Diponegoro (1): Bukan Pangeran Biasa

Share:

Kita sudah pasti mengenal dengan baik salah satu pahlawan nasional yang namanya menguncang dunia di abad ke 19, Pangeran Diponegoro. Keberanian dan kegigihannya melawan penjajah Belanda dalam Perang Jawa, De Java Oorlog, demikian melegenda.

Belanda pun sampai kini takkan melupakan perang itu karena telah menyebabkan kasnya bobol. Tak kurang 25 juta gulden (setara dengan 2,2 Milyar dollar saat ini, Carey, 2014) kas negeri Belanda tandas untuk membiayai perang. Ditambah 7.000 serdadu lokal dan 8.000 serdadu Belanda, jelas itu bukan perang sebagaimana yang terjadi beberapa dekade sebelumnya, seperti perang suksesi Jawa yang juga terjadi karena campur tangan Belanda.

Namun sesungguhnya dalam Perang Jawa yang paling menderita adalah rakyat. Peter Carey (2014) mencatat tak kurang 200.000 orang gugur, dua juta orang terpapar langsung akibat perang karena rusaknya lahan pertanian dan macetnya perekonomian. Itulah perlawanan terakhir yang masih dimiliki orang Jawa sebelum akhirnya mereka benar-benar dikuasai oleh penjajah kolonial Belanda.

Kerugian dari pihak Diponegoro dan seluruh pendukungnya jelas lebih besar lagi karena Belanda sering kali melakukan bumi hangus terhadap perkampungan dan lahan pertanian demi mempersempit gerak Diponegoro dan memangkas dukungan logistik (Shaleh A. Djamhari, 2003).

Di balik sedemikian besar sumber daya yang dikerahkan oleh para penduduk lokal dalam perang itu, pastilah ada motivasi atau alasan-alasan lain yang membuat mereka gigih dalam berjuang, mengorbankan harta-benda dan nyawa. Pastilah ada sosok yang menginspirasi sehingga membuat mereka tergerak, bersatu padu melawan penjajah.

Tidak salah, jiwa semangat mereka berkobar karena ada manusia besar yang mereka patuhi dan mereka dukung dengan sepenuh hati. Dialah Pangeran Diponegoro. Siapakah dia dan mengapa dia melakukan perlawanan?

Diponegoro lahir pada 11 Nopember 1785 dari seorang ibu beliau yang masih berusia 15 tahun, Raden Ayu Mangkorowati, selir dari bakal calon Sultan Hamengku Buwono III. Sama dengan ibunya, ayahnya juga masih belia, 16 tahun. Pada saat lahir diponegoro diberi nama dan gelar Bendoro Raden Mas Mustahar (Carey, 2014).

Penguasa Kasultanan Yogyakarta saat itu adalah Sultan Hamengku Buwono I, yang merupakan kakek buyut dari Diponegoro. Maka walau terlahir sebagai generasi keempat Diponegoro turut menyaksikan peristiwa-peristiwa penting, intrik dan dinamika yang terjadi di kasultanan Yogyakarta. Hal-hal tersebut yang kelak mempengaruhi pandangan dan sikapnya terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Walau terlahir sebagai pangeran Diponegoro tidaklah hidup seperti pangeran lainnya. Nenek buyutnya, Kanjeng Ratu Ageng (permaisuri dari Sultan HB I) membawa Diponegoro ke sebuah tempat di sebelah barat Kraton yang bernama Tegalrejo. Itu bukan istana, melainkan sebuah tempat mirip pesanggrahan untuk menyepi dan melupakan kemewahan kehidupan istana.

Ratu Ageng tampaknya banyak tidak sepakat dengan kebijakan Sultan Hamengku Buwana II yang notabene putranya sendiri. Sultan HB II dianggap lalai dalam menjalankan ibadah, lebih mementingkan kehidupan duniawi. Inilah yang kemudian mendorong Ratu Ageng untuk menyepi ke Tegalrejo.

Sikap Ratu Ageng ini walau tidak lazim tetapi cukup masuk akal, mengingat Ratu Ageng adalah seorang religius, anak seorang pemuka agama dari Sragen, Ki Ageng Derpoyudo. Di Tegalrejo Ratu Ageng menjalani kehidupan berbaur dengan masyarakat luas, bertani dan mengajarkan agama dengan mengundang beberapa tokoh agama di Yogya. Di sinilah kelak Diponegoro mengenal banyak tokoh agama sehingga terjalin pertalian khusus dengan komunitas muslim. Ini merupakan modal besar kelak, ketika mengobarkan perang Jawa.

Hidup di kawasan pedesaan Tegalrejo membuat Diponegoro leluasa bergaul dengan masyarakat. Kalangan agamawan pun banyak dia kenal lewat jamaah yang dibentuk oleh Ratu Ageng. Kompleks kawasan Tegalrejo sepeninggal Ratu Ageng kemudian diwariskan kepada Diponegoro. Disanalah kemudian Sang Pangeran menjalani kehidupan dengan membawahi wilayah 500 cacah.

