Amartya Sen, Kelaparan, Kebebasan

1370
1
Share:

Ketenaran Amartya Sen juga terletak pada karyanya. Ia menulis tentang kelaparan yang terjadi di Bengal tahun 1943, bukan semata-mata karena tidak ada pangan, tapi karena adanya inflasi di Calcutta tahun 1942.

Sen tergugah oleh kelaparan dahsyat yang menewaskan hingga 100.000 orang di Bangladesh tahun 1974. Ia menentang bahwa kelaparan terjadi karena kelangkaan pangan. Karena ternyata kelaparan tidak ada hubungannya dengan panen, bahkan saat itu produksi justru tertinggi dibandingkan periode lainnya. Dan permasalahan ada pada kenaikan beras dunia yang mendongkrak harga beras lokal yang tak terjangkau oleh petani setempat.

Dalam sebuah tulisan Maria Yeni, Sen mengambil kesimpulan bahwa kelaparan bukan masalah cukup atau tidaknya bahan makanan, tetapi distribusi sumber daya. Distribusi sumber daya di negara demokratis terkait dengan sistem informasi, sehingga Sen percaya bahwa pers merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya mengatasi persoalan pembanguan.

Sen menulis banyak karya kritis mengenai wabah kelaparan tersebut. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengetengahkan wacana bahwa pembangunan dunia ketiga harusnya dipahami sebagai perluasan kemampuan manusia, atau dengan kata lain sebagai proses peningkatan manusia bukan semata-mata peningkatan pendapatan per kapita nasional, sehingga perlu kebijakan yang lain.

Sen, begitu peduli terhadap kaum papa, juga membongkar masalah identitas yang menjadi pemicu konflik di India ketika terjadi wabah kelaparan, tetapi ia juga seorang yang penuh simpati dan memberikan perhatian pada segalanya, yang ada di dunia sekitarnya.

Tentang Kebebasan, Arif Susanto (Resensi Harian Kompas, 14 Okotber 2017), menjelaskan, terlepas dari kontribusi Sen terhadap kemajuan sosial, Sen memandang kebebasan sebagai sesuatu yang esensial bagi martabat manusia. Selain menjadi tujuan pada dirinya, kebebasan adalah juga sarana mewujudkan tujuan-tujuan. Faktanya, dengan tingkat kebebasan lebih baik, pemerintahan-pemerintahan demokratis lebih mampu mewujudkan kesejahteraan publik.

Sen, sebagaimana diterangkan Sunaryo dalam buku ‘Etika Berbasis Kebebasan’ (2017), yang diresensi oleh Arif, memahami kebebasan secara komprehensif dalam dua aspek prinsipil: proses (prosedural) dan kesempatan (substansial). Kebebasan dalam aspek proses ada dalam tiadanya paksaan untuk mengambil keputusan. Sementara dalam aspek kesempatan, Sen menekankan kemampuan orang untuk mewujudkan sesuatu yang dianggapnya bernilai; suatu kapabilitas.

Perdebatan tentang kebebasan telah menjadi salah satu pokok khusus dalam perjalanan intelektual Sen. Dalam karya-karya mutakhirnya, seperti Develop- mentas Freedom (1999), Rationality and Freedom (2002), dan The Idea of Justice (2009), Sen memberi tempat khusus pada diskursus kebebasan. Hal ini, sedemikian rupa, memberi jalan masuk bagi Sen untuk menyusun suatu gagasan tentang keadilan. ”Teori keadilan” John Rawls menjadi titik tolak penting proyek Sen untuk menghasilkan suatu alternatif atas pendekatan kontrak sosial.

Refleksi etis dalam segenap kajian Sen berakar bukan semata dari meja kerja dan ruang kuliah; keterpinggiran yang disaksikannya di berbagai tempat yang pernah ditinggalinya turut membentuk cara pandang Sen yang penuh empati. Keluasan pertimbangan dan kedalaman pandangan Sen mencerminkan perspektif pemikir yang tidak berjarak jauh dari obyek kajiannya.

Secara jeli, Sen menunjukkan bahwa ”kapabilitas untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap bernilai” merupakan tolok ukur kualitas kehidupan. Kapabilitas tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan lingkungan. Melihat kemiskinan sebagai deprivasi kapabilitas, tinjauan kesejahteraan Sen melampaui pandangan tradisional yang lebih berfokus pada capaian itu sendiri (hal 109).

Lebih lanjut, Sen mengintegrasikan kebebasan dalam teori pilihan sosial, yang menekankan prosedur dan gagal menghasilkan putusan kolektif memuaskan. Sen mengkritik diabaikannya prinsip partisipasi dan prinsip keberagaman kepentingan. Demikian pula pertimbangan aspek manfaat telah menafikan pentingnya kebebasan, yang memungkinkan diskusi rasional publik (halaman 172).

Bagi kita yang baru dua dekade terakhir menemukan kembali kebebasan prosedural, gagasan Sen tampak kontekstual demi perwujudan kebebasan substansial dan pengembangan kualitas penalaran publik atas pilihan-pilihan sosial. Meski demikian, butuh lebih banyak ilustrasi kebijakan sosial berbagai negara untuk membantu mendaratkan signifikansi gagasan etis Sen.

”Sumber kehidupan telah cukup tersedia di dunia, sehingga tak boleh ada seorang pun yang lapar…” (Amartya Sen dalam The Poverty and Famines, 1981)

Amartya Kumar Sen, adalah seorang ekonom terkenal dan juga seorang filsuf dari India. Ia lahir di Santiniketan, Bengal Barat, pada 3 November 1933. Ia pernah mendapat Nobel dalam bidang ekonomi atas karyanya dalam ekonomi kesejahteraan pada 1998 dan Bharat Ratna pada 1999.

Pada 2003 ia dianugerahi Lifetime Achievement Award oleh Kamar Dagang India. Ia juga menjadi salah satu elite Profesor Universitas di Universitas Harvard. Pendidikan yang didapatnya di India pertama-tama di sistem sekolah dari Universitas Visva-Bharati, Kolese Presidency, Kolkata, dan di Sekolah Ekonomi Delhi, kemudian melanjutkan ke Kolese Trinity, Cambridge, memperoleh gelar BA pada 1956.

Sen memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1959. Ia pernah mengajar ekonomi di Universitas Calcutta, Universitas Jadavpur, Delhi, Oxford, Sekolah Ekonomi London, Harvard, dan menjadi master dari kolese Trinity, Cambridge antara 1997 dan 2004. Pada Januari 2004 Sen kembali ke Harvard, dan mengajar hingga sekarang.

 

Share:

1 comment

Tinggalkan Balasan