Gedong Bagoes Oka, Tokoh Kerukunan Antar Umat Beragama

1281
1
Share:

Alkisah, sebelum reformasi 1998, Ni Wayan Gedong atau lebih dikenal sebagai Ibu Gedong Bagoes Oka, sering bertemu Romo Mangunwijaya dan Gus Dur di Kantor Interfidei, Jakarta. Mereka bicara tentang rekonsiliasi, atau sekadar mengobrol soal laku para elite politik masa itu.

Ibu Gedong sangat mengagumi Tokoh Kemanusiaan Mahatma Gandhi.

“Di sinilah relevansi pemikiran Mahatma Gandhi. Dengan kekuatan spiritual orang seperti Gandhi, ia berjalan dengan keyakinan yang tak pernah bisa dikalahkan oleh kekuatan yang merusak kemanusiaan. Berapa besarnya kekuatan antikemanusiaan itu. Ia tetap bisa ditundukkan” ungkap Ibu Gedong pada suatu ketika saat diskusi bersama Romo Mangun dan Gus Dur.

Bagi Ibu Gedong, antara perdamaian dan Gandhi tak bisa dipisahkan. Ibu Gedong, dikenal sebagai tokoh kerukunan umat beragama. Ia pernah mengelola Ashram Gandhi di Bali maupun di tempat lain, mengasuh dan mendidik generasi muda agar menyadari panggilan mereka, mencipta perdamaian.

“Jangan menyerah, kalian mesti kuat untuk memperjuangkan perdamaian. Zaman ini zaman yang penuh ujian. Tak seorang pun dari kalian boleh menyerah. Berbuatlah sesuatu, sekecil apa pun” pesan Ibu Gedong.

Ibu Gedong adalah tokoh yang mampu menghormati dan menerima perbedaan dalam pandangan agama. Pada saat melakukan doa malam bersama, ia membaca mantra, menyelipkan senandung nyanyian Kristen, melagukan shalawat, dan mengucapkan berbagai kearifan hidup dari berbagai macam agama, Buddha, Konghucu, dan lain-lain. Namun, ia tetap seorang Hindu yang amat taat dan teguh.

Ibu Gedong memperjuangkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Ia salah seorang perempuan Bali pertama yang berkesempatan memperoleh pendidikan tinggi, Ibu Gedong juga berperan aktif dalam gerakan emansipasi kaum perempuan di Bali. Ia mendirikan Yayasan Kosala Wanita dan Yayasan Kesejahteraan Perempuan yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan fasilitas kesehatan untuk perempuan.

Ibu Gedong lahir di Karangasem, 2 Oktober 1921, dilahirkan dengan nama Ni Wayan Gedong. Ayahnya I Komang Layang dan ibunya, Ni Komang Pupuh. Keluarga yang berpikiran maju dan memberikan kebebasan penuh kepada anaknya, termasuk tinggal jauh dari keluarga demi mendapatkan pendidikan yang baik.

Bersama tiga orang perempuan Bali lainnya, Gedong  dikirim ke Jawa untuk belajar di sebuah HIS di Yogyakarta. Di kota itu, Gedong tinggal selama delapan tahun di rumah Prof. J.H. Bavinck, seorang pendeta dan dosen Belanda yang saat itu mengajar di Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana”.

Bagi Gedong, lingkungannya baru itu memberikan kesempatan belajar yang baru tentang nilai-nilai rohani, etis, dan demokrasi, yang kelak menjadi bekal bagi hidup dan pekerjaannya. Meskipun demikian, Gedong tetap berpegang pada agamanya, Hindu. Pengenalan akan agama Kristen membuat Gedong menjadi seorang pengikut Mahatma Gandhi, seorang tokoh Hindu dari India yang memahami Kekristenan.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA, Gedong melanjutkan belajarnya di sebuah sekolah tinggi Kristen, dan kemudian mengajar di sebuah sekolah Krisen di Bogor. Pada 1941, Gedong kembali ke Bali dan mengajar di sebuah Sekolah Lanjutan Atas di Singaraja, dan belakangan menjadi kepala sekolah di tempat yang sama. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan pada tahun-tahun permulaan terbentuknya negara Indonesia, Gedong berjuang bagi tempat agama dalam masyarakat Indonesia yang baru.

Pada 1964. Gedong mendapatkan gelar sarjana muda dari Universitas Udayana di Denpasar. Ia kemudian mengajar di Fakultas Sastra di universitas yang sama pada 1965-1992. Gedong menikah dengan I Gusti Bagoes Oka, dan mendapatkan banyak dukungan dan dampingan rohani dari suaminya, yang sama-sama merupakan pengagum dan pengikut ajaran-ajaran Gandhi. Dari pernikahannya, Gedong Bagus Oka memperoleh enam orang anak laki-laki.

Ibu Gedong Bagoes Oka pergi untuk selama-lamanya pada 14 November 2002. Beliau dikenang sebagai tokoh pembaruan Hindu dan aktivis lintas agama yang aktif memperjuangkan perdamaian dan kerukunan antar umat agama. (berbagai sumber)

Share:

1 comment

Tinggalkan Balasan