Dilantik Lalu Dicopot, Eh Terus Dilantik Lagi, Siapakah Dia?

1109
1
Share:

Lahir di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969. Pada usia 5 tahun bersekolah di TK Masjid Syuhada. Kemudian usia 6 tahun, ia masuk ke SD Laboratori, Yogyakarta. Setelah itu sekolah di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Lulus dari SMP ia meneruskan pendidikannya di SMA Negeri 2 Yogyakarta.

Tahun 1987, ia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat Program ini membuatnya menempuh masa SMA selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989.

Ia kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Aktif berorganisasi, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi HMI UGM.

Ia terpilih menjadi Ketua Senat UGM pada kongres tahun 1992. Tahun 1993, mendapat beasiswa dari JAL Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis mengenai lingkungan.

Setelah lulus kuliah, ia bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM, sebelum mendapat beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada bulan Desember 1998.

Ia kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dalam bidang ilmu politik di Northern Illinois University pada tahun 1999 dan bekerja sebagai asisten peneliti di Office of Research, Evaluation, and Policy Studies di kampusnya, dan meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow, penghargaan yang hanya diberikan kepada mahasiswa NIU yang berprestasi dalam bidang ilmu politik pada tahun 2004. Ia lulus pada tahun 2005.

Ia kemudian bergabung dengan Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan sebuah lembaga non-profit yang berfokus pada reformasi birokrasi di beragam wilayah di Indonesia dengan menekankan kerjasama antara pemerintah dengan sektor sipil.

Kemudian ia menjadi direktur riset The Indonesian Institute. Ini merupakan lembaga penelitian kebijakan publik yang didirikan pada Oktober 2004 oleh aktivis dan intelektual muda yang dinamis. Kariernya di The Indonesian Institute tentu tak lepas dari latar belakang pendidikannya di bidang kebijakan publik.

15 Mei 2007, ia dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina, tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia. Saat itu usianya baru menginjak 38 tahun. Ia juga membentuk Gerakan Indonesia Mengajar. Proses untuk mendesain dan mengembangkan konsep Indonesia Mengajar pun dimulai pada akhir 2009. Ia salah satu pendiri dan juga Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.

Lalu ia terpanggil untuk memasuki dunia politik, diundang mengikuti konvensi Demokrat pada 27 Agustus 2013. Bersama 11 tokoh lainnya, ia mengikuti Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat, namun tak terpilih. Kemudian ia menjadi Juru Bicara Pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Jusuf Kalla (JK) pada pemilihan presiden 2014.

Setelah kemenangan Jokowi-JK, ia dipercaya oleh pasangan tersebut untuk menjadi Deputi Kantor Transisi Jokowi-JK. Pada 27 Oktober 2014, ia dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK.

Sayang disayang, usia jabatannya sebagai Mendikbud berlangsung cukup singkat. Ia dicopot oleh Jokowi dalam reshuffle kabinet jilid II, 27 Juli 2016. Posisinya digantikan oleh kader Muhammadiyah, Muhadjir Effendy. Kabarnya, tak pernah ada penjelasan dari Jokowi atau pihak Istana terkait alasan pencopotannya.

Padahal ia banyak prestasinya; pernah menjadi 20 Tokoh Pembawa Perubahan Dunia, PASIAD Education Award, Nakasone Yasuhiro Award,  500 Muslim Berpengaruh di Dunia dari The Royal Islamic Strategic Studies Center, Jordania

Ya, dia adalah cucu dari pejuang nasional Abdurrahman Baswedan, seorang jurnalis dan diplomat yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Penerangan pada masa revolusi fisik. Kedua orang tuanya akademisi. Ayahnya, Drs. Rasyid Baswedan, merupakan dosen di Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, sementara ibunya, Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd. merupakan guru besar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Ia menikah dengan Fery Farhati Ganis, seorang sarjana psikologi dari Universitas Gadjah Mada pada tanggal 11 Mei 1996. Dikaruniai empat orang anak: Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam dan Ismail Hakim. Bersama Sandiaga Uno ia memenangkan pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta pada 2017 setelah melewati dua putaran. Diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera.

Setelah dicopot oleh Jokowi sebagai menteri, pada 16 Oktober 2017 Presiden Jokowi melantiknya lagi, tapi dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017-2022. Entah bagaimana nanti, apakah ada pencopotan lagi atau ada pergantian posisi? Entah, kekuasaan itu kadang bisa bikin geli, ih.

Share:

1 comment

  1. Ada Apa Dengan Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan > BIOGRAFLY 13 November, 2017 at 17:56 Reply

    […] Kabarnya, Anies Baswedan tidak mempermasalahkan. Dalam sebuah berita di portal, begini kata Anies, “ia akan menyapa semua, mengayomi semua. Kalau kemudian ada reaksi negatif, ya itu bonus aja buat saya. Enggak ada sesuatu, biasa aja, rileks”. Hemm…bagaimana sepak terjang dan riwayat Gubernur baru DKI Jakarta ini? Baca di sini Dilantik Lalu Dicopot, Eh Terus Dilantik Lagi, Siapakah Dia? […]

Tinggalkan Balasan