Kawasan ini oleh Diponegoro kemudian dikembangkan menjadi pemukiman yang asri dan mengesankan dengan berbagai tanaman dan pertamanan. Banyak musafir singgah dan belajar agama pada komunitas santri yang dibentuk di situ. Disanalah sang pangeran tinggal bersama rakyatnya. Pengejawantahan sejati dari konsep manunggaling kawula-gusti dalam budaya Jawa. Tegalrejo menjadi kawasan pemukiman yang ideal.

Karena tinggal di pedesaan praktis Pangeran Dipenogoro hanya beberapa kali berkunjung ke istana. Misalnya, pada acara gerebeg yang diselenggarakan setahun tiga kali. Itupun dilakukan dengan enggan, tidak sepenuh hati. Kita tahu bahwa acara gerebeg lebih bernuansa kejawen, hal yang kurang disukai Diponegoro yang religius. Dia juga datang ke istana ketika menerima gelar sebagai Raden Ontowiryo pada usia 20 tahun dan ketika menikah dengan putri salah seorang bupati mancanegara. Di waktu-waktu lain Diponegoro tampak kurang suka berkunjung ke istana.

Kehidupan Diponegoro yang religius juga tampak dari kebijakan beliau yang lebih suka mengirim putra sulungnya, Diponegoro II (kemudian mengambil nama santri Raden Mantri Muhamad Ngarip), untuk belajar agama kepada Kiai Mojo, seorang guru agama pada sebuah pesantren di Surakarta. Lazimnya seorang pangeran akan mengirim anak-anak mereka untuk magang di istana, latihan memegang jabatan penting, bukan malah ke pesantren. Kelak Kiai Mojo menjadi penasihat spiritual yang penting bagi Diponegoro dalam Perang Jawa.

Dari sedikit gambaran singkat tentang masa kecil dan remaja dan masa muda pangeran diponegoro di atas, dapat disimpulkan bahwa walau seorang anak raja Diponegoro tidak menjalani kehidupan di istana yang identik dengan kemewahan dan pelayanan.

Beliau justru hidup bersanding dengan masyarakat sekitar dan hidup bersama mereka. Pendidikan beliau yang ditempa oleh Ratu Ageng, istri pejuang yang telah kenyang mengenyam penderitaan dalam perang semasa mendampingi Sultan Hamengkubuwana I, tampak membekas dalam sikap perwira yang dimiliki Pangeran Diponegoro. Selain itu ada satu peristiwa lagi yang menjadi pemantik keberanian dalam dada Pangeran muda ini.

Pada tahun 1810 timbul pemberontakan di kesultanan Yogyakarta. Pelakunya adalah seorang bupati wedana mancanegara timur yang berkedudukan di Madiun, Rangga Prawiradirjo III. Pemberontakan itu sendiri sebenarnya dilakukan dengan setengah hati dan tanpa persiapan.

Rangga Prawirodirjo waktu itu dituduh melindungi kawanan perampok yang mengganggu di wilayah Ponorogo, yang termasuk daerah kekuasaan Surakarta. Atas gugatan Surakarta dia diputus bersalah oleh Belanda dan harus mohon pengampunan kepada Gubernur Jenderal di Buitenzorg (Bogor). Sudah pasti bahwa nasih tragis akan menantinya di sana.

Rangga menolak melakukan itu dan memilih melakukan perlawanan. Dia kemudian dinyatakan sebagai pemberontak oleh Sultan Yogya HB II, dan kemudian dikejar oleh pasukan gabungan Belanda dan tiga kerajaan; Surakarta, Yogyakarta dan Mangkunegaran. Namun karena memang tidak siap, dalam waktu sebulan saja Rangga berhasil dibunuh dengan keji oleh pasukan gabungan. Mayatnya digantung di depan istana kesultanan Yogyakarta.

Sehari setelah penggantungan mayat itu Diponegoro berkunjung ke Kraton. Diam-diam Diponegoro menaruh simpati atas keberanian Rangga Prawirodirjo tersebut, yang memilih mati melawan daripada meringkuk di tangan Belanda. Peter Carey (2014) menggambarkan bahwa pada hari itu Rangga telah menjadi idola Pangeran Diponegoro. Rangga Prawirodirjo yang hari itu dihinakan justru tampak sebagai pahlawan di mata Diponegoro.

Maka bukan kebetulan jika kelak Diponegoro menikah dengan anak bupati Madiun itu. Seorang anak yang lain, Sentot Prawirodirjo, yang waktu bapaknya dibantai masih balita, kelak juga menjadi salah satu panglima tinggi (ali basah) dalam pasukan Diponegoro. Namun apakah peristiwa pembantaian bupati Madiun ini yang menjadi pemantik dari bangkitnya Diponegoro melawan Belanda? Jawabannya tidak sesederhana itu. Nantikan dalam seri berikutnya.

 

Sumber rujukan:

Peter Carey, Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (2014), terjemahan, penerbit Kompas.

Shaleh A. Djamhari, Stategi Menjinakkan Diponegoro (2003), Penerbit Komunitas Bambu.

 

Share:

Tinggalkan Balasan