Daoed Joesoef, Jalan yang Tak Umum

674
0
Share:

Hari ini, Selasa (23/1/2018), pukul 23.55 WIB, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Doed Joesoef, meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Jenazah Daoed disemayamkan di rumah duka, Jalan Bangka VII Dalam Nomor. 14, Jakarta Selatan.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan di Pemakaman Giri Tama, Bogor, Jawa Barat. Almarhum meninggalkan seorang istri, Sri Sulastri; seorang anak, Sri Sulaksmi Damayanti, menantu, dan dua orang cucu.

Daoed Joesoef lahir di Medan, Sumatera Utara, 8 Agustus 1926, dilahirkan dari pasangan Moehammad Joesoef dan Siti Jasiah asal Jeron Beteng, Yogyakarta. Daoed memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Setelah itu ia meneruskan studinya ke Sorbonne, Perancis dan meraih dua gelar doktor, yakni Ilmu Keuangan Internasional dan Hubungan Internasional serta Ilmu Ekonom. Daoed adalah salah seorang tokoh yang ikut mendirikan CSIS (Centre for Strategic and International Studies).

Daoed yang mempunyai kegemaran melukis ini, pada masa jabatannya sebagai menteri, terkenal karena kebijakanya memperkenalkan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang intinya dimaksudkan untuk membersihkan kampus dari kegiatan-kegiatan berpolitik. Menurutnhya, kegiatan politik hanya boleh dilakukan di luar kampus, sementara tugas utama mahasiswa adalah belajar.

Kini Daoed telah berpulang menyusul Emaknya. Berbagai kenangan Daoed Joesoef soal emak, ibu yang melahirkan, mendidik, dan membesarkannya, meninggalkan kesan bagi mereka yang membacanya. Buku “Emak” terbit pada tahun 2003, ketika Daoed berulang tahun ke-77. Buku setebal lebih dari 400 halaman itu menjadi memoar dan segala kenangan Daoed tentang emak sebagai sosok yang sempurna baginya.

Kenangan Daoed akan sosok emak tak hanya soal kelembutan kasih sayang, tetapi juga bagaimana emak menjadi “dunia” baginya. Dengan segala keterbatasannya, emak memperkenalkan banyak hal dengan caranya.

Daoed menyebut emak sebagai “jiwa rumah tangga”.
“Kami tak berani membayangkan bagaimana jadinya hidup tanpa emak, walaupun dia sendiri sering mengatakan bahwa bapaklah yang membanting tulang menjadi pencari nafkah utama bagi seluruh keluarga,” tulis Daoed.

Emak pernah berpesan kepada Daoed:

“Dalam menjalani hidup ini, Nak, adakalanya kau akan sampai di jalan yang bercabang atau bersimpang. Bila demikian, jangan ragu-ragu memilih cabang atau simpang yang kelihatannya kurang atau jarang ditempuh orang.”

“Bagaimana kalau nanti kita tersesat?” tanyaku.

“Kalau kita tersesat bukan berarti kita akan hilang dalam perjalanan”, jawab emak. “Maka jangan ragu-ragu mengambil jalan yang tidak umum. Hasilnya bisa cukup memuaskan … contohnya lihat apa yang kau alami sekarang. Setelah orang-orang melihat hasil ini, lama-lama mereka akan mengikuti langkahmu dan jalan ini lalu menjadi jalan orang banyak. Tapi kau tetap yang memulai, yang merintis. Ini berlaku baik dalam arti harfiah maupun secara kiasan.”

Selamat jalan Pak Daoed, kepergianmu bukanlah kiasan. (redaksi/berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan