(Jangan) Bercita-cita Seperti Adolf Hitler

1319
0
Share:

Barangkali, sudah tak terhitung korban nyawa manusia akibat kekejaman Hitler. Salah satu kekejaman yang ia lakukan adalah membunuh orang yang memiliki penampakan fisik jelek dan cacat, dan membunuh kurang lebih 400 ribu orang dengan suntikan racun. Impiannya, agar ras superior tidak bercampur dengan ras yang memiliki bentuk fisik tak menarik.

Selain itu, kekejamannya mengumpulkan jutaan orang, dan menyemprotkan racun berupa gas. Racun itu membuat manusia yang menghirupnya mati mendadak tanpa bisa ditolong. Racun yang digunakan bernama Zyklon B yang dikembangkan oleh Gerhard Peters. Hemm… sudah jutaaan manusia tewas gara-gara Hitler. Siapa dia?

Adolf Hitler, lahir di Brunau, wilayah Austria 20 April 1889. Ayahnya Alois Schiklgruber berasal dari kelompok minoritas Austria yang bekerja sebagai pegawai pabean. Ibunya, Klara Polzl meninggal pada usia cukup muda. Dari 6 Saudara, hanya Hitler dan adiknya Paula yang hidup sampai dewasa.

Sebenarnya, Hitler bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis. Membawa mimpi menjadi seorang pelukis, ia pergi ke Wina. Hitler muda yang lurus, tidak terlalu cerdas juga tidak terlalu bodoh, tidak suka main wanita, tidak suka mabuk-mabukan. Berbekal kemampuan mengambar, ia menuju ke Wina, yang pada saat itu terkenal akan akademi keseniannya. Sayangnya, Hitler muda gagal, tak lolos masuk ke dalam akademi itu.

Ceritanya, ketika di Wina setelah gagal itu, ia tertarik pada pandangan dari Lanz Von Liebenfels tentang keagungan dari bangsa Arya. Di sinilah Hitler mendapati pemikiran-pemikiran yang membawanya menjadi salah satu pemimpin dunia yang ditakuti oleh musuh-musuhnya.

Singkat kisah, Hitler memilih karir dalam militer dan terjun ke politik. Sampai ia mendapat julukan sang “Fuehrer”. Hitler mengantarkan Jerman dengan Nazi menuju ke kancah peperangan dunia. Bekerja sama dengan Jepang dan Italia, konsolidasi ke tiga negara ini menjadi hal yang ditakuti. Hingga lawan seperti Inggris, Rusia, USA, dan negara-negara sekutunya mulai membentuk aliansi guna mengatasi konsolidasi ketiga negara ini.

Tahun 1944 Jerman mulai tampak lelah dan kalah. Begitu pula Hitler, tua dan tidak berdaya. Mungkin dibawa sampai mati, katanya, ras Arya yang berpusat di Jerman adalah ras terbaik, dan pantas untuk menguasai dunia. Duh, Hitler.

Andai dia diterima di akademi kesenian Wina itu, tentu saja akhir hidupnya menjadi seorang pelukis. Masa lalu biarlah masa lalu. Ke depan mari bercita-cita seperti cita-cita Hitler, menjadi seorang pelukis.

Share:

Tinggalkan Balasan