Aqmarina Andira – Dara muda pemrakarsa Komunitas Rumah Cerita

557
0
Share:

Ina, Indonesia, dan Membaca

Dengan latar liar alam yang diambil dari pelbagai pelosok tempat di bumi Indonesia, tampak dari belakang dengan tangan kiri berkacak di pinggang, tangan kanan menjulang ke atas sembari menunjukkan  jari telunjuk dan tengahnya membentuk sebuah simbol V. Begitulah kira-kira sebagian besar pose foto seorang dara muda kelahiran Surabaya ini di media sosialnya. Pun begitu, Aqmarina Andira atau Ina begitu bila teman memanggilnya, tidak pernah mendaulatkan diri sebagai seorang pencinta alam. Tapi lekat cintanya terhadap bumi Indonesia ini sudah tersirat bagi siapapun yang mengenalnya. Sejumlah gunung berapi telah ditaklukannya, baik yang ada di wilayah Jawa, Bali, Lombok, maupun Sulawesi.

Lahir pada tanggal 25 April 1989 di Surabaya, Hal yang membuat Ina kecil bahagia adalah berkhayal dan membuat cerita di dalam kepalanya. Dia suka bermain boneka dan membuat sebuah kota dengan semua boneka sebagai penduduknya. Ketika mulai bisa membaca, Ina sangat suka membaca dan mengoleksi buku. Tingkat bahagianya saat itu berubah dari pemberian mainan  menjadi pergi ke toko buku.

“Ketika SD saya mulai menulis buku harian dan cerita pendek. Beranjak dewasa, saya melahap banyak buku, majalah, film, serial dan selalu menumpahkannya dalam blog. Saya selalu hidup dikelilingi cerita dan jatuh cinta dengan cerita, apapun bentuk dan medianya.”

Entah sudah berapa buku-buku yang dilahapnya. Yang aku tahu persis, tak kurang satu buku dilahapnya setiap bulan dengan tema yang berbeda-beda, meski bila ditarik benang merahnya, kebanyakan adalah buku sastra. Pengagum Pramoedya Ananta Toer inipun bercita-cita kelak, di masanya, dia akan mampu mencetak pengarang-pengarang terbaik Indonesia di era yang baru. Sebuah era literasi yang mampu memberi warna analog pada masa serba digital ini.

Mencintai bumi Indonesia, selalu rindu perjalanan syahdu dengan sunyi dan liar alam pegunungan, serta mengakrabi buku seakan telah memperkaya dirinya, sehingga tak pelak gairahnya untuk berbagi kebisaannya bagi negerinya. Mengutip salah satu kalimat Pram, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”, Ina harus bercerita !

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
Kutipan itu benar-benar membuat saya tergerak. Sebagai orang yang memiliki kesempatan untuk belajar dan tahu, kita punya privilege yang tidak dimiliki saudara-saudara kita. Di pundak kita, ada hak saudara-saudara kita yang tidak memiliki kesempatan untuk belajar dan menjadi terpelajar. Padahal kalau mereka diberi kesempatan yang sama, mereka pasti bisa memiliki kehidupan yang mereka inginkan. Ini adalah suatu bentuk ketidakadilan yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang-orang dengan privilege untuk mengubahnya. – Ina

 

Berani karena literasi

Sempat memperoleh pendidikan di jurusan Teknik Industri, salah salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, hanya sekedar untuk mengikuti arus dimana kemapanan ekonomi terasa lebih  terjamin. Tapi semua pandangan itu tergerus ketika Ina dalam salah satu perjalanannya ke lombok bertemu dengan seseorang di sana.

“Saat memutuskan untuk berhenti terseret arus dan mencari tahu apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup. Ketika ditawari untuk sekolah di Australia, saya memutuskan untuk resign dan mempersiapkan keberangkatan saya. Di situ saya punya waktu luang untuk berpikir dan mencoba berbagai hal, sampai akhirnya saya sampai kepada keputusan untuk mencoba menjalani hidup dengan berfokus pada hal yang paling membuat saya hidup, yakni “cerita”. Di waktu persiapan itulah kemudian saya ditunjukkan berbagai hal. Saya pertama kali merasakan nikmatnya backpacking, nikmatnya naik gunung, bertemu orang di Lombok yang setelah lulus sekolah memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa (ini memecahkan bubble saya, yang dulu tidak tahu kalau saya punya pilihan seperti itu), saya mencoba bekerja sebagai penulis (menjadikan menulis sebagai satu-satunya source of income), dan yang terutama adalah saya berhasil meyakinkan orang tua saya untuk mendukung keputusan jalan hidup saya (saya cukup terkejut ternyata orang tua, jika kita yakin dan percaya diri dengan keputusan kita, akan mendukung semua keputusan kita. Tadinya saya berasumsi bahwa orang tua saya akan menentang jalan hidup yang saya pilih jika melawan arus keyakinan masyarakat. Ternyata saya mendapatkan full support).”

