Che Guevara, Sebab Mundur Adalah Pengkhianatan

1219
0
Share:

Muzambik

Bergiat di pustakapedia.com

 

“Ketika ada penguasa yang memisahkan manusia-manusia menjadi dua kelompok yang berlawanan, aku akan tetap bersama rakyat”

Kutipan di atas adalah sepenggal prinsip seorang petualang bernama Ernesto Guevara de la Serna bin Ernesto Guevara Lynch. Ia lahir tahun 1928 di kota Rosario, Argentina, sebuah negara sepakbola yang menganut ideologi permainan anti kolonialisme Inggris.

Kisah Che berawal saat kawan touring-nya Alberto Granado bersedia untuk keliling Amerika Selatan. Sepeda motor Norton 500 nan butut menjadi saksi perjalanan Che, sejauh 4000 mil keliling Argentina Utara, sampai berubah arah menuju ke berbagai negara dan mengubah sosok Che menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Ya, sang revolusioner.

Perjalanan dari Cordoba, Argentina, hingga Caracas, Venezuela, membentuk kedewasaan Che dalam berpikir dan bertindak benar. Benar, menurutnya adalah ketika ia bersama rakyat. Jurang-jurang di Peru bernama Pampas tak membunuhnya, malah menguatkan. Lagi pula, Pampas tak begitu mengkhawatirkan baginya dibanding asma yang ia derita.

Saat itu tahun1954, di Meksiko ia bertemu salah satu dari dua Castro, yaitu Fidel Castro. Kala itu Che turut dalam rencana invasi ke Kuba. Fidel menerima Che karena ia adalah seorang dokter. Dari sinilah namanya mulai dipahat menjadi legenda.

Seperti perjalanan lainnya, pertemuan dengan Castro membawanya ke jalan menuju kenyataan terjal yang tak mudah. Merencanakan invasi dengan cara gerilya, dengan kondisi pas-pasan – atau, bahkan, serba kekurangan. Lawannya, Fulgencio Batista, adalah seorang diktator Kuba. Dan Che bergerilya kurang lebih tiga tahun lamanya!

Singkat cerita, ia dan gerilyawan Castro menang. Pada 1959 ia menjadi Gubernur Bank Nasional pemerintahan revolusioner Castro. Berangsur ia menjabat beberapa jabatan lain seperti Menteri Industri. Tapi jiwa petualangannya tak pernah puas. Pada 1966 ia mengorganisasi sekelompok gerilyawan ke Bolivia (nama negara ini, menurut beberapa informasi, diambil dari salah satu tokohnya, Simon Bolivar).

Che pergi ke Bolivia dengan menyamar. Gaya Bohemian tak menyulitkannya untuk menjadi penyamar yang baik. Setahun kemudian Che ditangkap setelah beberapa bulan berperang melawan tentara Bolivia. Kota Vallegrande menjadi saksi penangkapannya.

Dokter, sang revolusioner, dan anak motor itu dihukum mati. Ya, Che Guevara mati. Kini, ia mati semati-matinya. Jasad dan prinsip revolusi yang diyakininya tak banyak berguna bagi generasi milenial saat ini. Ia, meminjam istilah Yusuf ‘Dalipin’ Arifin, bergerak di ranah cerita bertumbuh dengan angan-angan.

Che memang masih ada di banyak tempa. Namun banyak kenyataan yang berubah. Melalui wajah yang menatap kosong melalui kaos-kaos bergambar wajahnya, dengan baret bergambar bintang satu. Bak militer, profesi yang diam-diam Che inginkan, tapi gagal lantaran asma.

Seandainya Alberto Korda tak hadir pada upacara pemakaman korban Le Coubre. Tak akan ada foto itu. Tak ada pula kaos-kaos wajah Che yang disablon sembrono hingga ia tampak murung. Padahal ia adalah dokter yang anak motor dan seorang revolusioner yang pernah dimiliki dunia.

Tulisan ini didasarkan dari dua buku catatan tentang Che. Pertama, The Motorcycle Diaries dan Becoming Che. Menurut Che buku pertamanya itu bukanlah buku tentang kisah keberanian. Ia tak berharap orang-orang yang membaca buku itu begitu saja menerima versinya. Buku kedua, Becoming Che, ditulis Carlos Ferrer dengan prolog dari sahabat seperjalanannya, Alberto Granado. Ferrer sendiri adalah kawan Che dalam perjalanan menjelajah Bolivia, Peru, dan Ekuador.

“Kini aku serahkan diriku kepada kalian, diriku yang dulu”

Tulisan ini saya didedikasikan untuk seorang kawan, FAR.

 

Share:

Tinggalkan Balasan