Aku Bukan Pribumi Tapi Yahudi, Siapakah Aku?

1342
0
Share:

Halo para pembaca biografly.com yang budiman. Barangkali kalian terbiasa melihat penampilanku yang eksentrik, rambut putih jabrik, serta pakaian profesorku yang kumal. Hemm… semua itu hanyalah penampilan luarku saja.

Baiklah, aku lahir di Ulm, Wuttenberg pada tanggal 18 April 1879. Ayah dan ibuku bernama Hermann dan Pauline. Kami adalah Yahudi yang taat. Tapi kok malah saat kecil ibuku memasukkan aku di sekolah katolik, ada-ada saja ibuku itu. Ibu juga menganjurkanku untuk mendalami biola dan mendengarkan musik klasik karya Bro Bach dan Bro Mozart.

Masa pendidikanku di Munich sungguh sangat membosankan sehingga aku banyak membolos. Guru-gurunya mengajar terlalu kaku dan tidak pernah menerima pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan. Aku lebih baik berhenti dari sekolah itu, lalu aku memutuskan untuk mengikuti keluargaku pindah ke Italia.

Aku sadar pendidikan itu sangat penting, sehingga aku pergi belajar ke Swiss. Sekolah di sana sungguh menyenangkan, apalagi siswa-siswanya selalu dianjurkan untuk bertanya. Singkat cerita, aku memperoleh gelar Doktor di Universitas Zurich pada usia 26 tahun, keren nian.

Maaf bukan sombong, tapi kenyaataan karier akademisku memangsangat cemerlang. Aku diangkat sebagai Guru Besar Universitas Berlin, diangkat sebagai Direktur Lembaga Fisika “Kaisar Wilhelm” dan Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia. Di sana aku diberikan fasilitas yang sangat baik sehingga aku dapat mengembangkan bakatku secara optimal.

Aku menemukan Teori Relativitas yang kesohor itu sekaligus berhasil menggoyahkan pendapat kakek Newton mengenai Teori Gravitasi. Menurutku, gravitasi bukan disebabkan oleh tarik-menarik tetapi karena adanya distorsi distorsi ruang-waktu dari suatu benda langit, yang mempengaruhi gerakan benda langit lainnya. Anda mengerti? Kalau tidak mengerti kita lompati saja soal ini.

Saat itu pengaruh Hitler yang mulai meracuni hampir seluruh Jerman membuat diriku tidak betah, apalagi kebijakannya terhadap kaum Yahudi  yang sangat kejam meyebabkan aku memutuskan harus pindah ke Amerika Serikat.

Ternyata banyak teman-teman profesor Yahudi yang juga kabur keluar negeri akibat tidak tahan dengan kekejaman Hitler. Dari mereka aku diberitahu bahwa Jerman hampir menemukan cara untuk menciptakan bom atom. Hal ini sungguh berbahaya sebab akan memulai kehancuran dunia apabila Jerman berhasil mendapatkannya.

Aku pun segera menulis surat kepada Presiden Amerika, Roosevelt, untuk memberikan peringatan akan ancaman ini. Roosevelt juga segera menyadari bahaya ini dan mendorong dilakukannya proyek penelitian energi atom yang dinama­kan “Project Manhattan”. Nantinya, proyek ini ternyata memang berhasil menciptakan bom atom yang kemudian dijatuhkan di Jepang pada akhir Perang Dunia II.

Namun, proyek ini lalu membuat diriku prihatin. Manusia telah berhasil menciptakan senjata yang daya hancurnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Jika manusia nanti mampu membuatnya dalam jumlah yang banyak dan terjadi sesuatu, dunia bisa musnah.

Aku pun mulai memperjuangkan agar pengembangan senjata ini bisa dibatasi. Untuk mengurangi resiko penemuanku disalahgunakan oleh orang-orang intelek yang tidak bermoral, banyak hasil penemuanku mengenai atom dan nuklir tidak aku publikasikan dan tidak jarang kumusnahkan.

Sebab akibat yang ditimbulkan oleh bom atom di Hiroshima dan Nagasaki sangat mengerikan. Untuk itu aku hanya berharap penemuanku yang ada ini hanya berguna untuk kelangsungan perdamaian dunia. O ya, Tahukah Anda, sampai saat ini setiap ada persoalan yang tak dapat dipecahkan orang selalu menyebut namaku. Mereka bilang, “You Are No Einsten”. Hal ini sudah cukup merefleksikan penghormatan kalian terhadap kecerdasan diriku…hahaha. Aku telah mengganti statusku menjadi warga negara AS sampai akhir hayatku 18 April 1955. (Diolah dari tulisan Adri Arlan)

“..Einstein akhirnya tidak saja dikenal sebagai salah seorang paling genius di dunia, tetapi juga sebagai orang yang gigih menyokong gerakan perdamaian..” (wikipedia quotes)

“…Imagination is more important than knowledge because knowledge is limited..” Albert Einstein

Share:

Tinggalkan Balasan