit Noura Books, 2015).

Sampai sekarang, tulisan dan kolomnya tersebar di media massa dan online Indonesia seperti Geotimes, Gatra, Media Indonesia, The Jakarta Post, Jawa Pos dll. (Redaksi/berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan