Grazie Pirlo, Kisah Abadi Sang Maestro

1024
0
Share:

Efri Aditia

Pengagum Pirlo, Editor Pustakapedia

 

Dunia sepakbola seakan hening sejenak. Menjadi jomblo beberapa saat. Kita lupakan dulu sosok Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Morata, atau Neymar. Karena bagi saya, tak ada yang bisa menggantikan kehilangan seorang Andrea Pirlo.

Ya, Pirlo telah pensiun. Ia pensiun dari dunia sepakbola di sebuah kota yang lebih bangga dengan basket ketimbang sepakbola, New York. Dunia terdiam karenanya. Siapa pun mencintai Pirlo, kawan atau lawan, bahkan bagi penggemar bola yang diciptakan untuk menjadi penyebar kebencian di olahraga ini.

Pria yang lahir 19 Mei 1979 di Brescia, Italia ini hinggap di tiga klub dengan tradisi persaingan yang panas dalam sejarah; Inter, Milan, dan Juventus. Pirlo menunjukkan potensinya di Brescia saat umurnya belasan. Menyerap ilmu dan merasakan satu lapangan dengan Roberto Baggio. Inter kemudian mendapatkan kepemilikannya tapi tak sabar menunggunya berkilau. Ia sempat membuat saya jadi bahan tertawaan.

“Begitulah Inter, kalau tak bisa merawat calon bintang, ya jadi kuburan para bintang,” ujar seorang kawan. Baiklah, boleh-boleh saja kawan saya itu bicara begitu, apalagi kalau melihat Coutinho hari ini yang menjadi rebutan banyak klub-klub dunia.

Nah, AC Milan lah yang merasakan keajaiban kaki Pirlo. Satu dekade ia di klub ini, 2001-2011. Meraih 2 Piala Champions (2003 dan 2007), dan 2 Scudetto yang merusak dominasi Inter Milan di Italia saat itu. Status sebagai pemain Milan juga ia sandang saat ia memimpin rekan-rekannya di timnas dan menjadi juara dunia 2006. Pirlo mengaku sangat santai di malam Final saat itu.

“Saya main PS, malamnya ke lapangan dan juara dunia,” ujarnya. Santai karena mungkin Italia bukan unggulan dan sepakbola negaranya baru dihantam Calciopoli.

Kemudian, Pirlo lalu dilepas Allegri ke Juventus bebas transfer. Kawan-kawannya memeluk dan mengusap kepalanya saat sesi latihan terakhir. Ambrosini memeluknya paling lama. Ia menangis. Orang-orang di seantero bumi, pasti banyak juga yang menangis. Seorang laki-laki sehebat, sebaik, dan sependiam dia tak sepatutnya menangis.

Pirlo lalu menghabiskan empat musim terakhirnya di Italia bersama Juventus, semuanya dengan Scudetto. Pirlo kembali menangis saat kalah di final UCL 2015 oleh Barca 1-3. Xavi menghibur dan memeluknya dengan hormat. Sang kapten Barca itu lalu sedikit melontarkan candaan yang membuat Pirlo tersenyum. Ya, Pirlo adalah tempatnya senyuman dan kebahagiaan. Itu hal yang layak sebab kalau dia menangis, lawan pun akan menangis bersamanya.

Di Milan, Pirlo adalah Arjuna dengan attitude seorang Yudhistira. Sementara di Juventus, kita bisa menyebutnya Bisma, ‘tua dan berbahaya’. Kesan yang seperti ia tampilkan secara sadar dengan kumis dan janggutnya. Ya, Pirlo sangat lihai tapi juga sangat lembut.

Pirlo, tempat ia bermain di sisi tengah lapangan, adalah tempat segala kemungkinan yang bisa terjadi dan diciptakan. Dari situlah julukan arsitek, sutradara, maestro lekat padanya. Ia juga seperti Ballerina dan ketukan metronom. Berlari dan bermanuver dengan indah dalam irama yang tertata.

“Saya berfikir maka saya bermain,” ujarnya. Pikiran itulah yang ada dalam setiap passing ke rekannya yang ia sebut dengan manis, “menyebarkan kebahagiaan.”

Pirlo, menurut saya sudah membawa dan memainkan sepakbola di sisi ruhaninya. Membuat orang lupa dengan “syariat” fanatisme klub dan dukungan timnas sepakbola. Taruhlah Pirlo di Chelsea dan ia membela timnas Inggris, atau takdirkan ia di Real Madrid dan bermain untuk Timnas Matador, dunia akan tetap menghormatinya.

Grazie Pirlo! Grazie…Grazie!

 

Share:

Tinggalkan Balasan