Dari akumulasi pengalaman dan pemikiran itulah Ina memutuskan untuk selalu mengikuti passion, idealisme, dan kata hati. “Asal niat kita baik, yang lain akan otomatis mengikuti. Yah, pasti ada penyesuaian dan sedikit kompromi. Tapi secara garis besar, semesta akan mendukung. Rezeki sudah ada yang mengatur. Tidak hanya untuk penghasilan, tapi juga untuk pertemuan, opportunity, dan pengalaman. Tidak ada yang sia-sia.”, ujarnya.

Komunitas Rumah Cerita

Selepas mengeyam pendidikan teknik industri ITB di kota Bandung, kota yang mempunyai jiwa, begitu ujarnya, Ina melanjutkan pencarian ilmunya sampai di Australia. Setelah memantapkan diri dan keluarga, Ina mengambil jurusan Master of Publishing di The University of Sidney Dari negeri inilah, tepatnya di kota Sydney pada sebuah acara bertajuk Sydney Story Factor, Ina mendapatkan gagasan tentang pengembangan literasi untuk warga muda Indonesia, sebuah gagasan jangka panjang yang akan menggubah dimensi Indonesia di masa setelahnya.

Rumah Cerita pada awalnya terinspirasi oleh sebuah creative writing centre di Sydney, Australia, bernama Sydney Story Factory. Ina sangat kagum melihat bagaimana anak-anak dapat menuangkan ide kreatif mereka dengan penuh percaya diri ke dalam karya. Ketika pulang ke Indonesia, Ina bersama teman-temannya kemudian membentuk Rumah Cerita. Kaca yang memiliki passion di organization development dan Ira yang memiliki passion di dunia pendidikan kemudian menjadi co-founder Rumah Cerita. Rumah Cerita kemudian juga dibantu oleh relawan-relawan untuk menjalankan kegiatannya.”

Pandangannya tentang kehidupan literasi di Australia pun mengilhami Ina untuk bisa menularkan literasi sekembalinya dia ke Indonesia kelak. Sebagaimana penggalan ceritanya tentang keadaan di sana.

“Dibandingkan Indonesia, apresiasi orang2 Australia terhadap karya literatur sangat tinggi. Di kereta masih banyak orang yang membaca buku. Orang-orang mengantri di tengah hujan untuk bisa mengikuti sesi diskusi dengan penulis di Sydney Writers Festival. Saya pernah mengantri 7 jam di musim dingin untuk melihat pameran Game of Thrones. Dan yang terutama tentu saja pengalaman saya di Sydney Story Factory. Saya sangat terkagum-kagum dengan kemampuan anak2 di Sydney dalam menyampaikan pendapat dan imajinasi mereka. Di ajak ke taman, mereka bisa membuat cerita tentang anjing hitam yang kesepian dan tentang petualangan ibu kepik. Mereka juga bisa mewawancarai aktivis politik, gender, lingkungan, dengan pertanyaan2 yang kritis tapi tetap polos khas anak-anak kemudian membuat karya kreatif penuh empati berdasarkan hasil wawancara mereka tanpa judgemental benar salah. Buat saya itu luar biasa.”

Bersama dua rekannya, Kaca dan Ira,  gagasan ini menjadi kongkret setelah Ina kembali ke Indonesia. Dimulai dari sebuah acara mengumpulkan anak-anak dan remaja , dengan lokasi yang berpindah-pindah, Ina menggerakan suatu komunitas yang dia beri nama, Rumah Cerita. Sebuah komunitas yang tidak hanya mengajarkan anak-anak dan remaja berkarya kreatif tapi juga menanamkan nilai-nilai kepercayaan diri, kasih sayang, jiwa sosial, dan tak luput berpikir kritis.

Sejak sekitar bulan Juli tahun 2014, terhitung lebih dari 4 tahun, Ina, yang setiap hari bekerja sebagai karyawan di sebuah Perusahaan gabungan Telkom Indonesia dan Telstra Australia ini menggelar acara demi acara di komunitas Rumah Cerita. Setelah merampungkan tanggung jawabnya pada hari senin sampai jumat , pada hari sabtu atau minggu, Ina disibukkan dengan mengumpulkan anak-anak di pelbagai pelosok Jakarta, membuatkan suatu tema tersendiri yang berbeda dari acara ke acara, mengundang tamu pembicara yang mampu berbagi inspirasi bagi anak-anak, dan tentu tak lupa membangkitkan daya bercerita dari setiap anak yang hadir. Sudah lebih dari 2800 anak-anak dan remaja yang bercerita bersama, berkarya bersama. Entah lewat tulisan, lewat gambar, dan kadang musikpun menjadi media. Hal itulah yang menjadi inti dari Rumah Cerita, karena setiap anak mempunyai sebuah cerita berbeda dan berbeda pula cara dan media mereka berkomunikasi dengan dunia.

