Antonio Gramsci dalam Keberbagaian (1)

881
1
Share:

Dalam khazanah ilmu sosial, lahirnya sebuah konsep, ide atau gagasan seorang tokoh perlu ditelusuri dari faktor sejarah dan lingkungan sosial yang bersifat pribadi dari tokoh tersebut. Sebagai upaya guna mendapatkan sebuah pemahaman yang menyeluruh dari konsep atau teori yang dihasilkan. Seperti dalam konsep hegemoni Gramsci, pertanyaan pada ranah ontologis tentunya akan memperoleh gambaran yang nyata tentang pemikiran-pemikiran yang dicetuskan oleh Gramsci, sampai kepada kenyataan historis dan perkembangan pemikirannya.

Lain halnya ketika pertanyaan kemudian diperluas pada wilayah epistemologis yang memungkinkan kita memperoleh tak sekedar gambaran atau pengetahuan umum, yang lebih bersifat primer terhadap sebuah pemikiran baik berbentuk konsep ataupun teori. Artinya, melalui pendekatan epistemologis tersebut pemikiran dari seorang Gramsci akan lebih eksploratif dan komprehensif.

Nama Antonio Gramsci dikenal sebagai salah seorang pemikir neo-Marxis, karena sifat perjuangan dan garis pemikiran Marxian yang mengental dalam corak tulisan-tulisannya terkait usahanya memberdayakan penentangan terhadap rezim berkuasa waktu itu, dan juga dalam mengkonstruksi teori sosial-politiknya. Pengerahan seluruh sisa hidupnya, seperti keterlibatannya dalam gerakan buruh hingga pada tanggal 8 Nopember 1926 di mana Gramsci tertangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah fasis Mussolini, dalam mengulas dan menafsirkan secara kritis pemikiran pendahulunya maupun suasana sosial-politik di zamannya, mensyaratkan kapabilitas, keberanian dan kepekaan dirinya yang harus berhadapan dengan dinding-dinding kekuasaan (Santoso, 2003: 72)

Dalam hal ini, permasalahan integritas diri, akar pengetahuan dan konteks zaman guna mengkritisi kekuatan dan kelemahan konsep dan pemikiran terdahulu, khususnya dalam tradisi Marxis, yang memiliki signifikansi filosofis dalam rangka mengkaji lebih jauh potret pemikirannya sehingga menjadi sebuah jalan masuk menuju pemahaman epistemologi dari pemikiran Gramsci.

Pertimbangan urgensitas eksplorasi komprehensif dan radikal dari pemikiran Gramsci setidaknya didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, hubungan dialektis antara epistemologi dan kebudayaan (termasuk politik) yang secara konkret individual bisa ditafsirkan sebagai hubungan eksistensial, mengangkat pemikiran dan tindakan seorang subjek atau tokoh pada dataran epistemologis yang menelanjangi jangkauan oleh karena sumber, efektivitas, akibat dan pola pengetahuan dan pemikirannya.

Kedua, semakin disadarinya nilai penting epistemologi sebagai sarana kritik dan daya cipta peradaban dan realitas sosial. Ketiga, rekonstruksi dan kontekstualisasi epistemologi sebagai hal penting dalam refleksi wacana kritis suatu pemikiran atau pengembangan prinsip-prinsip yang diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Keempat, asal-usul filsafat Gramsci adalah penafsiran realitas dengan tradisi dan pandangan Marxis, di mana epistemologi adalah pertanyaan kritis, bagaimana dunia dapat dipahami, dan dijawab hanya melalui kerja. Kelima, eksplorasi epistemologi seorang tokoh –apalagi dalam hal ini pemikiran politik—niscaya melibatkan pembacaan, penafsiran dan analisis ulang sejarah di zaman hidup tokoh tersebut (Ibid, 73).

