Anda Tahu Siapa yang Menginspirasi Perjuangan Gandhi?

1157
0
Share:

Pada tanggal 25 Juli 1846, ia dimasukkan penjara karena menolak tunggakan pajak selama enam tahun. Ia menolak membayar pajak karena tidak setuju dengan kebijakan Negara mengenai perang antara Amerika Serikat dan Meksiko, serta masalah perbudakan.

Setelah dibebaskan dari penjara, bibinya menebus dan membayar tunggakan pajaknya, pengalaman ini sangat mempegaruhi pemikiran-pemikiran sosok ini. Pada bulan Januari dan Februari 1848, ia menyampaikan pidato mengenai “Hak dan Kewajiban Setiap Individu dalam Kaitannya dengan Pemerintah” dan menjelaskan protes pajaknya di Concor Lyceum.

Ia kemudian merevisi pidatonya ini dan menulisnya kembali ke dalam bentuk esai dengan judul Resistance to Civil Government yang lebih dikenal dengan nama Civil Disobedience. Dalam esai ini, beberapa idenya membuat ia dianggap sebagai sosok inspirasi untuk para anarkis.

Ia menulis, “I ask for, not at once no government, but at once a better government. That government is best which governs not at all;’ and when men are prepared for it, that will be the kind of government which they will have.” Esainya ini memberi pengaruh besar terhadap gerakan Satyagraha milik Mahatma Gandhi.

Gandhi pertama kali membaca esai tersebut pada tahun 1906 ketika di bekerja sebagai aktivis HAM di Johannesburg, Afrika Selatan. Gandhi mengatakan bahwa, “[Thoreau’s] ideas influenced me greatly. I adopted some of them and recommended the study of Thoreau to all of my friends who were helping me in the cause of Indian Independence. Why I actually took the name of my movement from Thoreau’s essay ‘On the Duty of Civil Disobedience,’ written about 80 years ago.”

Ya, sosok yang mempengaruhi Gandhi ini adalah David Henry Thoreau. Begini riwayat Thoreau, ayahnya tukang pembuat pensil. Ibunya mengelola rumahnya menjadi semacam penginapan kecil. Dua orang saudari Thoreau bernama Helen dan John Jr. Kedua saudaranya ini adalah guru. Mereka menyumbang sebagian uang dari gaji saat Thoreau kuliah di Universitas Harvard.

Harvard adalah almamater kakeknya. Thoreau mempelajari berbagai ilmu, termasuk matematika, bahasa Inggris, sejarah, filsafat dan 4 bahasa modern lainnya. Ia rajin mengunjungi perpustakaan sebelum akhirnya lulus pada tahun 1837. Singkat kisah, setelah lulus dari Harvard antara tahun 1833 sampai 1837, Thoreau berkenalan dengan Ralph Waldo Emerson yang kemudian menjadi pintu gerbangnya ke dunia transedentalisme (filosofi hidup yang menekankan pentingnya mistisisme dan individualisme).

Dalam pandangan transendentalis, alam merupakan indikator badaniah dari jiwa yang tidak kasat mata, dan tanda dari adanya “radical correspondence of visible things and human thoughts,” tulis Emerson dalam Nature (1836). Emerson yang mendorongnya untuk belajar menulis secara periodikal dalam bentuk esai, cerita pendek, maupun jurnal harian.

Begitulah Henry David Thoreau. Seorang penulis dan filsuf asal Amerika Serikat. Ia adalah anggota dari kelompok para penulis bernama New England Transcendentalist dan pengarang buku Walden; or, Life in the Woods, sebuah buku terkenal di Amerika Serikat yang diterbitkan pada tahun 1854. Karya-karyanya kaya dan sarat akan kontradiksi yang rumit. Pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembaca adalah pertanyaan perihal peninjauan ulang hidup manusia.

Buku itu ditulis berdasarkan kisah hidupnya selama 2 tahun di Walden Pond di tanah Ralph Waldo Emerson. Dia membangun sebuah rumah kecil untuk dia tinggali pada tahun 1845-1847. Setelah pengalaman tersebut, dia menghabiskan waktu selama 9 tahun untuk menulis buku tersebut.

