Buya Syafii dan PKI

928
2
Share:

Akhir-akhir ini publik republik sedang hangat topik soal pemutaran film G30S/PKI. Jauh-jauh hari pula Guru Bangsa, Ahmad Syafii Maarif pernah menulis dalam resonansi di salah satu koran di Indonesia, judulnya PKI dan Kuburan Sejarah. Sebelum membahas soal ini, siapa sebenarnya Buya Syafii Maarif ini dan kenapa banyak menyebutnya sebagai guru bangsa?

Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif lahir di Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935. Ia akrab disapa Buya. Buya pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute.

Buya dikenal sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi, sederhana, kritis, dan bersahaja. Selain guru bangsa, banyak juga yang menyebutnya “Bapak Bangsa”. Ia tak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

Perjalanan hidup Buya Syafii sudah banyak yang menulis. Singkatnya, Buya pernah menjadi dosen FPIPS IKIP, IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Penasihat PP Muhammadiyah (2005-sekarang), Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Yogyakarta (2005-sekarang), dan Pendiri Maarif Institute (2003-sekarang).

Buya pernah belajar di Madrasah Mualimin Muhammadiyah Lintau (1953) dan Yogyakarta (1956), FKIP Universitas Cokroaminoto Surakarta sampai sarjana muda (1964). Tamat FKIS IKIP Yogyakarta (1968), belajar sejarah pada Northern Illinois University (1973) dan memperoleh gelar M.A. dalam ilmu sejarah pada Ohio University, Athens, Amerika Serikat (1980). Meraih gelar Ph.D. dalam bidang pemikiran Islam University of Chicago, Chicago, Amerika Serikat (1983), dengan disertasi berjudul “Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia”.

Selama menjadi dosen dan belajar di Amerika, Buya sangat sering menghadiri seminar dan simposium di dalam dan luar negeri. Juga, sering menulis dalam jurnal (Informasi, Sigma Pi Gama dan Mizan), majalah (Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Dermaha, Ishlah dan Genta) dan surat kabar (Mercu Suar, Abadi, Adil dan Kedaulatan Rakyat).

Buku-buku yang telah ditulis antara lain Gerakan Komunis di Vietnam, Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis?, Aspirasi Umat Islam Indonesia (tulisan bersama), Percik-Percik Pemikiran Iqbal (bersama Mohammad Diponegoro), Dinamika Islam: Potret Perkembangan Islam di Indonesia, Duta Islam untuk Dunia Moderen (bersama Mohammad Diponegoro), Islam, Kenapa Tidak! dan Orientalisme dan Humanisme Sekuler (bersama DR. M. Amien Rais), Masa Depan Dalam Taruhan (2000), Mencari Autentisitas (2004), Meluruskan Makna Jihad (2005), Menerobos Kemelut (2005), Menggugah Nurani Bangsa (2005), dan sebagainya. Masih banyak.

Buya masih masih aktif sebagai kolumnis dan pemakalah di dalam dan luar negeri. Sudah banyak penghargaan yang pernah diperoleh Buya, dianataranya Magsaysay Award pada tahun 2008 (Manila, 31 Agustus 2008) untuk kategori Peace and International Understanding, dari Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) Award pada tahun 2011 (28/5/2011) untuk kategori Tokoh Pemerhati Pemerintahan atas kinerja Buya yang tidak henti-hentinya memeberikan masukan yang kritik-konsruktif.

Buya juga pernah menerima penghargaan Lifetime Achievement Soegeng Sarjadi Award on Good Governance untuk kategori Intelectual Integrity dari Soegeng Sarjadi Syndicate (18/8/2011) yang menganggap Buya sebagai tokoh yang terus-m,enerus memperjuangkan hak-hak publik melalui kritikan dan ajakan untuk menegakkan keadilan di Indonesia.

Kembali soal PKI, bagaimana pandangan Buya tentang PKI? Belum lama ini Buya pernah komentar bahwa di mana-mana komunisme sudah runtuh. Di Rusia, sekarang komunisme tinggal 13 persen. Di China, komunisme sudah ditinggalkan dan menjadi kapitalis. Hanya tinggal Kim Jong Un di Korea Utara. Itu saja, mungkin hanya dipakai oleh Kim Jong Un sebagai alat menjadi seorang diktator.

Menurut Buya, tahun 1950-an dan 1960-an Partai Komunis Indonesia (PKI) bisa kuat di Indonesia karena memang ada negara-negara kuat komunis yang menyokongnya. Namun sekarang sudah tidak ada lagi yang menyokong komunisme.

Pesan Buya: “PKI yang sudah masuk kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan. Sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan lagi diracuni oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab”. Sekian.

Share:

2 comments

Tinggalkan Balasan