Dorothea Rosa, Penyair Perempuan Indonesia

842
0
Share:

Sastrawan kenamaan Dayak, almarhum Korrie Layun Rampan mengatakan, Dorothea merupakan penyair yang sangat mengejutkan, produktivitasnya luar biasa. Wawasan Dorothea cukup luas dan visi kepenyairannya yang mantap.

Sang maestro sastra Indonesia modern itu menilai, sajak-sajak Dorothea mengandung suatu gerak hidup, percikan api yang berpijar, tetapi dalam pengucapannya terasa dingin dan asosiasinya yang begitu cepat bersilangan membawa imajinasi berpacu untuk mengejar makna imajinatif. Sebagai puisi imagis, sajak-sajak Dorothea menunjukkan sifat lirik yang khas, yaitu lirik prosa.

Penyair Lucianus Bambang Suryanto mengatakan, Dorothea sungguh orang yang sangat kreatif. Nyanyian Gaduh (1987) merupakan kumpulan sajaknya yang pertama. Joko Pinurbo berpendapat, dalam menulis sajaknya “Nyanyian Gaduh” Dorothea selalu mengeksploitasi kesunyian. Hal itu dilakukannya bukan sekadar untuk kesentimentilan belaka, tetapi dibedah dalam upaya untuk menemukan hakikat kesunyian itu sendiri.

Dalam sajaknya “Sepenggal Syair tentang Ombak”, ia menulis mungkin bisa kutemukan makna sunyi lebih fitri, ingin kuyakini bahwa dalam kegaduhan itu bisa kutemukan juga arti diam lebih sempurna. Di sini Rosa memang belum merumuskan apa sebenarnya makna kesunyian itu. Akan tetapi, setelah selesai membaca buku ini terkesan bahwa di dalam kesunyian dan kesepian itu kemungkinan akan berlangsung dialog, percakapan atau pergaulan yang intens dengan diri sendiri.

Penghargaan yang pernah diperoleh Dorothea antara lain sebagai pemenang I Penulisan Puisi Hari Chairil Anwar (1981) yang diselenggarakan SEMA Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yokyakarta. Pemenang I penulisan puisi Dies Natalis IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1985) dan Pemenang I Penulisan Puisi yang diselenggarakan Institut Filsafat & Theologia Yogyakarta.  Juara I Penulisan Esai IKIP Sanata Dharma Yogyakarta.

Pada tahun 2003, bersama Nh. Dini dan Ratna Indraswari Ibrahim, Dorothea menerima penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa. Dorothea mengelola penerbitan Indonesia Tera di Magelang yang banyak menerbitkan buku-buku sastra, antara lain Pengarang Telah Mati (kumpulan cerpen) karya Sapardi Djoko Damono.

Ya, nama lengkapnya Dorothe Rosa Herliany, dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963. Setelah tamat Sekolah Dasar Tarakanita Magelang, Dorothea melanjutkan ke SMP Pendowo Magelang. Setelah itu, Dorothea melanjutkan ke SMA Stella Duce Yogyakarta. Lulus dari SMA Dorothea meneruskan ke IKIP Sanata Dharma Yogyakarta. Dorothea Rosa Herliany pernah menjadi wartawan dan guru.

Ia juga pernah menghadiri pertemuan sastrawan muda Asean di Filipina (1990) dan menjadi peserta dalam Festival Puisi Indonesia Belanda di Jakarta dan Rotterdam, Negeri Belanda (1985). Sebagai seorang penulis, Dorothea telah menulis sejak tahun 1985 di berbagai majalah dan surat kabar, antara lain di Horison, Basis, Dewan Sastra (Malaysia), Suara Pembaharuan, Mutiara, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, Citra Yogya, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Kalam, Republika, Pelita. Sebagai seorang sastrawan, Dorothea mempunyai peranan yang cukup penting.

Karya sastranya yang sudah terbit, antara lain Nyanyian Gaduh (kumpulan sajak, 1987), Matahari yang Mengalir (kumpulan sajak, 1990), Kepompong Sunyi (kumpulan sajak, 1993), Pagelaran (kumpulan cerpen, 1993), Guru Tarno (kumpulan cerpen, 1994), Cerita dari Hutan Bakau (kumpulan sajak, 1994), Vibrasi Tiga Penyair (ap, 1994), Blencong (kumpulan cerpen, 1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (kumpulan cerpen, 1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (kumpulan sajak, 1999). (Berbagai Sumber/Davika)

 

Share:

Tinggalkan Balasan