Bersama Irfan Ada Perdamaian

1136
0
Share:

Ia mendapat ilham dari dari tokoh-tokoh hebat, KH, Ahmad Dahlan salah satunya. Katanya, sejak muda Ahmad Dahlan berani menyatakan sikap dengan risiko dimusuhi orang. Siapa pengagum KH. Ahmad Dahlan itu?

Ya, dia adalah Irfan Amalee (40), Indonesia patut berbangga memiliki Irfan, kurikulum perdamaian Peace Generation ala Irfan telah dipakai di luar negeri. Modul Pendidikan perdamaian adalah karya pertama Peace Generation. Modul ini kemudian dilengkapi dengan buku-buku.

Bersama Peace Generation yang dinakhodainya, ia menjadi agen perdamaian yang banyak diperbincangkan di Indonesia, bahkan dunia. Kurikulum perdamaian karya Irfan menjadi acuan banyak lembaga dan orang. Menurut Irfan, indoktrinasi paham radikal dilakukan dalam berbagai cara, karena itu peningkatan pemahaman keagamaan, baik guru dan siswa akan bahaya radikalisme menjadi penting untuk menangkal penyebarannya.

Ayah dua anak ini juga membuat film cerita dan dokumenter. Salah satu karya alumni Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, ini adalah Breaking Down The Walls, sebuah dokumenter yang mengisahkan kunjungan siswa-siswa sekolah internasional di Bandung ke sebuah pesantren. Inisiasi kreatif Peace Generatioan tak hanya itu, Irfan mendirikan PeaceShops, PeaceCorners, dan PeaceStores yang semuanya kelak akan dikelola oleh komunitas lokal yang sudah terbentuk.

Sudah bejibun penghargaan yang diraih Irfan; Young Creative Entrepreneur Award dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2012, Hahn and Karpf Peace Award, Brandeis University, 2011, terpilih sebagai Anak Muda Menginspirasi oleh BBC London, 2010, Multiculturalism Award dari Universitas Atma Jaya, 2010.

Sudah ratusan guru yang telah dilatih dengan pendekatan damai oleh Peace Generation. Jumlah itu mampu meresonansikan pesan damai kepada sekitar 3.000 siswa dan menyasar anak-anak usia sekolah, dari kelas IV SD hingga SMA. Bahkan, untuk murid TK Irfan juga menyusun modulnya.

Peraih Top 500 Most Influential Muslims dari The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Amman, Jordania, selama dua tahun berturut-turut, yakni 2010 dan 2011 ini menilai, tanpa menyentuh komunitas, Peace Generation hanya akan mengawang-awang dan tidak jelas penerima manfaatnya. Selamat berjuang Irfan. (Biored)

Share:

Tinggalkan Balasan