Azyumardi Azra, Orang Indonesia dan Asia Tenggara Pertama?

686
0
Share:

Azyumardi Azra, bukanlah anak dari keturunan raja, bukan pula anak dari bangsawan. Ia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Alkisah, perkenalannya dengan dunia membaca berawal dari kata-kata yang terpampang di badan bus dan di belakang truk juga belajar membaca dari judul-judul berita pada robekan kertas koran bekas dan koran/majalah bungkusan.

Sang ayah setia menemaninya saat ia baru belajar mengeja kata  di badan bus yang saban hari melintas di depan rumahnya. Tanpa sadar, bacaan yang diperoleh dari judul-judul berita atau robekan koran itu menjadi gayung dan layar untuk providensi mengarungi luasnya samudera keilmuan.

Sebagai anak yang mulai ketagihan membaca, koran bekas merupakan media paling akrab dengan pengembaraan imajinasi dirinya. Buku cerita, novel, kumpulan puisi, cerpen, dan komik juga memberi warna kreatif yang masih tertancap dalam pikiran dan ingatan sampai saat ini. Itu seperti kisah komik Kho Ping Hoo dan James Bond yang merupakan kisah penting, sarat inspiratif dalam memorinya, yang berperan membentuk kepribadian untuk melanjutkan misi kehidupannya.

Siapa sangka, dalam perjalanan kehidupannya, berkat kerja kerasnya, Azra menjadi orang Indonesia pertama yang menerima gelar kebangsawanan “Sir” dari Kerajaan Inggris dan  orang Asia Tenggara pertama yang di angkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia (2004-2009).

Gelar “Sir” adalah gelar prestisius yang identik dengan gelar kebangsawanan di Inggris. Tidak sembarang orang di luar negara persemakmuran Inggris dapat di beri gelar “Sir” oleh kerajaan Inggris. Prof. Dr. Azyumardi Azra menerima penghargaan dari Ratu Elizabeth II sebagai “The Commander of The order of The British Empire” atau CBE award alias panglima kerajaan Inggris.

Penghargaan diberikan karena Azyumardi dinilai berjasa dalam memberikan kontribusi penting dalam membangun hubungan baik antar agama di tingkat internasional, khususnya antara Indonesia dan Inggris. Dengan gelar tersebut, maka ia berhak menyandang gelar “Sir” pertama di Indonesia.

Kerajaan Inggris seringkali memberikan penghargaan kebangsawanan pada seseorang. Tetapi tidak sembarangan orang bisa mendapatkan gelar kebangsawanan, apalagi seseorang yang bukan warga negara dari negara persemakmuran Inggris.

Penerima CBE Award lain untuk 2010 adalah Dan Sten Olsson (Inggris) dalam bidang ekonomi, Giuseppe Orsi (Inggris) dalam bidang industri pertahanan, dan Prof Dr Jurgen Karl Erich Schlaeger (Jerman) dalam bidang hubungan Anglo-Jerman. Bagi Azyumardi Azra, gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Kerajaan Inggris merupakan penghargaan luar biasa.

Umumnya, orang sangat bangga dengan gelar-gelar dari Ratu Inggris. Mereka bangga menjadi bagian dari keluarga kerajaan dan sahabat Pangeran Charles. Pesepak bola David Beckham pernah menerima Officer of the Order of British Empire (OBE), di bawah CBE. Menurut Azra, urutan gelar dari Kerajaan Inggris itu paling tinggi ”pahlawan” atau Knighthood of the Order of British (KBE), CBE, OBE, dan terendah ”anggota” atau Member of the Order of British (MBE).

Sebelumnya, Azra pernah menjadi Wartawan Panji Masyarakat, menjadi Dosen Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah. Ia sekarang Guru Besar UIN Jakarta, dan anggota Dewan Penyantun (Board of Trustees) International Islamic University Islamabad Pakistan. Menjadi salah satu anggota Teman Serikat Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan.

Azyumardi menikah dengan Ipah Farihah, dikaruniai 4 anak yakni Raushanfikri Usada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra. Azyumardi Azra dikenal sebagai Profesor yang ahli sejarah, sosial dan intelektual Islam.  Ketika menjadi Rektor pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ia melakukan terobosan besar terhadap institusi pendidikan tersebut. Pada Mei 2002 IAIN tersebut berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Belum lama ini, Jepang anugerahi bintang Jasa untuk Azyumardi Azra yang dikenal sebagai salah satu tokoh Islam moderat dari Indonesia. Ia diketahui merupakan salah satu sosok yang aktif berkontribusi terhadap pengembangan hubungan antara Jepang dan Indonesia.

Sepanjang perjalanan karirnya di dunia pendidikan, Azyumardi Azra telah memberikan kontribusi dalam meningkatkan hubungan kedua negara melalui bidang penelitian regional Indonesia khususnya penelitian tentang Islam serta melalui pertukaran akademik.

Atas jasa-jasa tersebut, Pemerintah Jepang memberikan penghargaan berupa penganugerahan “The Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star.” Penyerahan Bintang Jasa oleh Sri Baginda Kaisar Jepang, Akihito, telah dilakukan di Istana Kekaisaran Jepang pada 7 November.

Pria kelahiran Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat pada 4 Maret 1955 ini, telah mendorong pengertian di antara masyarakat Islam di Indonesia dan masyarakat Jepang melalui proyek undangan bagi para guru pesantren atau kiai-kiai muda ke Jepang. Pastinya masih banyak penghargaan dan prestasi intelektual yang sudah diraih oleh Azra. (redaksi/berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan