Soekarno Penyambung Lidah Rakyat

912
4
Share:

Penyambung Lidah Rakyat

Ada beberapa buku yang membahas tentang Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia ini. Salah satu yang paling popular adalah Buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat. Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis wanita asal Amerika Serikat bernama Cindy Adams. Dalam buku ini pembaca bisa mendapatkan suatu sudut yang betul-betul personal dari seorang Soekarno, bagaimana tidak, dalam buku ini dijelaskan dengan gamblang masa kecil Soekarno (yang bernama kecil Kusno) yang sakit-sakitan, masa remajanya yang bandel, kisah percintaannya yang bahkan untuk standard saat ini bisa dibilang sangat berani.

Karena sudut pandang yang begitu personal ini jugalah, pada saat buku ini siap diterbitkan Soekarno sempat ragu-ragu untuk memberikan persetujuannya. Buku ini ditulis selama 3 tahun oleh Cindy Adams, syukurnya Soekarno memberikan lampu hijau untuk percetakannya. Bila tidak, maka rakyat Republik Indonesia ini akan kehilangan salah satu referensi penting yang juga unik tentang Founding Father republik ini. Seperti juga terungkap dalam buku ini mengenai otobiografi dia berkata:

“Begini. Sebuah otobiografi tidak ada nilainya, kecuali jika si penulis merasa kehidupannya tidak berguna. Kalau dia memganggap dirinya orang besar, karyanya akan menjadi subjektif. Tidak objektif. Otobiografiku hanya mungkin jika ada keseimbangan antara keduanya. Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat mengurangi egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek sehingga orang mau membeli buku itu. Kalau dimasukkan yang baik-baik saja, orang akan menyebutku egois, karena memuji diri sendiri. Sebaliknya memasukkan yang jelek-jelek saja akan menimbulkan suasana mental yang buruk bagi rakyatku sendiri. Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, apakah Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk? Hanya di saat itulah dia baru dapat diadili.”

Dalam buku ini kita juga bisa menguak beberapa fakta unik, salah satunya tentang misteri siapa itu “Sarinah” yang akhirnya menjadi salah satu mall tertua di Jakarta dan bagaimana peran Sarinah dalam membangun khasanah pemikiran Soekarno kecil saat itu.

Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Rakyat kecil.

 

Bicara Soekarno, tentu juga tidak bisa lepas dari kontroversi, termasuk di dalamnya bagaimana dia yang selalu ingin dekat dengan rakyat kecil tapi dengan kekuasaannya saat ini malah menjadi bumerang bagi jati dirinya yang paling sejati. Seperti yang diungkapkan oleh Soekarno:

“Sering kali aku duduk di beranda Istana Merdeka, seorang diri. Beranda itu tidak begitu bagus. Separuh tertutup awning untuk mengurangi panas dan sinar matahari, satu-satunya perabotannya adalah kursi rotan tanpa kain pelapis yang tidak dicat dan meja bertaplak kain batik bikinan negeriku. Satu-satunya hak khusus yang diberikan padaku karena jabatanku yang tinggi adalah sebuah kursi dengan bantal di atasnya. Itulah yang disebut dengan Kursi Presiden. Dan aku duduk di sana. Dan menatap. Dan memandang keluar ke taman indah dan menyegarkan, yang tanamannya kuatur dengan tanganku sendiri. Dan aku merasa sangat kesepian.”

Soekarno melanjutkan, ia ingin berbaur dengan rakyat. Itulah yang menjadi sifatnya. Tetapi sekarang ia tak dapat lagi berbuat demikian. Sering merasa tercekik, napas mau berhenti, apabila ia tidak bisa pergi keluar dan bersatu dengan rakyat jelata yang melahirkannya.

Ada banyak sekali cerita dan makna dalam buku biografi ini, tidak hanya berisi hal-hal yang mematutkan diri menurut Soekarno, tapi juga pembaca bisa menyelami begitu kompleksnya alam pikiran Soekarno dan aspek-aspek yang mempengaruhinya saat ini. Meskipun begitu, buku ini bisa ditulis dengan gaya yang cukup ramah dan ringan untuk pembacanya yang kadang bisa tergelak karena menemui fakta-fakta lucu yang diceritaan sendiri oleh Putra Fajar ini.

Share:

4 comments

Tinggalkan Balasan