Riwayat Gramsci

Antonio Gramsci lahir pada tanggal 22 Januari 1891, di kota Ales, pulau Sardinia. Enam tahun kemudian, ayahnya dicopot dari posisinya sebagai pegawai dan dijebloskan di penjara karena dituduh korupsi, sehingga Gramsci bersama ibunya harus perpindah ke kota lain dan hidup mereka menjadi agak sulit. Selama masih anak, dia jatuh dan menjadi cacat, dan seumur hidup dia kurang sehat.

Sewaktu mahasiswa di Cagliari dia menemui golongan buruh dan kelompok sosialis untuk pertama kalinya. Tahun 1911 dia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Turino. Kebetulan sekali Palmiro Togliatti, yang kelak menjadi Sekertaris Jendral Partai Komunis Italia (PCI), mendapatkan beasiswa yang sama. Di Universitas tersebut Gramsci juga berkenalan dengan Angelo Tasca dan sejumlah mahasiswa lainnya yang kemudian berperan besar dalam gerakan sosialis dan komunis di Italia.

Pada tahun 1915 Gramsci mulai bergabung dalam Partai Sosialis Italia (PSI) sekaligus menjadi wartawan. Komentar-komentarnya di koran “Avanti” dibaca oleh masyarakat luas dan sangat berpengaruh. Dia sering tampil berbicara di lingkar-lingkar studi para buruh dengan topik yang beraneka-ragam seperti sastra Perancis, sejarah revolusioner dan karya Karl Marx. Dalam Perang Dunia I, Gramsci tidak seteguh Lenin atau Trotsky dalam melawan perang tersebut, namun pada hakekatnya orientasinya adalah untuk mebelokkan sentimen rakyat ke arah revolusioner.

Aktivis dan intelektual muda ini sangat terkesan oleh Revolusi Rusia tahun 1917. Seuasai Perang Dunia Gramsci ikut mendirikan koran mingguan “Ordine Nuovo” yang memainkan peranan luar biasa dalam perjuangan kelas buruh di kota Torino. Saat itu kaum buruh sedang berjuang secara sangat militan serta membangun dewan-dewan demokratis di pabrik-pabrik. Gramsci beranggapan bahwa dewan-dewan itu memiliki potensi untuk menjada lembaga revolusioner semacam “soviet-soviet” di Rusia (arts.anu.edu.au//suarsos/suarsos/Gramsci).

Pada bulan Mei 1919 mendirikan L’Ordine Nuovo yang sekaligus menjadi organ Dewan Pabrik, di mana ide-ide politik Gramsci diluncurkan dan berperan penting dalam perispan revolusi. Januari 1921 Partai Sosialis pecah, dan kemudian berdiri Partai Komunis Italia. Di seputar konsep Fasisme yang bagi Gramsci bukan cuma sangat berbahaya, namun juga cendrung untuk berkuasa. Fasisme adalah gerakan politik yang didirikan mantan pemimpin Sosialis, Benito Mussolini.

Pada tanggal 8 Nopember 1926 Gramsci tertangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah fasis Mussolini, meskipun diisolasi dari kegiatan luar, namun temannya di Inggris mengirim buku-buku kepadanya yang menjadi kesempatan untuk Gramsci menulis karya Marxis tentang masalah-masalah politik, sejarah dan filsafat yang luar biasa berbobot, dan yang terbit setelah Perang Dunia II dengan judul “Buku-buku Catatan dari Penjara” (Prison Notebooks). Suatu ekspresi intelektual yang telah menyumbang besar bagi debat Marxisme dan meletakkan kerangka dasar dan perspektif baru dalam memahami masalah dan menciptakan revolusi sosialis di Italia dan dunia modern lain.

Dari latar belakang kehidupan Gramsci di atas dapat dilacak juga akar-akar pemikirannya. Pendekatan teoritik dan kepiawaian membaca realitas sosial politik menjadikan karya besarnya dikenal melalui hubungan penuh antara sisi akademik dan tragedi kehidupan dan politiknya.

