Gajah Mada, Pelopor Nasionalisme Nusantara

Share:

Namanya melegenda jauh melampaui jamannya. Diabadikan sebagai nama jalan, universitas, gedung, hotel, museum sampai toko bangunan, warung, dan sebagainya. Komitmennya terhadap persatuan dan kesatuan nusantara tak diragukan lagi. Petikan sumpah yang diucapkannya ketika dilantik menjadi Patih Amangkubhumi pada tahun 1336 M menjadi bukti komitmennya itu.

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

“Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Dialah Gajah Mada, Patih Amangkubhumi, setingkat jabatan Perdana Menteri, kerajaan majapahit yang terkenal. Dibawah komandonya satu persatu wilayah nusantara disatukan di bawah kekuasaan Majapahit. Panji-panji Majapahit berkibar di seantero nusantara, menjadikan imperium Majapahit sebagai salah satu kerajaan besar di dunia. Dengan prestasi besar tersebut Gajah Mada pantas disebut sebagai cikal bakal negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Namun sebenarnya siapakah sang pahlawan kita ini?

Tak banyak riwayat yang dapat digali tentang masa muda tokoh kita ini. Ini menjadi tanda bahwa beliau bukan berasal dari kalangan bangsawan. Namanya baru mencuat setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti, seorang bangsawan yang tiba-tiba menyerbu keraton Majapahit. Raja yang berkuasa saat itu Jayanegara yang merupakan raja lemah dan masih muda tak sanggup mempertahankan keraton oleh serbuan yang tiba-tiba. Beruntung dia diselamatkan oleh prajurit bayangkara (pengawal raja) yang dikepalai seorang komandan muda bernama Gajah Mada.

Oleh prajurit bayangkara di bawah komando Gajah Mada, Jayanegara dilarikan ke tempat yang tersembunyi. Dari sini kemudian Gajah Mada menghubungi para petinggi Majapahit yang sekiranya masih setia dengan raja yang sah. Mereka dikonsolidasi secara senyap, sehingga terkumpul kekuatan yang besar. Ketika tiba saatnya Gajah Mada memimpin penyerangan ke markas Ra Kuti dan menghancurkan kekuatan pemberontak. Jayanegara kembali bertahta.

Keberhasilan Gajah Mada mengatasi kemelut di kotaraja berbuah kepercayaan dari raja. Satu persatu jabatan dia emban sebagai pengabdian kepada kerajaan. Tak kurang dari 3 raja dia layani sebagai patih. Jabatan terakhir sebagai patih Amangkubhumi adalah puncak kariernya sebagai pejabat di bawah kuasa sang Maharaja Sri Rajasanegara atau yang terkenal dengan sebutan Prabu Hayam Wuruk.

Bukan hal aneh jika Gajah Mada langgeng dipercaya memegan jabatan penting di kerajaan Majapahit. Visi politiknya yang mengagumkan tentang tugas dan kewajiban pejabat negara membuat namanya harum melegenda. Marilah kita pelajari agar menjadi bahan renungan dan suri tauladan bagi warga negara Indonesia masa kini, terlebih bagi para yang memegang kuasa.

Dalam menjalankan pemerintahan sebagai patih Amangkubhumi Gajah Mada mempunyai tujuh visi politik seperti dirangkum oleh Dr. Purwadi, M.Hum dalam buku Jejak Nasionalisme Gajah Mada, sebagai berikut:

  1. Visi Laku Hambeging Bathara, artinya pejabat bertindak dengan sifat-sifat dewata. Berlaku seperti Dewa Indra yang menurunkan hujan, artinya memikirkan kemkmuran rakyat. Berlaku seperti Dewa Yama artinya menegakkan keadilan. Berlaku seperti Dewa Surya (matahari), artinya memberi semangat dan kekuatan pada kehidupan, dan lain sebagainya.
  2. Visi Panca titi Darmaning Prabu, artinya pejabat harus mempunyai lima watak kepemimpinan: Handayani Hanyakra Purana, senantiasa memnberikan dorongan, motivasi dan kesempatan kepada generasi muda. Madya Hanyakra Bawa, seorang pemimpin di tengah masyarakatnya harus selalu berkonsolidasi dan bermusyawarah. Ngarsa Hanyakrabawa, menjadi pelopor dan suri tauladan terhadap rakyatnya. Nir Bala Wikara, tidak menggunakan pendekatan kekuasaan, mengutaman dialog dan tukar pikiran. Ngarsa Dana Upaya, berani mengorbankan jiwa dan harta untuk kemakmuran negara.
  3. Visi Kamulyaning Nerpati Catur, yakni seorang pemimpin harus mempunyai empat kualifikasi sebagai berikut: Jalma Sulaksana, mempunyai ilmu pengetahuan. Praja Sulaksana, mempunyai rasa kasih sayang terhadap rakyat. Wirya Sulaksana, mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran. Wibawa Sulaksana, mempunyai kewibawaan.
  4. Visi Catur Praja Wicaksana, mampu menjalankan empat asas kebijakan: Sama, waspada dan siaga dari ancaman termasuk ancaman disintegrasi. Beda, memperlakukan secara adil dalam penerapan hukum terhadap rakyat. Dana, mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Danda, mampu memberlakukan hukuman dengan adil, tidak tebang pilih.
  5. Visi Sad Guna Upaya, yakni enam macam upaya luhur yang harus dilakukan seorang pemimpin, yakni: Sidi Wasesa, mengupayakan menjalin persahabatan dengan rakyat dan negara tetangga. Wigraha Wasesa, mampu bersikap diplomatis dan menjaga hubungan baik. Wibawa Wasesa, mampu menjaga kewibawaan terhadap rakyat, negara tetangga dan musuh. Winarya Wasesa, cakap dan bijak sehingga memuaskan banyak pihak. Gasrarya Wasesa, mempunyai stategi perang yang jitu. Stana Wasesa, mampu menjaga perdamaian dan menghindari peperangan.
  6. Visi Panca Tata Upaya, visi ini diterapkan kepada para birokrat yang mengatur pemerintahan, yakni: Maya Tata Upaya, mampu menginventaris data dan permasalahan yang ada. Upeksa Tata Upaya, mampu menganalisa dan mencari pemecahan masalah. Indra Jala Wisaya, mencari solusi secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Wikrama Wisaya, mampu melaksanakan program yang telah dirumuskan. Lokika Upaya, tidak bicara sembarangan di publik.
  7. Visi Tri Jana Upaya, visi ini harus dimiliki pejabat dalam rangka mengenal masyarakatnya. Ada tiga hal sebagai berikut: Rupa Upaya, mengenal wajah masyarakat, dalam hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat. Apakah masyarakat hidupnya sudah bahagia dan sejahtera, dll. Wamsa Upaya, yakni mengenali adat istiadat, kelas sosial, hobi dan kesenangan masyarakat dalam kehidupan keseharian. Guna Upaya, mengenali tingkat pendidikan dan kedewasaan mental masyarakatnya.

 

Dapat kita lihat bahwa visi politik Gajah Mada sangat komprehensif dan mengakar. Tak heran jika Gajah Mada dapat membawa Majapahit menjadi negara besar yang disegani lawan dan membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Asal usul beliau yang dari rakyat jelata tak menghalangi beliau bersikap luhur. Namanya harum ke seantero nusantara hingga kini.

Rujukan:

  1. Jejak Nasionalisme Gajah Mada, Dr. Purwadi, M.Hum.
  2. Gambar Gajah Mada dari Lukisan kontemporer karya I Nyoman Astika
Share:

Tinggalkan Balasan