Tidak hanya harus mengayomi berbagai warna pribadi anak-anak, kendala dalam mengelola Rumah Cerita ada pada sumber daya. Tidak melulu soal dana, karena rekan pendiri Ina, Kaca Amirah saat itu sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri, Ina saat ini mengatasi persoalan demi persoalan yang dihadapi Rumah Cerita hanya dibantu oleh teman dan sukarelawan. Tentu, para sukarelawan hampir selalu ada dalam setiap acara yang digelar, tapi sifatnya kesukaan dan kerelaan ini tidak bisa diharapkan kepastiannya. Satu tahun yang lalu ketika kami berbincang di suatu malam, Ina pernah bercerita, ada ribuan sukarelawan yang mendaftarkan diri melalui email tapi ketika aku ikut dalam salah satu acaranya, hanya ada 3 sukarelawan yang berada di sana.

Dengan segala keterbatasannya, Ina yang pada akhir tahun lalu, di bulan desember 2017, mampu mengumpulkan lebih dari 500 anak-anak untuk hadir dalam gelaran acara Rumah Cerita yang bertajuk, Festival Cerita Jakarta. Ya, dan kali ini, Ina cukup beruntung karena mendapatkan sokongan dana dari Pemerintah Australia dan dukungan penuh dari teman-teman sukarelawan. Meskipun acara yang berlangsung 3 hari ini sempat terganggu demonstrasi yang berarak di sekitar lokasi sehingga membuat orang tua peserta mengurungkan niatnya, Ina tetap puas dengan pencapaiannya menutup tahun itu.

Ceritaku di Rumah Cerita setahun yang lalu

Pagi itu sekitar pukul 9, hari sabtu kuingat, dimana nafas Ibukota sedikit terhela. Kemacetan yang biasa menjadi urat nadinya terlihat mengurai. Aku meluncur dari rumahku bersama anak pertamaku, hari itu kami berjanji kepada Ina untuk membantu salah acara di Rumah Cerita yang akan diadakan di daerah Tanjung Barat, di sebuah Rumah Muara milik Okky Madasari. Ina kadang meminjam tempat ini bila ada acara rumah cerita.

Kami berkumpul di SMP 239 Jakarta, aku mendapatkan tugas memberi tumpangan kepada anak-anak yang menunggu di situ. Aku juga membawa sebuah gitar akustik. Maklum, tema acara hari itu adalah bercerita lewat nada. Selain aku dan anak pertamaku, teman kantorku Eva dan suaminya juga ikut menjadi sukarelawan, Eva memang sudah terbiasa bernyanyi, dan suaminya yang biasa mengiringi dengan instrumen musik yang ada. Kami pun berangkat bersama setelah anak-anak yang berkenan ikut sudah lengkap dalam jumlah.

Awan mendung terlihat menebal pagi itu, toh tak mengurungkan semangat riang yang ada dalam ruangan yang nampak terlihat sempit setelah sekitar 30an anak dan remaja saat itu bersila dalam lantai, hening dan canda silih berganti selama mengikuti acara. Eva menyanyikan berbagai lagu baik dari indonesia seperti : Sheila on 7, /rif maupun meladeni permintaan lagu dari anak-anak sesuai selera mereka. Acara kali itu berusaha memancing imajinasi, bagaimana menceritakan kembali sebuah lirik dan tangga nada menjadi sebuah karya kreatif dalam bentuk gambar. Selepas  ramai satu lagu dinyanyikan bersama, tawa, senyum, riang berganti hening mereka sibuk bercengkrama dengan kertas kosong dan pena warna mereka. Begitu seterusnya, sampai kita ujung waktu acara berakhir dengan memberikan penghargaan kepada anak-anak. Tidak ada menang, kalah, terbaik, terbagus. Semua mendapatkan penghargaan. Kamipun menyudahi acara itu dengan berfoto bersama, dan berharap kelak foto ini akan mempunyai sebuah cerita.

Berdamai dengan Jakarta dan Dunia

Dunia di mana mata uang utamanya adalah kindness, respect, courage, dan consent. Semua orang berlomba-lomba berbuat baik untuk sesama, saling menghargai kepentingan orang lain, berani melakukan hal-hal yang tidak nyaman untuk kebaikan dan development bersama, serta segala sesuatu dilakukan atas dasar persetujuan dari orang-orang yang terkait. Begitulah pandangan Ina terhadap sebuah dunia yang ideal.

Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Depok, Bandung, Sydney, Jakarta. Kota-kota tersebut pernah menjadi rumah bagi Ina, Jakarta adalah persinggahan terakhirnya, meskipun dahulu pernah dia berkata, Jakarta adalah kota yang tidak ideal untuk menjadi rumah. Saat dulu aku mengenalnya, Bila sore tiba selepas bekerja, Ina yang sangat mengagumi senja ini berjalan menyusuri jalanan kecil di belakangan kompleks perkantoran menuju kosnya di daerah Setiabudi. Tentu, tak pernah lupa, dia menyematkan musik di telinganya. Lagu-lagu favoritnya, yang tidak terlalu populis dipadu dengan  warna nila senja mungkin adalah caranya berdamai dengan Jakarta dan dunia. Pernah dia berujar, Jakarta butuh jiwa. Tapi aku yakin, Jakarta, Indonesia, dan dunia lebih butuh Ina-Ina yang lainnya. Ina-Ina yang mampu membuat anak-anak Indonesia mampu  bercerita dan berkarya kreatif dengan penuh percaya diri.

Share:

Tinggalkan Balasan