Konsep Hegemoni

Istilah hegemoni berasal dari istilah Yunani, hegeisthai (to lead). Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti luas, tidak hanya sebatas penguasa dalam pengertian negara atau pemerintah. Hegemoni bisa juga didefinisikan sebagai dominasi satu kelompok terhadap kelompok lain dengan atau tanpa kekerasan. Sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima dengan sukarela. Nilai-nilai dan ideologi hegemoni ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh pihak dominan dengan sedemikian rupa sehingga yang didominasi tetap diam dan taat terhadap kepemimpinan kelompok penguasa.

Hegemoni bisa dilihat sebagai strategi untuk mempertahankan kekuasaan, dengan karakteristik tersebut, maka konsep hegemoni bukanlah strategi ekslusif milik penguasa. Artinya, kelompok manapun bisa menerapkan konsep hegemoni dan menjadi penguasa. Sebagai contoh adalah kekuasaan dolar Amerika terhadap ekonomi global. Kebanyakan transaksi internasional dilakukan dengan dolar Amerika.

Pembentukan Hegemoni

Gramsci (1891-1937) merupakan tokoh yang terkenal dengan analisa hegemoninya. Analisa Gramsci merupakan usaha perbaikan terhadap konsep determinisme ekonomi dan dialektika sejarah Karl Marx khusunya dalam buku Das Capital. Dalam dialektika sejarah Marx, sistem kapitalisme akan menghasilkan kelas buruh dalam jumlah yang besar dan terjadi resesi ekonomi. Pada akhirnya, akan terjadi revolusi kaum buruh (proletar) yang akan melahirkan sistem sosialisme. Dengan kata lain, kapitalisme akan melahirkan sosialisme. Namun, hal ini tidak terjadi.

Gramsci mengeluarkan argumen bahwa kegagalan tersebut disebabkan oleh ideologi, nilai, kesadaran diri, dan organisasi kaum buruh tenggelam oleh hegemoni kaum penguasa (borjuis). Hegemoni ini terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi sehingga menimbulkan kesadaran baru bagi kaum buruh. Daripada melakukan revolusi, kaum buruh malah berpikir untuk meningkatkan statusnya ke kelas menengah, mampu mengikuti budaya populer, dan meniru perilaku atau gaya hidup kelas borjuis. Ini semua adalah ilusi yang diciptakan kaum penguasa agar kaum yang didominasi kehilangan ideologi serta jatidiri sebagai manusia merdeka.

Bagi Gramsci, hegemoni berarti juga suatu situasi di mana “blok historis” faksi-faksi yang berkuasa menggunakan otoritas sosial dan kepemimpianan atas kelas-kelas subordinatnya dengan cara mengombinasikan kekuatan dengan persetujuan sadar (consent). Sebagaimana dalam kutipan berikut,

Yang menjadi ciri cara kerja hegemoni di medan klasik rezim parlementer adalah kombinasi antara paksaan (force) dan persetujuan sadar, yang masing-masing saling mengimbangi secara resiprokal di mana paksaan tidak mendominasi persetujuan sadar secara berlebihan. Yang diupayakan justru adalah agar paksaan bisa tampak seolah didasarkan pada persetujuan mayoritas orang sebagaimana diekspresikan oleh apa yang disebut organ-organ opini publik –surat kabar dan perkumpulan-perkumpulan (Gramsci, 1971: 80).

Dalam analisa Grasmcian, ideologi dipahami sebagai gagasan, makna, dan praktik-praktik yang, meski tampak seperti kebenaran-kebenaran universal, sebenarnya merupakan peta-peta makna yang menyokong kekuasaan kelompok-kelompok sosial tertentu. Yang paling penting, ideologi bukanlah sesuatu yang terpisah dari aktivitas-aktivitas praktis kehidupan, melainkan fenomena material yang memiliki akar dalam kondisi sehari-hari. Ideologi menyediakan tata tingkah laku praktis dan perilaku-perilaku moral yang bisa disejajarkan “dengan agama dalam pengertian sekuler, yakni suatu kesatuan yang diyakini antara konsepsi tertentu tentang dunia dengan norma perilaku yang sesuai” (Gramsci, 1971: 349).