Ide dari karya tersebut adalah sebuah metafora untuk kehidupan manusia yang berhubungan dengan perawatan alam, keharmonian, keindahan dan menguhubungkannya dengan kemasyarakatan, kebudayaan dan politik. Thoreau mencanangkan ide-ide seputar kewaspadaan sebagai sebuah keutamaan yang membuat seseorang untuk mampu mencapai pencerahan, pencerahan yang bisa dicapai melalui sikap hidup disiplin.

Menurut Rizka Pramadita, de Thoreau mengenai civil resistance to government, kesederhanaannya, serta kepeduliannya terhadap alam merupakan contoh tindakan yang bisa kita ambil untuk mewujudkan perdamaian serta menghentikan kekerasan. Individu sebagai warga negara bisa menggunakan identitas kewarganegaraannya dengan segala hak serta kewajibannya untuk berkontribusi menghentikan kekerasan struktural berupa kebijakan atau peraturan pemerintah yang sifatnya diskriminatif atau pro-kekerasan.

Itulah David Thoreau, kehidupan dan filosofinya yang mencerminkan kesederhanaan, kepedulian terhadap sejarah alam, pengetahuan mengenai ekologi dan cikal bakal environtmentalism. Esai terpopulernya, Civil Disobedience, mengenai resistensi individual yang tidak sependapat secara moral dengan kebijakan Negara, telah menginspirasi banyak tokoh besar seperti Mahatma Gandhi, Presiden John F. Kennedy, aktivis HAM Martin Luther King, Jr., Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat William O. Douglas, sastrawan Rusia Leo Tolstoy, Edward Abbey, Willa Cather, Marcel Proust, William Butler Yeats, Sinclair Lewis, Ernest Hemingway, E. B. White, dan Frank Lloyd Wright dan naturalis seperti John Burroughs, John Muir, E.O. Wilson, Edwin Way Teale, Joseph Wood Krutch , B.F Skinner, dan David Brower.

Menjelang akhir kehidupannya, sekitar tahun 1851, Thoreau mendalami sejarah alam dan tulisan-tulisan mengenai perjalanan atau ekspedisi. Thoreau sangat mengagumi tulisan Voyage of the Beagle yang ditulis oleh William Bartram dan Charles Darwin.

Dia mencatat secara detil keadaan alam di hutan sekitar tempat lahirnya di Concord. Thoreau kemudian menjadi ”land surveyor” dan terus menulis mengenai observasi terhadap kotanya dalam jurnal selama 24 tahun, dan membuahkan dokumen sepanjang dua juta kata. Thoreau lahir pada 12 July 1817 di Concord, Massachusetts. Thoreau meninggal pada tahun 1859 karena menderita TBC dan Bronkitis kronis.

 

Kutipan-Kutipan Menarik Henry David Thoreau

“Benih paling kecil dari kepercayaan masih lebih baik daripada buah paling besar dari kebahagiaan”

“Jika Anda menyambut siang dan malam dengan sukacita, Anda memiliki alasan untuk bahagia”

“Dunia ini adalah kanvas untuk melukis imajinasi kita”

“Jadilah Colombus untuk seluruh benua dan dunia di dalam dirimu, buka semua jalur baru, bukan untuk berdagang, tapi untuk pemikiran”

“Menurutku tidak ada sesuatu, tak juga kejahatan, yang layak disandingkan dengan puisi, filosofi dan hidup itu sendiri selain bisnis yang tiada henti”

“Orang yang pernah mendapati dirinya di suatu tempat yang menarik adalah ia yang tersesat”

“Bahasa persahabatan bukanlah “kata-kata” semata, tapi bahasa persahabatan adalah “penuh makna”

“Jika telah membangun istana yang menggantung di udara, upaya Anda itu tidak sia-sia, tinggal buat saja fondasi di bawahnya”

“Lepaskan masa lalu dan pergilah ke masa depan. pergilah dengan kepercayaan diri dalam meraih mimpi-mimpimu. Hidupkan kehidupan imajinasimu”

“Tiada pengobat cinta daripada lebih banyak mencintai”

(berbagai sumber)

Share:

Tinggalkan Balasan