Begitu pula halnya dengan idelogi kapitalisme yang memiliki banyak ruang kekuasaan ditiap aspek kehidupan, analisa Marxisme awal meyakini koherensi konflik internal kapitalisme akan menjadi peluang bagi terwujudnya revolusi. Akan tetapi, sebagai pengikut neo-Marxis, Gramsci justru mengkhawatirkan masa depan Marxisme itu sendiri dengan sebuah sikap reduksionis dari paradigma awal tersebut. Gramsci merekonstruksi pemikiran Marx dan penerus-penerusnya terutama dalam dua permasalahan, yaitu ekonomisme dan paham kenegaraan. Banyak yang menyebutkan bahwa kritik Gramsci pada gaya Marxisme klasik ini adalah awal tumbuhnya sebuah aliran baru yang bernama Kiri Baru (New Left).

Telah sejak lama di kalangan Marxis terjadi perdebatan tentang interpretasi seputar konsep basic (ekonomi) dan superstructure (ideologi, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya. Bagi Marxis ortodoks, perjuangan kelas dimaknai hanya dalam ruang lingkup ekonomi (kapitalis) yang secara tidak langsung mengabaikan peran wilayah politik. Sehingga bentuk ekonomisme ini dipahami dalam penggunaan yang luas dari pengertian struktur dasar dan struktur atas. Perkembangan yang berarti signifikan dipahami dari perkembangan yang berlangsung dalam struktur dasar ekonomi dan perjuangan politik dipandang sebagai bentuk derivasi dari struktur atas yang dibangun diatas struktur dasar.

Dengan begitu Gramsci memperkenalkan tradisi baru untuk pemahaman tentang masyarakat sipil yang menurutnya berada pada level superstruktur. Superstruktur dibaginya menjadi dua bagian: masyarakat sipil, didefinisikan sebagai kumpulan organisme yang lazim disebut “privat”, dan “masyarakat politik” atau “negara”. Kedua tingkatan ini berkesesuaian dengan fungsi hegemoni, yang dilaksanakan kelompok dominan di seluruh masyarakat, dan juga “dominasi langsung” yang diekspresikan melalui negara dan pemerintahan yuridis (Santoso, 2003: 77).

Pandangan Gramsci tersebut berangkat dari asumsi bahwa kapitalisme masih tetap bertahan oleh karena saling keterkaitan antara basis dan superstuktur dalam menentukan perubahan sosial, meskipun prakondisi sosial dan ekonomi untuk transisi kepada sosialisme sudah ada. Rekonstruksi Marxian ini bisa dipahami dari konsep Gramsci. Kapitalisme masih bertahan karena buruh menerima keadaan umum dominasi budaya borjuasi yang membuat penggunaan kekuatan politik tidak diperlukan lagi dalam mempertahankan kekuasaan. Dengan kata lain, salah satu penyebab kapitalisme bertahan adalah karena genggaman ideologisnya terhadap massa proletar (hegemoni) (Ibid).

Gramsci memberikan dua cara untuk menciptakan hegemoni yaitu melalui perang posisi (war of position) dan perang pergerakan (war of movement). Perang posisi dilakukan dengan cara memperoleh dukungan melalui propaganda media massa, membangun aliansi strategis dengan barisan sakit hati, pendidikan pembebasan melalui sekolah-sekolah yang meningkatkan kesadaran diri dan sosial. Adapun karakteristik dari perang posisi ini adalah bentuk perjuangan yang panjang, mengutamakan perjuangan kedalam sistem dan berorientasi kepada dominasi budaya dan ideologi.

Perang pergerakan dilakukan dengan serangan langsung (frontal), tentunya dengan dukungan massa. Perang pergerakan bisa dilakukan setelah perang posisi dilakukan, bisa juga tidak. (bersambung)

 

Hamzah Fansuri 

Dosen Universitas Krisnadwipayana dan Aktivis JIMM

 

Baca juga=

Amartya Sen, Kelaparan, Kebebasan

 Oh Damainya Karl Marx

 

 

 

Share:

1 comment

Tinggalkan Balasan